UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Misa Leva Membuka Musim Berburu Ikan Paus di Lamalera

Mei 16, 2019

Misa Leva Membuka Musim Berburu Ikan Paus di Lamalera

Sebuah perahu yang dipakai untuk berburu ikan paus mulai berlayar setelah diberkati dalam Misa Leva, 1 Mei 2019. Ini menjadi simbol dimulainya musim berburu ikan paus bagi masyarakat Lamalera, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Foto: Handrianus Atagoran/ucanews.com)

Para nelayan, ibu-ibu dan anak-anak duduk di atas pasir, sebagian bersandar di perahu-perahu yang diparkir di bibir pantai. Di antara mereka, ada yang memegang rosario sambil mendaraskan doa.

1 Mei, menjadi puncak ritual tahunan yang berlangsung selama tiga hari bagi warga di Lamalera, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berlangsung, untuk membuka musim berburu ikan paus yang dilakukan hingga Oktober.

Antonius Boli Azimu, seorang tokoh adat mengatakan ritual adat yang dipadu dengan upacara keagamaan Katolik itu mencapai puncaknya pada Misa Leva.

“Tradisi ini sudah dilakukan oleh nenek moyang kami,” katanya kepada ucanews.com.

Misa Leva, kata dia, menjadi momentum memohon perlindungan Tuhan dan hasil melimpah selama musim melaut.

Para imam berdoa memberkati Laus Sawu – tempat warga Lamalera berburu paus – saat Misa Leva. (Foto: Handrianus Atagoran/ucanews.com)

Lamalera berhadapan langsung dengan Laut Sawu, salah satu jalur migrasi ikan paus dari belahan bumi utara ke bumi selatan yang terjadi sepanjang Mei-Oktober.

Mereka memburu paus dengan kapal kecil yang memuat 10-20 orang, di mana mereka melengkapi diri dengan tombak. 

Mereka menghindari penggunaan jala, cara berburu yang diadaptasi secara turun-temurun untuk menghindari dampak kerusakan biota laut.

Emanuel Dile, 35, seorang nelayan menjelaskan cara mereka berburu: ketika melihat ikan paus yang menjadi sasaran, juru tombak terlatih yang disebut lamafa akan melompat dan menancapkan tombak. 

Bila ikan paus mulai terombang-ambing lalu mengeluarkan darah, mereka akan menancapkan lebih banyak tombak, yang diakhiri dengan tusukan pisau ke bagian tulang belakang oleh salah satu orang yang terjun ke dalam laut.

Melaut dengan pola tradisional, tanpa ada sistem keselamatan yang memadai, membuat kecelakaan juga terjadi.

Tahun lalu, satu lamafa hilang saat sedang melaut dan tidak ditemukan.

Pada malam sebelum Misa Leva, para “pahlawan itu” tu didoakan secara khusus, di mana warga Lamalera berdiri di pinggir pantai dan melepaskan lampion berisi lilin dan lampu pelita yang menggunakan minyak bakar ikan paus, lalu dihanyutkan ke laut lepas.

Warga Lamalera yang berjumlah sekitar 2.000 jiwa menanggkap ikan paus untuk kebutuhan ekonomi. 

Kondisi alam yang diselimuti batu karang dengan curah hujan yang sangat rendah, membuat mereka hanya mengandalkan laut sebagai sumber nafkah.

Hasil tangkapan akan dibagi ke sesama anggota kelompok, juga diberikan gratis kepada para janda dan yatim piatu, kelompok yang mendapat perhatian khusus dalam kehidupan warga Lamalera.

Sebagian lagi dibarter dengan hasil pertanian di pasar barter Wulandoni.

Dengan rosario di tangan, ibu-ibu Lamalera ikut dalam Misa Leva (Foto: Handrianus Atagoran/ucanews.com)

Kontroversi

Pada tahun 1986, Komisi Internasional Penangkapan Ikan Paus mengizinkan masyarakat tradisional untuk melanjutkan perburuan paus sebagai “bagian integral dari budaya mereka”.

Namun, selama dua dekade terakhir beberapa kelompok lingkungan telah menyatakan keprihatinan atas perburuan paus  di Lamalera.

Kekuatiran juga mencuat, di tengah hadirnya motor laut yang menggeser penggunaan kapal tradisional, sehingga penangkapan paus tidak lagi sekedar untuk kebutuhan ekonomi sehari-hari, tetapi juga untuk bisnis serta tangkapan tidak lagi terbatas pada ikan paus, tetapi juga ikan jenis lain, termasuk manta yang dilarang oleh hukum di Indonesia.

Tahun 2010, kampanye atas nama konservasi pernah digelar oleh organisasi lingkungan hidup.

Tahun 2016, polisi, atas laporan sejumlah organisasi lingkungan, juga melakukan penangkapan terhadap Gregorius Dengekae Krova, 61, nelayan Lamalera setelah mengumpulkan sirip manta untuk penjualan, sebuah kasus yang mendapat pemberitaan luas.

Namun, masyarakat Lamalera menghadapi berbagai upaya protes itu dengan suara tegas, menuding pelarangan hanya akan membunuh masa depan mereka dan proses hukum terhadap Krova dianggap sebagai kriminalisasi.

Mereka mengusir para aktivis, sementara Krova kemudian dilepaskan setelah mereka menggelar aksi demonstransi di kantor polisi.

Emanuel menyatakan, mereka sesungguhnya tidak sembarangan menangkap paus. 

“Kami hanya menangkap paus jenis sperma,” katanya menyebut spesies yang tidak termasuk kategori terancam punah.

“Kami juga tidak akan menangkap paus yang diketahui sedang hamil,” katanya.

Ia menambahkan, mereka juga tidak menangkap secara masif, tetapi hanya berkisar 10 ekor dalam setahun.

Pemerintah menyatakan menghormati tradisi masyarakat itu dan diakui sebagai warisan budaya tak benda.

Beberapa tahun terakhir, pemerintah juga gencar mempromosikannya sebagai salah satu objek wisata.

Agus Dermawan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan, mereka menghormati tradisi itu, namun menyatakan bahwa keasliannya harus dijaga dengan baik.

Lampion berisi lilin dan lampu pelita yang menggunakan minyak ikan paus dilepaskan ke Laut Sawu pada malam sebelum Misa Leva, sebagai bentuk penghormatan bagi nelayan yang meninggal ketika berburu ikan paus. (Foto: Handrianus Atagoran/ucanews.com)

Pater Piter Dile Bataona SVD, imam asli Lamalera yang juga Kordinator Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) SVD di Timor mengatakan, ritual keagamaan menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali petuah leluhur.

Ia mengatakan, secara tradisional, masyarakat Lamalera memiliki aturan-aturan yang mesti ditaati, termasuk terkait batas wilayah tangkapan.

“Jadi, tidak sesuka hati mereka,” kata Pater Piter kepada ucanews.com usai memimpin Misa Leva.

Ia menjelaskan, sejak Gereja Katolik masuk Lamalera pada 1886 yang dibawa oleh misionaris dari Eropa, tradisi itu sudah berjalan. 

“Mereka tidak menghapus (tradisi ini), tetapi mencari apa yang bisa dipadukan dengan konteks kehidupan gereja,” katanya.

Ia menjelaskan, Gereja menghormati budaya, sebagamana digariskan Konsili Vatikan II bahwa “iman harus berakar di atas tumpuan budaya dan tradisi.”

Dalam konteks demikian, kata dia, Gereja menjaga tradisi dan budaya penangkapan ikan paus ini ini, yang menjadi landasan orang Lamalera menumbuhkan imannya.

Handrianus Atagoran, Lamalera dan Ryan Dagur, Jakarta

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi