UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Awam Katolik Menginisiasi Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok

Mei 17, 2019

Awam Katolik Menginisiasi Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok

Azas Tigor Nainggolan (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Kala itu, September 1991, warga miskin yang tinggal di pemukiman kumuh di bantaran Sungai Cipinang di Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, terancam digusur karena pemerintah setempat akan melakukan pembersihan sungai untuk mengantisipasi bencana banjir.

Dikenal sebagai Kampung Penas Tanggul, pemukiman kumuh tersebut sebelumnya merupakan daerah rawa. Selama musim hujan, banjir selalu menggenangi kampung yang telah dihuni secara ilegal sejak 1969 oleh orang-orang yang kurang mampu seperti pedagang keliling, buruh bangunan dan pemulung.

Saat itulah Azas Tigor Nainggolan, seorang umat Paroki St. Yoseph di Matraman, Jakarta Timur, bertemu warga miskin di kampung itu untuk pertama kalinya.

“Waktu itu mau digusur. Saya jadi lawyer mereka,” katanya.

Hanya ada satu hal di benaknya.

“Saya berpikir, cara apa supaya mereka bertahan dan semakin berkembang lagi, semakin bagus kampung dan warganya,” lanjutnya.

Beberapa bulan kemudian, ia mengajak enam warga kampung itu untuk mengunjungi Kampung Code di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kampung yang dihuni oleh orang-orang yang kurang mampu ini terletak di bantaran Sungai Code dan telah diubah oleh mendiang Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya Pr menjadi sebuah pemukiman yang elegan dengan atap dan dinding rumah dicat dengan cat warna-warni.

Memang perubahan dilakukan oleh warga Kampung Penas Tanggul pasca-kunjungan tersebut. Tetapi mereka tetap menghadapi ancaman penggusuran.

Tigor pun berpikir lebih keras lagi. Hingga suatu hari, ketika ia tengah dalam perjalanan menuju sebuah kota dengan mengendarai pesawat terbang, ia membaca sebuah artikel majalah tentang Kampung Warna-Warni di Desa Jodipan, Kota Malang, Propinsi Jawa Timur. Kampung yang terletak di bantaran Sungai Brantas ini dulu pernah dianggap sebagai wilayah kumuh dan kemudian menjadi pemukiman dengan atap dan dinding rumah berwarna-warni.

“Saya sobek halaman berisi artikel itu. Sekembali ke Jakarta, saya bawa ke rapat dengan teman-teman FAKTA. Saya usul membuat kampung warna-warni di Penas Tanggul supaya lebih aman dan bagus. Teman-teman setuju dan mendukung,” kata pendiri dan ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) yang didirikan tahun 2000 itu.

Pada Januari 2017, bapak dari dua anak laki-laki itu mengadakan sebuah pertemuan dengan warga Kampung Penas Tanggul dan kemudian mengajak enam warga sekali lagi ke Kampung Code dan sebuah pemukiman bebas asap rokok di propinsi tersebut untuk melakukan analisa sosial.

Langkah ini membuahkan hasil.

Dua bulan kemudian, warga Kampung Penas Tanggul mulai mengubah pemukiman mereka menjadi Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok dengan mengecat dinding rumah mereka dengan cat warna-warni dan memberlakukan larangan merokok di kampung tersebut.

“Kampung Code memang kampung warna-warni pertama di Indonesia yang diinisiasi oleh almarhum Romo Mangunwijaya. … Tapi kalau Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok yang pertama di Indonesia adalah Kampung Penas Tanggul di Jakarta Timur,” klaimnya.

“Saya dan teman-teman mau menunjukkan bahwa orang-orang miskin jangan selalu distigma, mendapat cap negatif seperti kriminal, kumuh, kotor, bau, berantakan. Kami mau menunjukkan bahwa menata kampung miskin tidak harus menggusur. Romo Mangunwijaya sudah membuktikannya,” katanya.

Inisiatifnya mendapat apresiasi baik dari pejabat pemerintah seperti mantan Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah Indonesia Erna Witoelar maupun Komisi Nasional Pengendalian Tembakau. Komisi ini memberi penghargaan kepada Kampung Penas Tanggul pada 2018.

Kampung Warna-Warni Penas Tanggul kini dihuni oleh 144 KK atau 592 jiwa, semuanya umat Islam. Dan uniknya, kampung ini menarik perhatian banyak orang, bahkan banyak warga asing berkunjung ke sana.

Larangan Merokok

Menurut Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, konsumsi tembakau di Indonesia telah mencapai angka yang memprihatinkan. Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India. Lebih buruk lagi, 70 persen dari perokok aktif di Indonesia adalah orang miskin.

Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 60 juta perokok aktif pada 2017.

“Perokok aktif ini biasanya (mengonsumsi) 2-3 bungkus (rokok) per hari,” kata Tigor, juga koordinator Bidang Hukum dan HAM Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Berkat larangan merokok tersebut, banyak warga Kampung Penas Tanggul yang berhenti merokok termasuk Joko Sundoko yang sudah tinggal di kampung itu selama sekitar 25 tahun. Ia menjadi perokok aktif sejak keas 3 SD dan mampu menghabiskan lima bungkus rokok per hari.

“Seorang perokok aktif seperti saya harus punya niat untuk berhenti (merokok). Pasti berat,” kata bapak dari empat anak laki-laki itu.

“Setelah berhenti merokok, saya bisa gunakan uang yang biasa saya pakai untuk membeli rokok untuk mengajak keluarga – istri dan anak-anak – jalan-jalan saat akhir pekan untuk refreshing. Selain itu hidup menjadi lebih bahagia dan sehat,” lanjut pria berusia 40 tahun yang bekerja sebagai satpam itu.

Menjalani kehidupan yang sehat juga sungguh bermanfaat bagi Suryo Sujono, salah satu warga tertua di Kampung Penas Tanggul. Ia mulai merokok sejak ia masih muda. Ia berhenti merokok tahun lalu setelah menjalani operasi jantung.

“Saya sendiri sekarang merasakan manfaat setelah berhenti merokok. Tidak merokok itu jauh lebih bagus untuk kesehatan. Dulu saya sering sesak nafas dan batuk. Sekarang tidak lagi. Sekarang badan saya terasa lebih segar,” kata pria Muslim berusia 66 tahun itu. 

Inisiator yang Luar Biasa

Bagi Sumiati, mantan ketua RT di Kampung Penas Tanggul, apa yang dilakukan Tigor merupakan hal yang luar biasa.

“Saya melihat beliau luar biasa. Saya kenal beliau sejak 1990-an. Saat itu warga mau digusur. Beliau selalu mendampingi kami dengan memberikan advokasi supaya kami tidak digusur. Beliau tidak hanya mendampingi warga kampung sini tapi juga warga miskin lain di Jakarta yang terancam penggusuran,” katanya.

Iman Katolik memang telah menggerakkan hati Tigor untuk menginisiasi Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok.

“Kami mau selalu berusaha menghadirkan Gereja di tengah-tengah masyarakat. Itu concern utama. Kami juga ingin membagikan kebahagiaan yang sudah kami terima kepada masyarakat. Itu wujud rasa syukur,” kata Tigor, kini berusia 54 tahun.

“Guru kita sudah menunjukkan itu, Ia memberikan diri-Nya dulu. Jadi tidak muluk jika saya menyampaikan itu karena memang itu pilihan. Saya ini konkret dan saya bangga melakukannya. Saya tidak sekedar memikirkan charity. Menjadi Katolik itu harus advokatif, membela, melakukan perubahan,” lanjutnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi