UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus Fransiskus: Yesus Selalu Siap Membebaskan Orang dari Kuasa Jahat

Mei 20, 2019

Paus Fransiskus: Yesus Selalu Siap Membebaskan Orang dari Kuasa Jahat

Paus Fransiskus saat Misa di Basilika St Petrus, Vatikan, 12 Mei 2019. (Foto oleh Filippo Monteforte/AFP)

Umat Kristen mengenal paradoks kehidupan bahwa ada begitu banyak kejahatan dan godaan di dunia, tetapi bahwa Allah juga selalu hadir, siap membantu dan memberi kekuatan kepada manusia untuk bertahan, kata Paus Fransiskus.

Setiap orang telah diberikan kehidupan, impian akan cinta dan kebaikan, tetapi kemudian kehidupan itu terus-menerus diekspos pada setan, yang ingin merongrong dirinya dan orang-orang di sekitarnya, sedemikian rupa sehingga manusia dapat tergoda untuk putus asa, kata paus selama audiensi pekan lalu.

“Faktanya, doa orang Kristen tidak menutup matanya dari kenyataan. Orang-orang Kristen tahu bahwa kehidupan bisa sangat sulit, menyakitkan, atau tidak adil dan mereka berdoa agar Tuhan – yang lebih besar dan lebih kuat daripada kejahatan apa pun – akan memberikan kekuatan untuk terus maju dan akan membebaskan kita dari kejahatan,” kata paus.

Melanjutkan katekese tentang Doa Bapa Kami, paus merenungkan bagian doa “Bebaskanlah kami dari yang jahat.”

Yesus mengajar orang-orang untuk selalu berbalik kepada Tuhan, terutama ketika mereka merasakan kehadiran setan yang mengancam, yang dikatakan Santo Petrus seperti singa yang marah, yang selalu mengincar dan siap untuk menerkam kita, kata paus.

Baris terakhir Doa Bapa Kami yang menyerukan kepada Tuhan untuk “tidak meninggalkan kita dan membebaskan kita,” adalah permohonan bagi semua yang menemukan diri mereka dalam kesulitan: dalam situasi dosa, penganiayaan, keputusasaan atau bahkan kematian.

Kehadiran setan yang misterius adalah “kepastian mutlak” dalam kehidupan manusia, karena iblis tidak menyelamatkan siapa pun ketika ia bergerak diam-diam seperti ular, membawa racun.

“Bebaskanlah kami dari yang jahat adalah seruan melawan kejahatan yang dapat memanifestasikan dirinya dalam banyak hal, seperti perbudakan, penderitaan orang tak berdosa, eksploitasi, dukacita dan tangisan anak-anak tak berdosa,” kata paus.

“Orang-orang Kristen tahu betapa mendominasinya kekuatan kejahatan dan pada saat yang sama, mereka mengalami betapa Yesus, yang tidak pernah menyerah pada godaannya, ada di pihak kita dan datang untuk membantu kita.”

Paus mengatakan Doa Bapa Kami mengingatkan orang-orang bahwa hadiah terbaik yang diterima manusia dari Yesus adalah kehadiran dan kedamaianNya yang terus menerus, yang lebih kuat daripada kekuatan jahat.

“Ini adalah harapan kita, kekuatan yang Yesus berikan kepada kita ada di sini, dia ada di sini, di tengah-tengah kita, yang memberi orang kekuatan untuk bertahan,” katanya.

Berbicara di hadapan para peziarah yang berbahasa Polandia di akhir audiensi, Paus Fransiskus mengenang pesta Bunda Maria dari Fatima pada 13 Mei dan bagaimana hari itu bertepatan dengan upaya pembunuhan terhadap Paus St. Yohanes Paulus II, yang ditembak di Lapangan Santo Petrus pada 1981.

Paus mengingatkan orang-orang bahwa Paus St. Yohanes Paulus percaya bahwa Bunda Maria menyelamatkan hidupnya dan meminta orang-orang berdoa memohon perlindungannya juga.

“Mari kita juga mengingat kata-kata Bunda Maria: ‘Aku datang untuk memperingatkan umat manusia agar mereka mengubah hidup mereka dan tidak membuat Tuhan sedih dengan dosa-dosa besar. Agar orang berdoa rosario dan melakukan penebusan atas dosa-dosa mereka.’ Mari kita dengarkan peringatan ini, meminta Maria sebagai ibu untuk melindungi kita, memohon karunia pertobatan, semangat penebusan dosa dan kedamaian bagi seluruh dunia,” kata paus.

Ketika tiba di Lapangan Santo Petrus, Paus Fransiskus mengundang delapan pengungsi muda dari berbagai negara untuk ikut bersamanya dalam mobil kepausan.

Alessandro Gisotti, direktur sementara kantor pers Vatikan, mengatakan kepada wartawan bahwa para putra dan putri dari Suriah, Nigeria, Kongo dan negara-negara lain telah datang ke Italia dari Libya melalui upaya jalur kemanusiaan.

Mereka tinggal bersama keluarga mereka di sebuah pusat di selatan Roma, kata Gisotti.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi