UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam Yesuit di India Ajukan Banding Kasus Pemerkosaan

Mei 21, 2019

Imam Yesuit di India Ajukan Banding Kasus Pemerkosaan

Anak-anak sekolah dan warga desa menghadiri pertemuan menyusul penculikan dengan ancaman senjata dan pemerkosaan massal terhadap lima wanita aktivis anti-perdagangan di sebuah desa yang terletak sekitar 90 kilometer sebelah selatan Ranchi, ibukota Negara Bagian Jharkhand pada 22 Juni 2018. Seorang imam Yesuit menjadi salah satu terdakwa dalam kasus pemerkosaan tersebut dan ia akan mengajukan banding atas dakwaan tersebut. (Foto: AFP)

Seorang imam Yesuit berencana mengajukan banding atas dakwaan dan hukuman penjara seumur hidup terkait kasus pemerkosaan massal yang terjadi di Negara Bagian Jharkhand di India bagian timur.

Pada 17 Mei, Hakim Rajesh Kumar dari Pengadilan Negeri Khuti menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Romo Alphonse Aind dan lima orang lainnya karena terbukti bersalah melakukan pemerkosaan terhadap lima pekerja sosial perempuan pada 19 Juni tahun lalu.

“Kami sungguh percaya kepada hakim,” kata Romo Anand David Xalxo, humas Keuskupan Agung Ranchi, kepadaucanews.com sambil menggarisbawahi keputusan imam itu untuk mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi untuk menentang dakwaan dan hukuman tersebut.

Romo Aind didakwa melakukan konspirasi dan tidak melaporkan kejahatan yang diduga diketahuinya itu.

Tetapi Romo Xalxo mengatakan imam Yesuit yang kini berada di dalam penjara itu telah “dijebak” demi kepentingan politik.

“Kami bersama Romo Aind dan berharap ia akan dibebaskan dari segala tuduhan yang dituduhkan kepadanya,” katanya.

Romo Xavier Soreng SJ, seorang pekerja sosial yang tinggal di Ranchi – ibukota negara bagian itu, mengatakan umat Kristen khususnya para imam dan pendeta menjadi sasaran sejak Bharatija Janata Party (BJP) yang pro-Hindu mulai berkuasa sejak 2014.

Kasus yang tengah dihadapi Romo Aind merupakan bagian dari sebuah upaya untuk “menodai” citra Gereja dan mendorong masyarakat untuk tidak mendukung Gereja, katanya.

Romo Aind, mantan kepala Sekolah Menengah Pertama Memorial Stockmann yang dikelola Serikat Yesus di Desa Kochang, Keuskupan Khunti, ditangkap pada 22 Juni tahun lalu setelah ada laporan terkait dugaan kasus pemerkosaan tersebut.

Pengadilan Tinggi Jharkhand membebaskan imam itu pada 15 Maret.

Ia ditangkap kembali segera setelah didakwa bersalah pada 17 Mei dan langsung dibawa ke sebuah penjara di Ranchi, kata Romo Soreng.

Romo Aind secara konsisten membantah semua tuduhan yang dituduhkan kepadanya termasuk soal konspirasi, penculikan, penahanan yang tidak benar dan tidak melaporkan sebuah kejahatan.

Delapan orang dituduh terlibat dalam kasus itu. Enam orang di antaranya ditangkap, satu orang lagi diduga melarikan diri. Sementara itu, seorang lainnya masih remaja dan kasusnya telah diserahkan ke pengadilan anak.

Enam pria terbukti bersalah melakukan penculikan dan pemerkosaan terhadap lima wanita muda yang tengah menampilkan sebuah drama di auditorium sekolah untuk menciptakan kesadaran di kalangan warga suku tentang perdagangan perempuan dan anak.

Dalam pernyataannya saat persidangan, salah seorang terdakwa, Baji Samad, mengatakan ia mengenal baik Romo Aind. Ia juga mengatakan jika imam itu keberatan, mereka tidak akan menculik para wanita muda itu dari auditorium.

Ia mengatakan kepada polisi dan saat persidangan bahwa ia membebaskan dua biarawati yang tengah bekerja bersama para wanita muda yang diculik itu seturut perintah imam tersebut.

Berbagai kelompok Gereja cukup lama memberi dukungan kepada warga suku di negara bagian itu untuk menentang berbagai kebijakan pemerintah. Menurut para tokoh warga suku, berbagai kebijakan pemerintah bertujuan untuk mengambilalih lahan dan sumber daya mereka atas nama proyek pembangunan.

Polisi mengatakan drama yang ditampilkan oleh para wanita muda itu memicu amarah para pelaku kejahatan karena drama tersebut mengungkap berbagai sentimen menentang gerakan Pathalgadi yang digambarkan sebagai sebuah pemberontakan melawan sebagian kebijakan negara bagian.

Gerakan itu menegasken otonomi warga suku atas berbagai desa seperti yang tercantum dalam konstitusi India.

Para tokoh Kristen mengatakan kasus pemerkosaan itu merupakan bagian dari strategi pro-Hindu untuk menghalangi masyarakat untuk memberikan dukungan kepada Gereja dan berbagai kelompok Kristen.

Lebih dari sejuta dari 32 juta jumlah penduduk di Negara Bagian Jharkhand beragama Kristen, hampir semuanya warga suku. Di Distrik Khunti, 25 persen dari 532.000 penduduk diperkirakan beragama Kristen.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi