UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Misionaris Diminta ‘Mengakar’ Pada Kebudayaan Kamboja

Mei 22, 2019

Misionaris Diminta ‘Mengakar’ Pada Kebudayaan Kamboja

Sekitar 2.000 umat Katolik menghadiri peringatan para korban Khmer Merah pada 20 Mei. Peringatan tersebut diadakan di Tang Kok, Propinsi Kompok Thom, sekitar 100 kilometer dari Phnom Penh, ibukota Kamboja. (Foto: kagna Keo)

Para misionaris Katolik di Kamboja diminta untuk “mengakar” pada kebudayaan Kamboja dan tidak membawa kebudayaan mereka sendiri kepada komunitas yang dilayani mereka.

Imbauan tersebut disampaikan oleh Vikaris Apostolik Phnom Penh Uskup Olivier Schmitthaeusier pada peringatan para korban Khmer Merah pada 20 Mei.

“Marilah kita menjadi pelayan-pelayan seperti Yesus dan meneladani-Nya dengan sepenuh hati kita,” katanya dalam homili.

“Marilah kita mengakar pada tradisi kita, kebudayaan kita, visi duniawi pribadi kita supaya menghasilkan buah dari negeri ini dengan penampilan baru, relasi erat dengan negeri yang subur yang membuat kita terlahir kembali bersama bangsa ini yang menjadi bangsa kita,” lanjutnya.

Peringatan yang dihadiri sekitar 2.000 orang itu diselenggarakan di Tang Kok, Propinsi Kompong Thom, sekitar 100 kilometer dari Phnom Penh.

Uskup Schmitthaeusler juga mendesak umat Katolik Kamboja, khususnya orang muda, untuk semakin terlibat dalam berbagai kegiatan Gereja “untuk mewartakan Kabar Baik sebagai sebuah misi.”

“Orang muda, ekspresikan semangat, antusiasme, impian dan pengharapan kalian dalam komunitas kita,” katanya.

“Di sinilah tempat lahir kalian, tunjukkan semangat kalian dan kembalilah ke komunitas kalian dengan penuh kegembiraan untuk melayani dengan lebih baik lagi,” lanjutnya.

Ia juga mengingatkan umat yang menghadiri peringatan tersebut bagaimana umat Katolik selama masa represi mengadakan Misa secara diam-diam dan mereka bersembunyi dari mata-mata Pol Pot.

Prelatus itu berbicara tentang “Tahun Nol” ketika segalanya dihancurkan, ketika masyarakat tidak memiliki kebebasan untuk berbicara, ketika tidak ada pendidikan, perayaan keagamaan, keluarga dan ketika segalanya menjadi milik negara.

Para pemimpin Gereja tewas, termasuk Uskup Joseph Chmar Salas, Mgr Pol Tep Im Sotha serta para imam dan biarawati.

Suster Srey Socheat dari Kongregasi Pecinta Salib mengatakan kepada umat yang menghadiri peringatan tersebut bahwa penting untuk mengingat para korban tewas selama “periode kegelapan” karena “mereka adalah model dan landasan kita untuk melanjutkan misi dalam Gereja.”

Eung Try, 76, mengatakan ia tidak akan melupakan apa yang dilaluinya selama genosida. Saat itu, 15 anggota keluarganya tewas.

Ia mengatakan ia telah mengampuni para pelaku. “Saya berdoa bagi keluarga saya dan orang-orang yang melakukan kejahatan ini karena saya percaya kepada tuhan,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi