UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja di Filipina Mengenang Biarawati Pembela Orang Miskin

Mei 27, 2019

Gereja di Filipina Mengenang Biarawati Pembela Orang Miskin

Suster Crescencia 'Cres' Lucero berbicara dengan ucanews.com saat peluncuran sebuah buku tentang darurat militer pada bulan Maret. (Foto: Andrea Punzalan / ucanews.com)

Gereja dan kelompok aktivis di Filipina memberikan penghormatan kepada seorang biarawati Fransiskanes yang menghabiskan hidupnya untuk membela hak asasi manusia, terutama bagi orang miskin.

Serangkaian pertemuan ekumenis untuk menghormati Suster Crescencia “Cres” Lucero, 77, yang meninggal di Indonesia pada 15 Mei, diadakan di Manila pekan ini.

“Sejarah hak asasi manusia di Filipina tidak akan pernah bisa ditulis tanpa nama Suster Cres,” kata Pastor Christian Buenafe dari Satuan Tugas untuk Para Tahanan di Filipina.

Pastor Buenafe dan Suster Lucero memimpin organisasi hak asasi manusia itu, yang berada di bawah naungan Asosiasi Para Pemimpin Tarekat Religius di Filipina, dari tahun 2009 hingga saat kematiannya.

Suster Cres menjadi pimpinan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Integritas Ciptaan asosiasi itu pada saat kematiannya.

“Ada hal-hal yang tidak bisa Anda negosiasikan dengannya, seperti terkait perdamaian, keadilan sosial, hak untuk hidup dan lingkungan,” kata Pastor Buenafe kepada ucanews.com.

Dia mengatakan bahwa bertentangan dengan saran dokternya “untuk beristirahat” biarawati itu terus “berkomitmen membangun gereja orang miskin.”

Menyusul peluncuran kampanye berdarah pemerintah Filipina terhadap narkoba di tahun 2016, Suster Lucero tetap terjaga sepanjang malam untuk memantau dan mengunjungi tempat-tempat di mana para pengguna narkoba diduga dibunuh.

Pastor Dexter Toledo, seorang Fransiskan, mengatakan, suster itu juga “secara efektif memadukan seruan untuk perdamaian dan perlindungan hak asasi manusia untuk memperjuangkan pelestarian lingkungan.”

“Dia tahu bahwa perdamaian adalah bagian integral dari hubungan kita dengan lingkungan, dan perdamaian tidak dapat dicapai tanpa melindungi hak-hak alam dan hak-hak masyarakat,” kata Pastor Toledo.

Dia mengatakan, Suster Lucero “dengan setia melakukan tugas sebagai seorang Fransiskanes sejati dan seorang Kristen sejati.”

Yolanda Esguerra dari Philippine-Misereor Partnership Inc. menggambarkan biarawati itu sebagai “ikon perdamaian dan pembela hak asasi manusia yang tak kenal lelah sejak tahun 1970-an.”

Pastor Oliver Castor CSsR, juru bicara Misionaris Pedesaan Filipina, mengatakan biarawati itu adalah “pelopor” dalam karya di bidang hak asasi manusia dan pembangunan perdamaian.

“Dia terus membakar obor dan mengorbankan dirinya bukan hanya untuk tujuan yang lebih tinggi tetapi untuk Tuhan,” katanya, menambahkan bahwa biarawati itu “membuka gerbang Gereja” kepada orang-orang yang membutuhkan perlindungan.

Pastor Castor mengatakan bahwa selama tahun-tahun darurat militer di tahun 1980-an, Suster Lucero adalah “salah seorang suster yang membuat kami aman dari fasisme negara dan memberi kami tempat yang aman.”

“[Dia] menggunakan kerudungnya untuk melayani orang miskin dan membela para korban pelanggaran hak asasi manusia selama tahun-tahun kelam itu hingga hari-hari terakhir didupnya,” kata imam itu.

Karen Tanada dari lembaga non-pemerintah Gaston Z. Ortigas Peace Institute mengatakan, Suster Lucero “selalu bisa dilihat” dalam mempromosikan perdamaian dan hak asasi manusia.

“Dia milik banyak organisasi karena dia ingin menghabiskan setiap kemungkinan jalan untuk membangun perdamaian lebih lanjut dan menjadikan negara ini tempat yang lebih baik bagi kita,” katanya.

Suster Benediktin Mary John Mananzan menggambarkan Suster Lucero sebagai “pembela hak asasi manusia yang tak kenal lelah, untuk masalah keadilan dan perdamaian.”

Dia mengatakan almarhum biarawati itu adalah “wanita tipe pendiam yang memiliki hati yang lembut untuk orang yang tertindas, tetapi sangat teguh dalam sikapnya melawan tirani.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi