UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Badan Amal Katolik Cina Beri Penghormatan kepada Jean Vanier

Mei 29, 2019

Badan Amal Katolik Cina Beri Penghormatan kepada Jean Vanier

Meng Weinuo (kedua dari kanan), pendiri Huiling, sebuah badan amal Cina, bertemu Jean Vanier, (tengah), pendiri L'Arche, di Prancis pada Mei 2013. (Foto: ucanews.com)

Sebuah badan amal Cina bernama Huiling yang mendukung orang-orang cacat mental memberikan penghormatan  kepada Jean Vanier bulan ini, seorang Katolik Kanada yang mengilhami pembentukan badan amal itu, menyusul wafatnya pada 7 Mei di Prancis pada usia 90 tahun.

Pendiri Huiling Meng Weinuo, seorang Katolik Cina, mengatakan Vanier baru-baru ini menderita masalah kesehatan.

“Dia keluar masuk rumah sakit beberapa kali tahun ini,” katanya. “Kami tahu itu hanya masalah waktu sebelum dia kembali ke Rumah Bapa.”

Badan amal itu mendapat dukungan dari Gereja Katolik. Meng mengelolanya  di Guangzhou, kota pelabuhan di selatan negara itu tahun 1990 bersama Pastor Cagnin Fernando, seorang anggota Institut Kepausan untuk Misi Asing (PIME).

Huiling mendapatkan reputasi sebagai LSM pertama yang melayani orang-orang cacat mental di Tiongkok selama tahun 1980-an. Sekarang lembaga itu memiliki 20 pusat pelayanan di negara itu.

Meng mengatakan bahwa dia terinspirasi oleh L’Arche, sebuah organisasi sukarela swasta internasional yang bekerja untuk mengembangkan rumah, program, dan jaringan pendukung bagi orang-orang dengan cacat mental.

Vanier, seorang Katolik yang lahir di Kanada, tapi kemudian bermigrasi ke Prancis, mendirikan L’Arche tahun 1964. Ia juga merupakan salah satu pendiri Faith and Light, organisasi serupa.

Meng bertemu Varnier di Prancis pada Mei 2013 ketika ia dan Pastor Fernando mengunjungi komunitas L’Arche di sana.

“Huiling selalu mengagumi L’Arche. Kami benar-benar ingin menjadi organisasi mitra,” katanya kepada lansia Kanada itu.

Varnier menyambut baik langkah tersebut, tapi dia telah mundur mengelola organisasi itu. Dia merujuknya ke kepala L’Arche International.

Enam bulan kemudian, dua agen menandatangani kesepakatan kemitraan. L’Arche setuju  memberikan pelatihan dan dukungan spiritual kepada Huiling.

Meng Weinuo (kiri berbaju oranye) dan Jean Vanier, (di depannya) menikmati santapan bersama di Prancis pada Mei 2013. (Foto: ucanews.com)

Banyak belajar

Pada hari-hari awal, Huiling didukung oleh Serikat Fu Hong, yang juga bertugas merawat orang-orang dengan cacat mental serius.

Serikat  ini didirikan oleh Pastor Giosue Bonzi, seorang anggota PIME yang mengajarkan pelajaran kepada Meng yang diperoleh dari pengalaman bekerja dengan L’Arche dan Faith and Light.

“Pastor Bonzi melakukan banyak hal untuk mempromosikan gerakan Faith and Light di Cina. Beberapa kegiatan kami terinspirasi oleh gerakan itu,” kata Meng.

Tahun 1995, Pastor Fernando tiba. Dia membantu meningkatkan fasilitas sanitasi di Huiling dan mengajar para staf tentang pentingnya menghormati martabat pribadi di lingkungannya.

“Awalnya kami tersinggung oleh beberapa komentarnya. Kami pikir dia hanya orang asing yang tidak mengerti cara kami,” kata Meng.

“Kemudian, dia menyarankan agar kami  menukar kantor pusat kami dengan pusat-pusat komunitas keluarga berukuran lebih kecil,” tambahnya.

“Dia juga memberi staf kami dengan pelatihan yang ‘berorientasi pada orang’. Setelah beberapa saat, saya mulai melihat kekuatan nilai-nilai dan praktik yang dianut oleh L’Arche.”

Pastor Fernando akhirnya bekerja dengan Huiling selama 22 tahun.

Meng mengatakan salah satu hadiah yang diberikan Varnier pada dunia adalah tulisannya. 

Banyak imam Katolik di Cina telah belajar pelajaran berharga tentang cara praktis menyampaikan belas kasih dengan membaca tentang visinya kepada L’Arche, tambahnya.

“Kontribusinya yang lain adalah bahwa dia menyambut dialog antaragama, selain membangun keluarga L’Arche,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi