UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tentara Pembantai Warga Rohingya Dibebaskan Lebih Awal

Mei 29, 2019

Tentara Pembantai Warga Rohingya Dibebaskan Lebih Awal

Tentara Myanmar melakukan formasi saat parade militer di Naypyidaw pada 27 Maret 2018 untuk memperingati ulangtahun Angkatan Bersenjata Myanmar ke-73. (Foto oleh Thet Aung/AFP)

Tujuh tentara Myanmar yang dipenjara karena membunuh 10 pria dewasa dan remaja Rohingya di Negara Bagian Rakhine telah dibebaskan lebih awal dari penjara.

Para prajurit itu dijatuhi hukuman 10 tahun penjara pada April 2018 karena peran mereka dalam pembantaian di desa Inn Dinn pada September 2017.

Tatmadaw (militer Myanmar) mengumumkan pada 18 Desember 2017 penemuan kuburan massal di dekat kuburan di Maungdaw selatan, sekitar 50 km utara ibu kota negara bagian Sittwe.

Tatmadaw pada saat itu mengatakan tidak bersalah terkait dengan pembunuhan tersebut, tetapi kemudian membuka penyelidikan setelah kantor berita Reuters mengungkapkan rincian keterlibatan militer dalam pembantaian tersebut.

Reuters melaporkan pada 27 Mei bahwa tentara itu dibebaskan November lalu. Laporan pembebasan lebih awal itu juga dikonfirmasi oleh dua pejabat penjara, dua mantan narapidana dan salah satu tentara yang terlibat.

Rekan-rekan tahanan mengatakan kepada Reuters bahwa ketika berada di dalam penjara Sittwe, tujuh orang terpidana menerima hak istimewa khusus seperti bir dan rokok.

Seorang juru bicara militer Myanmar tidak dapat mengkonfirmasi berita tentang pembebasan awal mereka. Dua wartawan Reuters yang mengungkap detail tentang pembantaian itu, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, menghabiskan 511 hari di balik jeruji besi karena mengungkap apa yang terjadi.

Matthew Smith, salah satu pendiri dan kepala eksekutif di Fortify Rights, mengatakan itu tidak masuk akal tetapi tidak mengejutkan bahwa para prajurit telah dibebaskan dari penjara.

Dia mengatakan Tatmadaw sepenuhnya tidak direformasi dan bertanggung jawab atas genosida.

“Dewan Keamanan PBB harus merujuk situasi itu ke Pengadilan Kriminal Internasional atau membuat pengadilan kriminal terpisah untuk menyelidiki dan menuntut spektrum penuh atas kejahatan kekejaman di Myanmar termasuk kejahatan di negara bagian Rakhine, Kachin dan Shan,” kata Smith kepada ucanews.com.

Phil Robertson, wakil direktur Asia di Human Rights Watch, mengatakan bahwa Tatmadaw telah melakukan upaya penutupan besar-besaran atas kejahatan terhadap Rohingya.

“Lebih dari segalanya, pembebasan awal tujuh prajurit ini mengungkapkan bahwa Jenderal Panglima Min Aung Hlaing dan Tatmadaw benar-benar tidak menganggap Rohingya sebagai manusia,” kata Robertson dalam sebuah pernyataan pada 27 Mei.

“[Militer] tidak pernah berkomitmen untuk melihat ada orang yang bertanggung jawab atas kejahatan mereka di Negara Bagian Rakhine. “

Dia mengatakan pembebasan para prajurit lebih awal menunjukkan mengapa pembentukan pengadilan militer Tatmadaw baru-baru ini untuk Negara Bagian Rakhine menjadi “lelucon buruk dan hanya roda penggerak lain dalam mesin rahasia Myanmar.”

Kyaw Min, ketua Partai Hak Asasi Manusia dan Demokrasi yang bermarkas di Yangon, yang memperjuangkan hak-hak Rohingya, mengatakan pemenjaraan tujuh tentara oleh Tatmadaw hanya sebuah formalitas.

“Semakin jelas bahwa Myanmar memiliki dua pemerintah – sipil dan militer – dan melalui tindakannya itu menunjukkan militer masih memiliki kekuatan besar di negara itu,” kata Kyaw Min kepada ucanews.com.

Lebih dari 700.000 Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh dari Negara Bagian Rakhine karena kekerasan berdarah oleh Tatmadaw yang dimulai pada Agustus 2017 menyusul serangan pada pos perbatasan oleh militan Rohingya.

Sebuah misi pencari fakta PBB menemukan bahwa Tatmadaw melakukan empat dari lima tindakan yang merupakan genosida terhadap Rohingya. Dikatakan bahwa kepala militer Min Aung Hlaing dan lima jenderal senior lainnya harus dituntut karena genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi