UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Rayakan Usia 50 Tahun, Keuskupan Terkecil di Korsel Cemas akan Masa Depan

Mei 30, 2019

Rayakan Usia 50 Tahun, Keuskupan Terkecil di Korsel Cemas akan Masa Depan

Upacara secara tradisional memperingati 50 tahun Keuskupan Andong, Korea Selatan digelar pada 26 Mei.

Ratusan umat ikut merayakan peringatan 50 tahun keuskupan terkecil di Korea Selatan pada 26 Mei. Namun, meski masih disokong oleh komunitas pedesaan yang kuat dengan 91 imam masih bertugas di Andong, tingkat kehadiran umat di gereja-gereja telah mencapai posisi terendah karena banyaknya kawanan yang telah lenyap.

“Andong telah banyak berubah dalam 50 tahun,” kenang pensiunan Uskup Andong Mgr René Dupont, MEP, yang awalnya dikirim ke sana pada tahun 1969 oleh Serikat Misionaris Asing Paris atau Paris Foreign Mission Society.

“Pernah mencapai 1,7 juta orang. Hari ini, hanya ada 51.909 dari mereka yang tersisa. Terjadi kekosongan yang banyak. Hal yang sangat bagus, percaya atau tidak!” tambahnya dengan senyum.

“Di antara mereka, tahu satu sama lain. Orang senang datang ke sini. Suasananya sangat hangat,” katanya.

Uskup Dupont mengenang tentang perjuangan untuk mengisi tujuh paroki yang kosong dengan bantuan beberapa imam ketika ia pertama kali tiba, sebelum jumlah umat Katolik meningkat tajam.

Pastor Gilles Reithinger, superior jenderal MEP, juga menghadiri acara hari Minggu di gimnasium dekat desa rakyat Andong, sebuah Situs Warisan Dunia Dunia yang diakui UNESCO, bersama dengan Mgr John Chrisostom Kwon Hyok-ju, uskup setempat.

Mereka bergabung dengan umat Katolik dari paroki-paroki setempat untuk menonton serangkaian video serta penampilan para aktor yang menyoroti sejarah bertahap keuskupan itu, sebelum pergi ke Katedral Andong untuk misa sore.

Pertunjukkan itu menunjukkan bagaimana orang Kristen pertama yang tiba di daerah itu adalah pengungsi karena korban penganiayaan. Banyak yang tinggal di pegunungan dan beberapa orang mati sebagai martir pada abad ke-19 sebelum penandatanganan perjanjian Perancis-Korea yang mengakui kebebasan beragama pada tahun 1886.

Evangelisasi menancapkan akarnya setelah Perang Korea 1950-1953, tetapi Protestan tetaplah yang terbanyak.

Upaya seperti itu selalu menargetkan komunitas petani, dan hal seperti ini saat ini menurun, demikian pula jumlah baptisan.

“Saat ini, banyak hal berubah. Ada sedikit panggilan, terutama di daerah pinggiran, di mana masih ada umat Kristiani yang hidup bertahun-tahun,” kata Pastor Carolo Charles Lee Yeong-gil, yang dulu menjadi pastor di Andong tetapi sekarang bertugas di di Le Mans, Prancis.

“Petani Katolik di Andong tetap sangat aktif, tetapi orang muda pergi ke kota untuk mencari pekerjaan atau untuk sekolah,” katanya.

“Andong adalah keuskupan yang kental dengan nuansa pedesaan dan sangat terpengaruh oleh evolusi ini.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi