UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Agung di India Desak ‘Cow Vigilante’ Ditindak Tegas

Mei 30, 2019

Uskup Agung di India Desak ‘Cow Vigilante’ Ditindak Tegas

Peziarah Hindu dari Madhya Pradesh memberi makan seekor sapi di Sangam, pertemuan sungai Gangga, Yamuna dan Saraswati, di Allahabad pada Juni 2010. Sapi adalah hewan yang dihormati di kalangan umat Hindu ortodoks. (Foto AFP)

Sebuah serangan baru oleh kelompok yang mengatasnamakan perlindungan terhadap sapi -atau disebut cow vigilante’ mendorong seorang uskup agung Katolik mendesak otoritas di India untuk mengambil tindakan tegas guna memastikan perdamaian di masyarakat multi-agama di negara tersebut.

Polisi di distrik Seoni di negara bagian tengah Madhya Pradesh menahan lima orang pada 25 Mei karena menyerang tiga orang termasuk seorang wanita yang diduga mengangkut 140 kilogram daging sapi.

Daging itu telah dikirim untuk verifikasi laboratorium.

Serangan terhadap ketiganya – seorang pria dan wanita Muslim dan seorang sopir beragama Hindu – terjadi pada 22 Mei. Penangkapan itu dilakukan menyusul kemarahan publik setelah sebuah video di media sosial menunjukkan sekelompok pria mengikat mereka ke sebuah pohon dan memukuli mereka.

Seorang korban terlihat dilepaskan dari ikatannya dan didorong ke tanah sebelum dipukul dengan tongkat. Para penyerang kemudian memaksanya untuk memukul wanita itu dengan sandal dan berteriak “Jai Shri Ram” (Salam Tuhan Ram).

Undang-undang negara bagian melarang penyembelihan dan konsumsi daging sapi, menjadikan perbuatan mereka sebagai kejahatan yang bisa dihukum.

Baik penyerang maupun korban berada dalam tahanan peradilan, kata polisi kepada media. Polisi menghapus video kekerasan tersebut dari media sosial untuk mengendalikan penyebarannya.

“Kebrutalan semacam ini tidak dapat diterima dalam masyarakat yang beradab,” kata Uskup Agung Bhopal Leo Cornelio kepada ucanews.com.

“Sudah saatnya pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang mengatasnamakan perlindungan sapi yang mengambil hukum ke tangan mereka.”

Madhya Pradesh dikuasai oleh partai Kongres, yang Desember lalu menggulingkan partai pro-Hindu, Partai Bharatiya Janata (BJP), yang telah menguasai negara bagian itu selama 15 tahun.

Kelompok-kelompok Hindu, yang memuja sapi sebagai dewa mereka, mendukung perlindungan sapi tetapi mulai melakukan kekerasan di seluruh negeri itu setelah BJP mengambil alih kekuasaan di New Delhi pada 2014.

Setidaknya 28 orang dihukum gantung antara 2010 dan 2017, dengan 97 persen kasus terjadi sejak 2014, menurut laporan yang telah dipublikasi.

Lima tahun terakhir telah terjadi beberapa insiden di mana kelompok ‘pemuja sapi’ menyerang orang yang dicurigai mengangkut sapi untuk disembelih atau membawa daging sapi.

Undang-undang telah diberlakukan di 24 dari 29 negara bagian India yang secara signifikan membatasi atau melarang penyembelihan ternak, yang secara ekonomi memarginalkan Muslim dan Dalit, banyak di antaranya bekerja di industri daging sapi atau kulit.

Tindakan terakhir oleh pemuja sapi itu menjadi tantangan bagi negara bagian, kata Uskup Agung Cornelio, dan mendesak pemerintah negara bagian untuk membawa para pelanggar hukum ke pengadilan untuk memastikan perdamaian komunal.

“Aksi teror yang dilakukan secara terbuka semacam ini akan mengarah pada perpecahan komunal dan pelanggaran hukum, dan tidak ada masyarakat yang beradab yang mampu melakukannya,” kata prelatus itu.

Dia menambahkan bahwa vigilantisme sapi sebenarnya telah menjadi serangan terhadap umat Islam.

Para pemimpin Muslim terkemuka seperti mantan menteri kepala wilayah Jammu dan Kashmir, Mehbooba Mufti, termasuk di antara politisi yang mengutuk insiden itu.

Mufti mengatakan dia ngeri melihat para ‘pemuja sapi’ menyiksa seorang Muslim yang tidak bersalah dengan impunitas seperti itu. Dia meminta kepala menteri Madhya Pradesh, Kamal Nath, untuk mengambil “tindakan cepat terhadap preman-preman ini.”

Pemimpin Kristen Prabhakar Tirkey mengatakan kemenangan telak terakhir BJP dalam pemilihan nasional telah menguatkan kelompok-kelompok Hindu garis keras.

“Kecuali jika para pemimpin puncak partai Hindu melakukan tindakan terhadap elemen-elemen seperti itu, kejadian seperti itu akan terus berlanjut,” katanya kepada ucanews.com.

Menyadari tantangan yang ditimbulkan oleh kelompok ‘pemuja sapi’ terhadap koeksistensi damai dari berbagai komunitas, Mahkamah Agung India pada Juli tahun lalu merekomendasikan parlemen untuk membuat rancangan undang-undang untuk mengantisipasi ancaman tersebut.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi