UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Ketua FABC Minta ‘Para Gembala’ di Asia Upayakan Perdamaian

Mei 31, 2019

Ketua FABC Minta ‘Para Gembala’ di Asia Upayakan Perdamaian

Kardinal Charles Maung Bo tersenyum saat mengunjungi sejumlah kardinal baru pada 14 Februari 2015 di Vatikan. Ia mengatakan Gereja Katolik harus menjadi pembawa damai. (Foto: Tiziana Fabi/AFP)

Ketua Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) menjabarkan peran para gembala dalam mewartakan perdamaian dan mempromosikan rekonsiliasi di tengah meningkatnya nasionalisme, ekstremisme agama dan terorisme.

Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon, kardinal pertama asal Myanmar yang menjabat sebagai ketua FABC sejak 1 Januari lalu, mengatakan “kita tidak bisa membiarkan diri kita dibelenggu oleh ketakutan dan ketidakberdayaan.”

“Inilah momen ketika para gembala menapaki Jalan Salib – tidak pernah kehilangan pengharapan akan hari esok yang lebih baik, bukan hanya demi umat kita tetapi juga orang-orang yang menjadi korban kejahatan,” katanya kepada anggota FABC di Bangkok pada 16 Mei.

Kardinal Bo menekankan bahwa tugas utama para gembala adalah mewartakan perdamaian, bukan balas dendam. “Gereja, menurut Fransiskus dari Asisi, harus menjadi pembawa damai, berdoa supaya “bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.”

Ia menyampaikan pernyataannya beberapa pekan setelah terjadi serangan bom bunuh diri pada Minggu Paskah di Sri Lanka yang menewaskan 253 orang dan mencederai lebih dari 400 orang.

Menurut Kardinal Bo, umat Kristen menghadapi empat ancaman yakni nasionalisme, terorisme, ekstremisme agama dan manipulasi kemarahan kolektif. 

Banyak negara di Asia merasa menjadi korban di kalangan komunitas mayoritas – “kompleksitas minoritas dari komunitas mayoritas,” katanya.

Di Myanmar, Sri Lanka dan India, beberapa kelompok yang merasa menjadi korban semakin banyak karena kelompok minoritas menjadi kambing hitam, lanjutnya.

Kardinal Bo mengatakan pembunuhan terhadap umat Kristen terkait dengan berbagai konflik di Timur Tengah dan meningkatnya identifikasi umat Kristen dengan kepentingan politik dan ekonomi Negara Barat.

“Dunia belum serius memperhatikan genosida yang dilakukan secara diam-diam terhadap umat Kristen,” kata kardinal berusia 70 tahun itu.

Ia memberi contoh kerusuhan berbasis agama di India, pembantaian umat Islam yang tidak berdosa saat sembahyang oleh seorang supremasis berkulit putih di Selandia Baru dan umat Islam yang menjadi pelaku bom bunuh diri yang menewaskan umat Kristen di Sri Lanka.

“Tuhan mengatakan kepada kita bahwa perbuatan semacam itu tidak boleh dilakukan atau tidak diterima oleh umat beragama. Perbuatan semacam itu harus dikecam kuat karena merendahkan kemampuan agama untuk mempengaruhi orang agar hidup seturut petunjuk Tuhan,” kata Kardinal Bo.

Ia mengatakan munculnya kekerasan agama di kalangan para biksu merupakan fenomena mengejutkan baik di Sri Lanka maupun Myanmar. Bahkan sejumlah kelompok Kristen pinggiran terlibat dalam ujaran kebencian dan pelecehan terhadap agama lain.

Terorisme Kemiskinan

Kardinal Bo prihatin dengan terorisme kemiskinan karena setiap hari 20.000 anak meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi. Sekitar 10 juta anak meninggal akibat kemiskinan setiap tahun.

Kemiskinan berdampak pada hampir 800 juta orang yang tidak memiliki makanan yang cukup dan tempat tinggal. Jutaan orang dijual dalam berbagai bentuk perbudakan moderen sebagai migran.

“Kemiskinan tidak punya agama, kemiskinan tidak punya nasionalisme, kemiskinan tidak memprovokasi teror internasional,” katanya.

“Kemiskinan merupakan teror terbesar di dunia saat ini. Kemiskinan adalah dosa moral jaman moderen,” lanjutnya.

Ia memprioritaskan tiga cara untuk memerangi kemiskinan yakni pengembangan manusia, keadilan dan perdamaian serta respon kemanusiaan.

Kardinal Bo percaya bahwa berpegang pada keberpihakan kepada orang miskin dan pengembangan mereka merupakan cara yang tepat untuk mengatasi ekstremisme agama dan kebencian.

“Evangelisasi baru mendorong kehidupan bersama dan kerjasama dengan Saudara-Saudari non-Kristen,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi