UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Komunitas Sant’Egidio Bangun Persahabatan Dengan Pengungsi Muslim

Juni 10, 2019

Komunitas Sant’Egidio Bangun Persahabatan  Dengan Pengungsi Muslim

Nimo, 26, seorang wanita Muslim dari Somalia, bergabung dalam acara buka puasa bersama yang diadakan pada 25 Mei oleh Komunitas Sant'Egidio di Rumah Persahabatan, Kedoya, Jakarta Barat. (Foto: Konradus Epa/ucanews.com).


Nimo,  26, seorang wanita Muslim asal Somalia, tidak memiliki pilihan lain, selain meninggalkan negaranya tahun 2016 akibat perang saudara. Tujuannya sederhana: ingin tetap hidup, tidak seperti anggota keluarga lain, yang sebagian besar telah tewas.

Sejak 2012, ketika pemerintah baru yang didukung internasional dilantik, Somalia telah bergerak menuju stabilitas, tetapi pemerintah baru masih menghadapi tantangan dari gerilyawan Al-Shabab yang beraliansi dengan Al-Qaeda.

Ia tiba di Jakarta bersama sejumlah temannya dari Somalia. “Ini adalah sebuah negara dimana para pengungsi seperti saya bisa merasa nyaman,” katanya.

Nimo, yang juga sebagai guru relawan, tinggal di sebuah tempat kos di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Berbicara dengan ucanews.com, ia mengatakan sekitar 400 warga Muslim Somalia tinggal di sejumlah shelter, di kontrakan, dan juga tempat kos di sekitar Jakarta.

Seorang pengungsi lain adalah Nura, 19, yang mengungsi ke Indonesia menyusul  perang di negaranya, Ethiopia.

Ia meninggalkan negaranya setelah para anggota keluarganya tewas dalam konflik diperbatasan.

Perang di antara Eritrea dan Ethiopia mulai Mei 1998 dan menimbulkan puluhan ribu orang tewas dan luka-luka dalam waktu hanya dua tahun.

Meskipun kesepakatan damai telah ditandatangani pada Desember 2000, kedua belah pihak tetap  berperang – pasukan mereka masih saling menyerang.

Nura tinggal di sebuah shelter yang juga dikelola oleh pemerintah dan UNHCR di Tebet, Jakarta Selatan, dalam lima tahun terakhir.

Dua wanita ini termasuk di antara sekitar  14.000 pengungsi yang didaftarkan di kantor UNHCR  Indonesia. Dari total itu, 29 persen adalah anak-anak, termasuk lebih dari 300 anak terpisah dari orangtua mereka.

Para pengungsi Muslim foto Bersama dengan para anggota Komunitas Sant’Egidio pada acara buka puasa bersama pada Mei lalu di Rumah Persahabatan. (Foto: Konradus Epa/ucanews.com)

Hingga Desember tahun lalu, kebanyakan pengungsi yang tinggal di Indonesia berasal dari Afghanistan (55 persen), Somalia (11 persen) dan Myanmar (6 persen).

Meskipun Indonesia tidak meratifikasi Konvensi mengenai Pengungsi Tahun 1951, negara itu memiliki tradisi yang lama menjadi rumah sementara bagi para pengungsi  dan orang-orang yang mencari perlindungan internasional.

Namun, akhir tahun 2016, Presiden Joko Widodo telah  menandatangani Peraturan Presiden mengenai Penanganan Pengungsi, yang berisi definisi-definisi utama dan menetapkan proses-proses untuk monitor, shelter, dan perlindungan pengungsi dan pencari suaka.

Jembatan solidaritas

Situasi yang menambah kesulitan bagi para pengungsi yakni mereka tidak diizinkan secara hukum untuk bekerja dalam kapasitas apa pun, mencari uang secara mandiri, atau menghadiri sekolah-sekolah di Indonesia. Hal ini telah menimbulkan kesulitan bagi para pengungsi tersebut.

Situasi itu mendorong Komunita  Sant’Egidio untuk memperhatikan dan melayani para pengungsi tersebut, yang kebanyakan Muslim.

Kelompok awam Katolik itu telah mengadakan berbagai acara khusus, termasuk kunjungan rutin dan bantuan makanan sejak Maret 2018 setelah sejumlah pengungsi tinggal di pinggir jalan dengan membangun tenda bambu di luar Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) di Kalideres, Jakarta Barat.

Dalam kerja sama dengan Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta dan didukung oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo, komunitas itu membagikan 800 kilogram beras dan kebutuhan dasar lain kepada para pengungsi tersebut.

“Para pengungsi ini adalah kelompok termarginal. Mereka juga tak berdaya dan tidak memiliki akses ke berbagai fasilitas yang mereka butuhkan,” kata koordinator komunitas itu Eveline Winarko kepada ucanews.com.

Para pengungsi Muslim dari Afrika menghadiri acara buka puasa bersama yang diadakan Komunitas Sant’Egidio di Rumah Persahabatan, Kedoya, Jakarta Barat. (Foto: Konradus Epa/ucanews.com)

“Dengan mengikuti ajakan Paus Fransiskus, Komunitas Sant’Egidio tergerak untuk bermisi denganmemberi dukungan dan hati bagi mereka yang merupakan jalan terbaik untuk membantu mereka bangkit dari pengalaman traumatis menuju hidup yang penuh pengharapan”. 

Pada Januari 2018, Paus Fransiskus mengeluarkan sebuah pesan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-104. Ia menyerukan solidaritas dengan para pengungsi dengan menanggapi banyak tantangan yang dikaitkan dengan migrasi kontemporer.

Acara Sant’Egidio melayani keluar sekali sebulan. Namun, kadangkala para pengungsi mengunjungi Rumah Persahabatan komunitas itu di Jakarta Pusat.

“Kami ngobrol dengan mereka. Kami mengibur mereka. Ini dapat membantu mencegah mereka mengatasi stres,” kata Winarko.

“Di seluruh dunia, kita menyaksikan bahwa semakin banyak tembok pemisah yang dibangun untukmenghalangi masuknya pengungsi, bukan hanya tembok fisik, tetapi juga tembok ketakutan, kecurigaan, kebencian, dan tembok ideologis. Sebagai satu keluarga manusia sudah sepatutnya kita berjuang untuk membangun jembatan-jembatan solidaritas, bukannya tembok pemisah.

“Kami melihat bagaimana realitas hidup para pengungsi sangatlah tidak berdaya, tersingkir,dan penuh dengan keterbatasan dalam memenuhi hak atas makanan, tempat tinggal, serta fasilitas hidup yang layak dan bermartabat. Dalam situasi hidup yang jauh dari kenyamanan, pengungsi membutuhkan sentuhan hati, butuh didengarkan, butuh ditemani, dan butuh dorongan semangat hidup,” tambahnya.

Tahun ini, selama bulan suci Ramadan, komunitas itu menyediakan makanan buka puasa bersama bagi  60 pengungsi Muslim yang diadakan di Rumah Persahabatan di Kedoya, Jakarta Barat.

“Mereka adalah korban (dari konflik). Kami ingin membangkitkan semangat mereka,” kata Tanny Taher, anggota Komunitas Sant’Egidio, koordinator acara buka puasa bersama para pengungsi tersebut.

Nimo menjelaskan pelayanan komunitas itu sebagai wujud bantuan bagi mereka.

“Kami membutuhkan banyak dukungan seperti ini. Banyak dari kami masih trauma dan stres  karena kehilangan keluarga kami,” katanya.

Namun, ia mengatakan meskipun Indonesia ini tempat aman tapi mereka ingin pergi ke negara ketiga seperti Australia atau Kanada untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi