UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Islam, Kristen Gelar Makan Malam Amal di Manila

Juni 10, 2019

Umat Islam, Kristen Gelar Makan Malam Amal di Manila

Keterangan foto: Umat Islam dan Kristen menghadiri makan malam amal yang diprakarsai oleh kelompok Gereja dan hak asasi manusia pada 8 Juni di Manila. (Foto: Mark Saludes)


Sejumlah umat Islam dan Kristen di Manila, Filipina, menggelar makan malam amal pada 8 Juni untuk mempromosikan perdamaian dan melawan apa yang disebut sebagai sentimen anti-Islam.

Acara tersebut mencakup diskusi tentang situasi keamanan di Filipina bagian selatan dan “prasangka terhadap Islam” khususnya di wilayah Mindanao.

Amirah Lidasan, sekjen Aliansi Rakyat Kristen Moro (MCPA, Moro-Christian People’s Alliance), mengatakan kegiatan itu bertujuan untuk menjaga persatuan dan mendorong dialog antaragama.

“Kami ingin menunjukkan bahwa meskipun kami berbeda, umat Islam dan Kristen memiliki banyak hal yang sama karena kami semua adalah umat beriman,” katanya.

Ia mengatakan bangkitnya “ekstremisme agama di kalangan umat Islam yang sesat” dan “proyeksi media bahwa umat Islam adalah teroris” menumbuhkan ketidakpercayaan dan ketakutan di kalangan mereka.

Uskup Deogracias Iniguez, ketua Forum Uskup-Uskup Ekumene, mengatakan ketidakpedulian publik tentang Islam adalah penyebab ketakutan dan ketidakpercayaan ini.

“Sebagai pengikut Kristus, kita harus membuka hati dan pikiran kita untuk memahami budaya dan agama lain,” kata prelatus itu.

“Dialog menuntun pada pengertian dan pengertian menuntun pada penerimaan yang pada akhirnya akan membuahkan perdamaian,” lanjutnya.

Pendeta Christopher Ablon dari Gereja Independen Filipina mengatakan intoleransi terhadap agama lain bisa dihindari “jika kita mampu mendengarkan sesama kita.”

“Yang tidak ada adalah kemampuan untuk mendengarkan. Kita tidak mendengarkan mereka dan kita menganggap keluhan mereka sebagai hal sepele,” katanya.

Ia mengatakan konflik yang terjadi di Marawi pada 2017 dan yang mengakibatkan kerusakan parah di kota itu bisa dihindari jika pemerintah mendengarkan para tokoh agama dan pemimpin Muslim setempat.

“Bukannya mendengarkan, pemerintah memutuskan untuk meledakkan kota itu,” katanya.

Ketika konflik memanas, sejumlah tokoh agama Islam secara sukarela bernegosiasi dengan para pemberontak.

Konflik bersenjata tersebut berlangsung selama lima bulan. Akibatnya, sekitar 500.000 orang kehilangan tempat tinggal, banyak di antaranya masih tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Panitia makan malam amal mengatakan kepada ucanews.combahwa hasil dari program tersebut akan disumbangkan kepada organisasi-organisasi yang menangani para korban konflik di Marawi.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi