UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Duterte Tolak Perayaan 500 Tahun Agama Katolik di Filipina

Juni 11, 2019

Duterte Tolak Perayaan 500 Tahun Agama Katolik di Filipina

Presiden Filipina Rodrigo Duterte membahas usulan perayaan ulang tahun ke 500 dari kedatangan agama Kristen di negara itu saat menjadi bintang tamu di acara "Give Us This Day" yang dipandu oleh Pastor Apollo Quiboloy, pemimpin Kerajaan Yesus Kristus, Nama Di Atas Segala Nama, Inc. (Foto: Ace Morandante dari Presidensial)

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan dia tidak ingin merayakan peringatan 500 tahun kedatangan agama Kristen di Filipina tahun 2021.

Presiden, yang berulang kali mengkritik para pemimpin Gereja Katolik, mengatakan tidak ada yang istimewa tentang “penaklukan” negara oleh penjajah Spanyol.

“Lima ratus tahun kekristenan? Benarkah? Apa yang istimewa?” tanya Duterte  dalam sebuah wawancara televisi yang dipandu oleh Pastor Apollo Quiboloy.

Quiboloy, seorang teman Duterte dari kota selatan Davao, adalah pendiri dan pemimpin “Kerajaan Yesus Kristus, Nama Di Atas Segala  Nama, Inc.”

“Saya akan merayakan dimulainya penaklukan negaraku selama 400 tahun. Anda pasti bercanda. Apakah saya merayakan hari itu ketika para pahlawan negaraku dibantai?” tanya Duterte.

Spanyol membawa agama Kristen ke Filipina  tahun 1521 dengan tibanya penjelajah Portugis Ferdinand Magellan di Cebu.

Kepulauan, yang dinamai Raja Philip II, menjadi koloni Spanyol sampai 1898.

“Sekarang para imam bertanya apa rencananya. Saya  tidak punya rencana. Mengapa saya  harus merayakan kedatangan imperialisme ke negaraku?” kata Duterte.

“Mereka membawa agama? Baik. Tetapi, Anda tidak harus menaklukkan negara saya dan menempatkan saudara-saudari saya di bawah  imperialisme selama 400 tahun,” tambahnya.

Presiden itu mengatakan umat Katolik bebas untuk merayakan kedatangan agama Kristen jika mereka mau, bahkan ketika ia mengecam  mereka karena ketidakkonsistenan mereka.

Dia mengatakan bahwa sementara orang Filipina merayakan kemerdekaan dari Spanyol, “(mereka) akan pergi ke gereja dan berlutut … untuk berdoa dan memberi penghormatan.”

“Orang Filipina tidak pernah belajar. Apa pun yang dikatakan imam, maka kami juga menghormati. Kami menghormati para conquistadores (penakluk). Bukan saya,” kata Duterte.

“Kami tidak merayakan apa pun. Datang dari agama Kristen? Itu memulai kesusahan, penderitaan, dan kesedihan kami,” katanya.

Namun, para uskup Katolik mengabaikan pernyataan presiden itu, mengatakan bahwa Gereja tidak memaksakan perayaan itu kepada orang-orang.

“Siapa pun dipersilahkan untuk merayakan bersama kami,” kata Uskup Balanga Mgr Ruperto Santos, seraya menambahkan bahwa perayaan itu merupakan kesempatan untuk berterima kasih kepada Tuhan atas perlindungan-Nya selama 500 tahun terakhir.”

Kekristenan adalah anugerah Tuhan bagi kita. Itu adalah berkat-Nya dan kita diberkati. Dan kita harus bersyukur kepada Tuhan,” kata Uskup Santos.

Uskup Cubao Mgr Honao Ongtioco mengatakan, Duterte memiliki hak untuk mengekspresikan dirinya. “Iman kita melampaui apa yang orang katakan dan bagaimana mereka bereaksi,” kata prelatus itu.

Uskup Sorsogon Mgr Arturo Bastes mengatakan, umat Katolik Filipina akan merayakan kesempatan itu bahkan tanpa Duterte. 

“Kami tidak membutuhkan kehadiran Duterte. Kami akan merayakannya tanpa dia,” katanya.

Sejak pemilihannya tahun 2016, Duterte telah mengkritik Gereja Katolik dan para pemimpinnya terkait “perang” pemerintahannya melawan narkoba.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi