UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pasutri di Pakistan Ajukan Banding Terkait Vonis Mati

Juni 11, 2019

Pasutri di Pakistan Ajukan Banding Terkait Vonis Mati

Kelompok Islam Pakistan memegang poster yang memperlihatkan wajah Asia Bibi, seorang wanita Katolik yang dituduh melakukan penistaan agama, dalam sebuah aksi unjuk rasa di Lahore pada 1 Februari melawan keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan tuduhan bersalah kepadanya. (Foto: Arif Ali/AFP)

Sebuah pengadilan tinggi di Pakistan akan mendengarkan permohonan pasangan Kristen yang telah divonis mati sejak 2014 karena didakwa menghina Nabi Muhammad, demikian kata pengacara mereka.

Pengacara Saiful Malook, yang berhasil membela wanita Katolik, Asia Bibi dan membatalkan tuduhan hukuman penistaan agama terhadapnya di Mahkamah Agung, juga akan menentang tuduhan terhadap pasangan itu di Pengadilan Tinggi Lahore.

Shafqat Emmanuel yang cacat dan istrinya Shagufta Kausar ditangkap pada 2013 dan dijatuhi hukuman gantung di kota Toba Tek Singh di provinsi Punjab di samping denda 200.000 rupee atau dua ribu dolar Amerika Serikat setelah dituduh mengirim pesan teks yang menghina nabi.

Hukuman tetap berjalan meskipun ada bukti bahwa kartu SIM yang dihadirkan sebagai bukti oleh polisi adalah palsu.

Kasus ini diadukan oleh Mohammed Hussain, seorang pendoa di Gojra yang menuduh bahwa pasangan itu telah mengirim pesan teks yang menyerang dirinya dan Muslim lain.

Pasangan itu mengaku tidak bersalah, mempertahankan bahwa mereka buta huruf dan tidak bisa menulis pesan teks yang ditulis dalam bahasa Inggris. Mereka juga mengatakan bahwa kartu SIM yang digunakan untuk mengirim pesan yang diduga dibeli dengan menggunakan kartu identitas Kausar yang dicuri.

“Pengadilan tinggi akan mendengarkan permohonan kami pada 25 Juni,” kata Malook kepada ucanews.com. “Saya telah bertemu Shagufta Kausar, yang mendekam di sel yang sama di mana Asia Bibi dipenjara sebelum pembebasannya.”

Hukuman penodaan agama telah digunakan oleh banyak orang yang mengajukan pengaduan palsu untuk menyelesaikan dendam pribadi, menurut badan hak asasi manusia independen di Pakistan.

Dalam banyak kasus, tuduhan penistaan agama menghasilkan pembunuhan massal atau pembunuhan terhadap tersangka sebelum mereka dapat diadili di pengadilan, kata Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan (HRCP) dalam laporannya pada tahun 2018.

Bahkan jika terdakwa dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan, mereka tidak dapat menjalani kehidupan normal karena takut akan ancaman dari ekstremis atau boikot sosial, demikian menurut laporan itu.

Menurut HRCP, minoritas masih menjadi yang paling sering menghadapi diskriminasi meskipun undang-undang sedang diberlakukan. Meskipun belum ada yang digantung karena penistaan agama, banyak korban merana di penjara selama beberapa dekade sebelum dibebaskan.

Menurut HRCP, 18 kasus penistaan baru diajukan di Pakistan pada tahun 2018 saja.

Sejak 1990, hampir 70 orang telah dihukum mati karena tuduhan penistaan agama, sementara 40 orang lainnya menanti dihukum mati atau menjalani hukuman seumur hidup.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi