UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Katolik di India Memprotes Penghargaan untuk Kartunis

Juni 13, 2019

Gereja Katolik di India Memprotes Penghargaan untuk Kartunis

Gereja Katolik di India memprotes penganugerahan penghargaan kepada seorang kartunis yang membuat karikatur Uskup Jalandhar Mgr Franco Mulakkal yang dituduh melakukan pemerkosaan. (Foto disediakan)


Gereja Katolik di India telah menyampaikan protes terhadap penganugerahan penghargaan kepada seorang kartunis yang menggambarkan seorang uskup yang dituduh melakukan pemerkosaan sebagai seekor ayam jago yang membawa tongkat bergambar pakaian dalam wanita sebagai pengganti salib.

Protes tersebut membuahkan hasil. Penganugerahan penghargaan pun ditinjau kembali.

Kerala Lalithakala Akademi, sebuah akademi seni rupa milik pemerintah, mengumumkan penganugerahan penghargaan tahunan itu pada 10 Juni.

Salah satu penerima penghargaan adalah K.K. Subhash, seorang kartunis yang menggambar karikatur Uskup Jalandhar Mgr Franco Mulakkal dengan judul “Iman Menyelematkan.”

Mgr Mulakkal masih menunggu proses persidangan di sebuah pengadilan negeri di Negara Bagian Kerala karena dituduh memerkosa seorang biarawati di negara bagian itu. Prelatus yang tinggal di Negara Bagian Punjab itu saat ini bebas dengan jaminan.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan 11 Juni, Dewan Para Uskup Katolik di Negara Bagian Kerala mengecam keputusan akademi itu.

Menurut pernyataan tersebut, penghargaan kepada kartunis itu merupakan upaya yang dilakukan secara sengaja untuk menghina Gereja Katolik dan merendahkan simbol-simbol keagamaan umat Kristen.

Romo Varghese Vallikkatt, jubir dan wakil sekjen Dewan Para Uskup, mengatakan kepada ucanews.com pada 12 Juni bahwa para uskup tidak akan merasa keberatan jika penghargaan itu dianugerahkan oleh sebuah lembaga swasta.

“Karena ini merupakan penghargaan pemerintah dari sebuah lembaga kebudayaan ternama, kami tidak bisa menerimanya dan memprotesnya,” katanya.

Gereja Katolik prihatin dengan “penggambaran” salib yang seharusnya suci bagi semua umat Katolik.

“Menurut undang-undang di India, menyakiti sentimen keagamaan umat beragama merupakan suatu kejahatan,” lanjutnya.

Ia mengatakan jika akademi milik pemerintah itu menganugerahkan penghargaan untuk karya semacam itu, ini merupakan “pengakuan resmi dan dukungan” kepada orang-orang yang menghina umat Kristen dan sentimen keagamaan lainnya.

“Hal ini dilarang,” tegasnya.

Rektor Kerala Lalithakala Akademi, Nemom Pushparaj, mengatakan kepada ucanews.com bahwa karikatur itu dipilih sebagai pemenang penghargaan oleh tiga juri dan tidak dipengaruhi oleh pemerintah atau petinggi akademi itu.

“Kami tidak ikut campur dalam proses seleksi,” katanya. “Dalam hal ini, kami tidak pernah mengira bahwa ini akan menyakiti sentimen keagamaan umat Kristen.”

“Mengingat hal ini disampaikan kepada kami, kami telah memutuskan untuk meninjau kembali penganugerahan penghargaan itu,” lanjutnya.

Pemerintah juga telah meminta akademi itu untuk “melihat kembali” persoalan tersebut.

“Ini belum final dan bisa ditinjau kembali,” kata Pushparaj.

Sekretaris Kerala Lalithakala Akademiakademi, Ponniam Chandran, mengatakan kepada ucanews.com bahwa masalah muncul ketika karya yang dipertanyakan itu tidak dilihat sebagai karikatur.

“Ini sesuatu untuk dinikmati dengan selera humor,” katanya. “Sebuah karikatur pada umumnya menjelaskan sebuah tragedi atau isu sosial dalam cara yang satiris dengan sebuah pesan untuk mengoreksinya.”

Kerala Lalithakala Akademi didirikan pada 1962 untuk melestarikan dan mempromosikan seni visual. Akademi ini merupakan organisasi kebudayaan otonom yang berfungsi di bawah pengawasan pemerintah negara bagian.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi