UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Filipina Kecam ‘Penindasan Terus-menerus’ oleh Cina

Juni 14, 2019

Uskup Filipina Kecam ‘Penindasan Terus-menerus’ oleh Cina

Seorang aktivis Filipina membawa spanduk yang memprotes dugaan serangan ke perairan Filipina oleh China dalam demonstrasi di Manila pada 12 Juni. (Foto: Jire Carreon)


Setidaknya tiga uskup di Filipina ikut menyampaikan suara protes terhadap apa yang mereka sebut sebagai “penindasan terus menerus terhadap Filipina.”

Uskup Sorsogon Mgr Arturo Bastes mengatakan, tenggelamnya sebuah kapal nelayan Filipina, di mana awaknya ditinggalkan oleh sebuah kapal Cina pekan lalu adalah “manifestasi” dari kurangnya rasa hormat Cina terhadap kedaulatan Filipina.

“Mereka tidak menghormati wilayah kita, juga kehidupan orang Filipina,” katanya.

Pada t 9 Juni, sebuah kapal nelayan Filipina tenggelam di dekat Reed Bank di Laut Cina Selatan setelah sebuah kapal penangkap ikan Cina dilaporkan menabraknya ketika sedang berlabuh.

Kapal Cina diduga menjauh, meninggalkan 22 orang Filipina di atas kapal yang tenggelam.

Sebuah kapal nelayan Vietnam kemudian menyelamatkan para awak itu.

Uskup Balanga Mgr Ruperto Santos mengatakan insiden itu menunjukkan bahwa Cina “tidak dapat dipercaya, dan mereka benar-benar hanya memikirkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri” di perairan dan pulau-pulau Laut Cina Selatan.

“Jika mereka benar-benar teman dan tetangga kita yang mempropagandakan perdamaian dan kemakmuran bersama di antara orang Asia, mereka seharusnya menghindari provokasi, menahan diri dan membantu 22 nelayan kita,” kata uskup itu.

Uskup Auksilier Manila Mgr Broderick Pabillo meminta pemerintah Filipina untuk menyelidiki insiden itu. Dia mengatakan Manila harus meminta penjelasan.

“Kita harus menuntut untuk mengetahui mengapa para nelayan Filipina tidak diselamatkan dan diberikan tindakan yang layak,” kata Uskup Pabillo.

Pemerintah Filipina telah meminta Cina untuk memberikan sanksi kepada awak kapal Tiongkok.

“Kami menyerukan kepada pihak berwenang Cina untuk menyelidiki tabrakan itu dan menjatuhkan sanksi yang pas pada awak ,kapal Cina,” kata juru bicara kepresidenan Filipina Salvador Panelo.

Dia mengatakan dugaan “pengabaian” oleh kapal Tiongkok terhadap nelayan Filipina “tidak beradab karena itu keterlaluan.”

“Tindakan semacam itu tidak manusiawi, barbar,” tambahnya.

Tabrakan itu terjadi pada hari Minggu, 9 Juni, tetapi baru diumumkan ke media oleh Departemen Pertahanan Filipina pada 12 Juni.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi