UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kemiskinan di India Terkait Agama dan Kasta

Juni 18, 2019

Kemiskinan di India Terkait Agama dan Kasta

Seorang pengais sampah mengumpulkan benda-benda yang masih bisa diolah ketika asap mengepul dari sebuah tempat pembuangan sampah di Bhaiswa di New Delhi pada 29 Oktober 2018. Pekerjaan seperti ini pada umumnya dijalani oleh orang-orang dari kasta rendah di India. (Foto: Sajjad Hussain/AFP)

Selama 20 tahun, Ratna Devi menerima upah tidak lebih dari 50 rupee (sekitar satu dolar AS) untuk pekerjaan yang dilakukannya selama delapan jam per hari di sebuah tempat pembakaran batu bata.

Kini, setelah menderita berbagai penyakit seperti asma, wanita berusia 52 tahun itu terbaring di tempat tidur di rumahnya yang terletak di pinggir Kota New Delhi.

“Anak-anak saya dan isteri mereka bekerja di tempat pembakaran batu bata yang sama sekarang,” kata wanita dari Suku Dalit, sebuah kelompok sosial miskin yang pernah dijuluki sebagai “yang tidak terjamah,” itu.

“Upah mereka tidak lebih dari upah harian saya dulu,” lanjutnya.

Laporan baru dari Oxfam, sebuah konfederasi 20 organisasi pengembangan, memperlihatkan korelasi yang kuat antara kemiskinan dan identitas sosial.

Laporan berjudul “Mind the Gap: The State of Employment in India 2019” yang dirilis bulan ini tersebut menyebutkan bahwa sebagian besar dari orang miskin di India berasal dari komunitas Dalit – yang juga disebut sebagai kasta rendah, warga suku dan umat Islam. 

Penemuan inti dari laporan itu menekankan bahwa orang miskin masih mengalami diskriminasi terkait dengan agama atau kasta mereka.

Data pemerintah menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen pekerja di India bekerja di sektor informal dan memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki sama sekali jaminan sosial.

Sementara itu, menurut data 2010 dari National Sample Survey Organization, dari 465 juta pekerja di India, hanya 28 juta orang yang bekerja di sektor formal. Sisanya, 437 juta orang bekerja di sektor informal.

Hanya 16 persen dari umat Islam yang bekerja di sektor formal yang memiliki jaminan sosial. Sementara 26 persen lainnya diklasifikasi sebagai pekerja beragama Hindu yang memiliki akses terhadap jaminan sosial.

Laporan Oxfam itu juga menyebutkan bahwa jika semua pekerja diperhatikan, hanya 4,68 persen masyarakat adat yang menerima jaminan sosial. Warga Suku Dalit menyusul dengan persentase 5,78 persen, kemudian pekerja kasta rendah lainnya.

Dari jumlah pekerja di sektor informal, sebagian besar atau 246 juta orang bekerja di bidang pertanian, 44 juta di bidang bangunan dan sisanya di bidang manufaktur dan penyedia layanan.

Diya Dutta, seorang peneliti dari Oxfam India, mengatakan kepada ucanews.com bahwa laporan baru itu menggarisbawahi beberapa hambatan struktural terhadap peluang kerja yang lebih baik dan peningkatan mobilitas di kalangan minoritas.

Di luar wilayah pedesaan di India, banyak pekerjaan mencerminkan diskriminasi berbasis identitas sosial.

Misalnya, katanya, sekitar lima juta pekerja sanitasi purna waktu berasal dari warga Suku Dalit.

Sumeet Mhaskar, seorang dosen rekan di O.P. Jindal Global University, mengatakan orang-orang dari kasta rendah seperti warga Suku Dalit – tidak seperti kasta tinggi di India – masih terbatas pada pekerjaan kasar yang dianggap kotor. 

“Situasi orang miskin beragama Islam hampir sama,” katanya.

Tidak adanya perlindungan politik terhadap mereka dan persepsi negatif di kalangan non-Muslim memaksa umat Islam untuk bekerja di bidang “ekonomi yang terisolasi.”

Imtiyaz Qureshi, seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) di Negara Bagian Uttar Pradesh, mengatakan mayoritas warga Suku Dalit dan umat Islam yang tertindas secara ekonomi menjalani pekerjaan yang terstigmatisasi seperti pemulung, pengais sampah, pengais besi tua, penyembelih hewan dan buruh di industri kulit.

“Pekerjaan sektor informal di India ini memiliki lebih dari 90 persen tenaga kerja,” katanya kepada ucanews.com.

Soal penyembelihan hewan, stigma melekat masyarakat, demikian menurut Pavan Kumar, seorang aktivis HAM dari Suku Dalit. 

Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, pekerjaan tersebut dijalani oleh banyak warga Suku Dalit dan umat Islam menjadi “layaknya sebuah jebakan kematian.”

Ia mengatakan umat Islam dan warga Suku Dalit yang bekerja sebagai penyembelih hewan mendapat ancaman pembunuhan dari umat Hindu yang senang main hakim sendiri, beberapa di antaranya mendapat perlindungan.

“Mereka yang mendapat pembenaran telah melancarkan serangakain serangan terhadap warga Suku Dalit dan umat Islam,” lanjutnya.

Tahun lalu, 33 orang dibunuh dan 100 orang lainnya mengalami cedera dalam sejumlah kasus terkait dengan kekerasan massa. Jumlah kekerasan ini meningkat 45 persen, sementara jumlah korban tewas meningkat 200 persen dibandingan data tahun 2017, katanya.  

Bezwada Wilson adalah pendiri organisasi HAM nasional – Safai Karmachari Andolan – yang mengampanyekan diakhirinya pekerjaan pembersihan tinja secara manual.

Ia mengatakan kepada ucanews.com bahwa ada sekitar lima juta pekerja sanitasi yang sebagian besar berasal dari warga Suku Dalit di India dan sekitar setengah dari jumlah ini menghadapi resiko.

Kematian sekitar 1.800 pekerja sanitasi semacam itu di India selama satu dekade terakhir terkait dengan pekerjaan mereka dalam membersihkan kotoran manusia, katanya.

“Pemerintah seolah tidak peduli dan ingin meredam krisis itu hanya karena pembersih tinja adalah warga Suku Dalit dan bukan kasta atas,” katanya.

Menurut sensus 2011, sekitar 2,1 juta keluarga membuang kotoran di jamban kering yang dibersihkan secara manual oleh pembersih tinja.

Sensus Kasta Sosial-Ekonomi yang diadakan pada tahun yang sama menyebutkan bahwa sekitar 182.000 keluarga memiliki sedikitnya satu anggota yang bekerja sebagai pembersih tinja.

Sekitar 60 persen dari 28 juta umat Kristen di India berasal dari Suku Dalit atau warga suku lainnya, khususnya di India bagian utara.

Warga Suku Dalit terdiri atas 16,6 persen dari 1,2 miliar penduduk di India. Jumlah yang hampir sama ada di Negara Bagian Punjab, yakni sekitar 32 persen. Sementara Mizoram di bagian timur laut hanya memiliki sedikit warga Suku Dalit.

Umat Hindu ada sekitar 966 juta atau 80 persen dari jumlah penduduk di India. Disusul oleh umat Islam yang terdiri atas sekitar 172 juta atau 14,2 persen dari jumlah penduduk di negara itu. 

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi