UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja, Kelompok HAM di Filipina Tuntut Keadilan Bagi Aktivis yang Dibunuh

Juni 19, 2019

Gereja, Kelompok HAM di Filipina Tuntut Keadilan Bagi Aktivis yang Dibunuh

Berbagai kelompok ekumene menggelar aksi protes di Manila pada 18 Juni untuk menuntut keadilan bagi akvitis Kristen, Neptali Morada, yang dibunuh. (Foto: Mark Saludes)

Sejumlah kelompok ekumene dan hak asasi manusia (HAM) di Filipina menuntut penyelidikan mendalam terhadap pembunuhan seorang aktivis Gereja oleh kelompok bersenjata pada 17 Juni.

Mereka juga menuntut keadilan bagi empat aktivis kiri yang ditembak mati sejak awal Juni lalu.

Neptali Morada, seorang anggota Gereja Kristus Evangelis Bersatu, tengah dalam perjalanan menuju kantor ketika ia ditembak mati di Naga, sebuah kota yang terletak di selatan Manila.

Ia adalah juga mantan koordinator Gerakan Mahasiswa Kristen Filipina dan ketua Federasi Orang Muda Kristen Filipina.

Nardy Sabino, sekretaris umum Promosi Respon Umat Allah, mengatakan pembunuhan terhadap Morada diduga merupakan bagian dari “kampanye yang disponsori negara untuk membungkam orang-orang yang memiliki perbedaan pendapat.”

Aktivis yang dibunuh itu juga adalah koordinator regional Aliansi Patriotik Baru di Filipina bagian utara sebelum bekerja untuk pemerintah Propinsi Camarines Sur.

Pada 18 Juni, sejumlah aktivis dan pelayan Gereja berkumpul di kantor Dewan Nasional Gereja-Gereja Filipina di Manila untuk menghormati dan mendoakan arwah Morada.

“Komitmennya untuk mengupayakan perubahan sosial mendorongnya untuk melayani berbagai lapisan masyarakat,” kata Sabino.

Daniel Kenji Muramatsu, juru bicara Gerakan Mahasiswa Kristen Filipina, mengecam “pembunuhan keji” itu.

“Kematiannya harus mengilhami kita untuk melanjutkan semua karya yang telah diwariskannya kepada kita. Kita akan terus memobilisasi mahasiswa Kristen untuk membela HAM,” katanya.

Rommel Linatoc dari Dewan Nasional Gereja-Gereja di Filipina meminta pemerintah untuk segera menyelidiki kasus pembunuhan tersebut.

Pembunuhan terhadap Morada terjadi beberapa hari setelah dua anggota kelompok HAM Karapatan, seorang tokoh kelompok petani dan seorang pekerja serikat buruh juga ditembak mati.

Dua pembela HAM, Ryan Hubilla (22) dan Nelly Bagasala (69), dibunuh setelah mereka membantu pembebasan tiga tahanan politik pada 15 Juni di Kota Sorsogon.

Pada 16 Juni, orang-orang bersenjata yang mengendarai motor juga menembak mati Nonoy Palma (57), seorang anggota Gerakan Petani Filipina di Propinsi Bukidnon di Pulau Mindanao bagian selatan.

Pada 2 Juni, seorang pria bersenjata menembak Dennis Sequena, seorang pemimpin dari Partai Pekerja ketika ia bertemu para pekerja di Propinsi Cavite di dekat Manila.

Uskup Sorsogon Mgr Arturo Bastes mengatakan semua pembunuhan itu “memunculkan ketakutan di kalangan masyarakat” dan “menumbuhkan kebencian terhadap para penjaga perdamaian di negeri ini.”

Dalam sebuah pesan yang dikirim kepada ucanews.com, prelatus itu mengatakan, “sebuah bangsa Kristen seperti kita hendaknya mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan bukan dengan membunuh sesama tetapi dengan mencari akar permasalahan yakni kemiskinan materi yang disebabkan oleh ketidakadilan.”

Sekjen Karapatan, Cristina Palabay, mengklaim bahwa para aktivis yang dibunuh itu “berada dalam pengawasan militer” sebelum dibunuh.

“Kami punya alasan untuk percaya bahwa orang-orang yang membunuh mereka adalah pasukan kematian militer,” katanya.

“Mereka dibunuh karena mereka adalah pembela setia HAM yang berani mengungkap pelanggaran yang dilakukan pemerintah terkait HAM dan kesejahteraan masyarakat,” lanjutnya.

Dalam sebuah pernyataan, Human Rights Watch (HRW) meminta pemerintah Filipina untuk “menyelidiki secara tepat dan tidak memihak” terkait pembunuhan para aktivis sayap kiri tersebut.

HRW mengatakan negara-negara anggota PBB hendaknya memastikan adanya penyelidikan internasional terhadap situasi HAM di Filipina pada sesi Dewan HAM PBB pada 24 Juni di Jenewa nanti.

Menurut HRW, banyak pembunuhan terjadi dalam konteks konflik bersenjata yang telah berlangsung selama 50 tahun terkait pemberontakan komunis.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi