UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik, Buddha di Sri Lanka Beri Makanan Gratis kepada Peziarah

Juni 20, 2019

Umat Katolik, Buddha di Sri Lanka Beri Makanan Gratis kepada Peziarah

Seorang ibu berdoa di sebuah kuil Buddha pada Hari Poson Poya pada 16 Juni lalu. Pesta ini memperingati masuknya agama Buddha ke Sri Lanka pada abad ketiga sebelum Masehi. (Foto: Quintus Colombage/ucanews.com)

Umat Katolik bersama umat Buddha di Sri Lanka membagikan makanan gratis kepada ribuan peziarah pada perayaan Hari Poson Poya yang dirayakan setiap tahun untuk memperingati masuknya agama Buddha pada abad ketiga sebelum Masehi.

Sejumlah relawan yang berjaga di beberapa gerai – yang dikenal dalam bahasa Sinhala sebagai Dansala – menyerahkan nasi dan kari serta teh, biskuit, es krim dan makanan lainnya.

Umat beriman mengunjungi tempat-tempat suci, khususnya Mihintale, sebuah bukit yang terletak di dekat Kota Anuradhapura.

Tempat suci tersebut dianggap sebagai tempat di mana Arahat Mahinda Thera, seorang biksu misionaris dan anak Kaisar Asoka dari India, mengubah agama Raja Devanampiyatissa menjadi Buddha. Ia dianggap sebagai raja beragama Buddha pertama di Sri Lanka.

Arosh Antony Fernando, seorang umat Katolik, menempuh perjalanan menuju Kurunegala, ibukota Propinsi Barat Utara. Di sana ia bersama umat Buddha mendirikan gerai makanan.

Para tokoh agama memohon berkat bagi para korban serangan teroris mematikan baru-baru ini di negara itu, kata guru berusia 45 tahun dari Kota Negombo itu.

Sebuah patung Bunda Maria dan sebuah spanduk khusus yang berisi penghormatan kepada para korban serangan teror terpasang di Dankotuwa, sebuah kota kecil di Distrik Puttalam.

Sembilan pelaku bom bunuh diri melancarkan serangan secara bersamaan di enam tempat termasuk tiga gereja pada 21 April. Serangan ini menewaskan 253 orang, hampir semuanya umat Kristen. Teroris kemudian mengklaim berafiliasi dengan ISIS.

Untuk Hari Poson Poya, banyak kota mempertontonkan karya seni yang menggambarkan berbagai kisah dari kehidupan Sang Buddha serta prosesi warna-warni dan lampion lampu yang terbuat dari kertas.

Umat Buddha terdiri atas 70 persen dari 21 juta jumlah penduduk di negara itu. Sementara itu,  umat Hindu terdiri atas 13 persen, umat Islam 9 persen dan umat Kristen 7 persen.

Nadeeka Bandara, seorang relawan beragama Buddha yang menikahi seorang umat Katolik, mengatakan ada banyak cara untuk mempromosikan dialog antaragama untuk mewujudkan perdamaian, kerukunan dan rekonsiliasi.

Hal ini penting karena Sri Lanka – yang masih mengupayakan pemulihan dari perang sipil yang berlangsung selama 26 tahun – masih rentan terhadap kekerasan berbasis agama dan tidak sedikit menargetkan umat Islam dan Kristen, katanya.

“Kami senang melakukannya dan berusaha menghindari perbedaan ras dan agama,” katanya sambil tersenyum.

Pubudhu Soysa, seorang pengusaha, mendirikan gerai es krim sebagai bentuk itikad baik setelah mengumpulkan donasi dari anggota komunitas bisnisnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi