UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Muslim Sri Lanka Hadapi Sentimen Anti-Islam Pasca Serangan Bom

Juni 26, 2019

Muslim Sri Lanka Hadapi Sentimen Anti-Islam Pasca Serangan Bom

Muslim di Sri Lankan melakukan shalat Idul Fitri di Masjid Raya di Kolombo pada 5 Juni. (Foto oleh Lakruwan Wanniarachchi/AFP)

Selama bertahun-tahun Shamina Bakeer memakai kerudung wajah demi kesopanan, dan juga karena itu membuatnya merasa lebih bebas untuk bepergian.

Namun sejak serangan bom teroris pada hari Minggu Paskah yang merenggut 253 nyawa, perempuan yang tinggal di Kolombo, ibukota Sri Lanka, itu telah menjadi sasaran pelarangan pemakaian penutup wajah.

Keputusan ini diambil oleh pemerintah sebagai langkah keamanan untuk menghentikan pelaku kekerasan yang bersembunyi di balik pakaian seperti itu, setelah serangan April yang sebagian besar menargetkan orang Kristen.

Shamina yang berusia tiga puluh tahun, ibu dari dua anak, sebelumnya bisa bergerak ke mana saja tanpa diidentifikasi sebagai wanita tua atau muda.

Shamina sangat taat pada persyaratan Islam dalam kaitannya dengan cara berpakaian wanita. Sejak larangan itu diberlakukan, dia belum keluar dari rumahnya, bahkan ke masjid setempat. Dia juga terpaksa berhenti mengajar di sebuah lembaga untuk wanita Muslim.

Shamina dan wanita lain berharap situasinya akan berubah, tetapi untuk saat ini dia menerima bahwa larangan itu diberlakukan karena alasan keamanan dan bukan sebagai bentuk diskriminasi agama.

Di luar Kolombo, ketika mengunjungi kerabat, ada tekanan yang lebih besar untuk mengikuti aturan kesopanan Islam dan dalam komunitas kecil ia langsung dikenali.

Anggota komunitas Muslim di Sri Lanka dihadapkan dengan sikap negatif dari banyak non-Muslim serta perpecahan dalam komunitas Islam itu sendiri, kata Pakiasothy Saravanamuttu, seorang akademisi yang mengepalai Pusat Alternatif Kebijakan.

Dia mencatat bahwa ada bias umum bahwa umat Islam ingin mengambil alih negara. Namun, toleransi yang lebih besar diperlukan karena keresahan seperti itu tidak didukung oleh fakta sejarah, katanya.

Sebagai contoh, banyak dari komunitas Muslim yang lebih luas menganggap pendukung kelompok militan sebagai ekstrimis.

“Elemen-elemen tertentu ingin memisahkan diri,” kata Saravanamuttu kepada ucanews.com.

Namun, ia mencatat bahwa umat Islam yang baru-baru ini menghancurkan sebuah masjid milik organisasi National Thowheed Jamath yang sekarang dilarang tidak boleh dimaafkan.

Aktivis sosial itu menunjukkan bahwa mengenakan burqa bukanlah persyaratan yang disetujui oleh Al-Quran dan itu mengarah pada “kecurigaan dan ketidakpercayaan.”

Muslim menjadi sasaran serangan balasan yang luas terhadap pemboman teroris, termasuk di bidang bisnis.

“Saya tidak tahu berapa lama untuk menghilangkan prasangka ini, tetapi akhirnya akan terjadi,” kata Saravanamuttu.

Dalam konteks ini ia percaya pemerintah harus lebih kuat mendorong rekonsiliasi, termasuk dengan mengambil sikap tegas terhadap biksu garis keras Buddha Gnanasara Thero, yang telah dituduh menghasut kebencian komunal.

Aktivis Muslim Deshabandu Jezima Ismail, yang dididik di sebuah biara Katolik, percaya bahwa para provokator berada di belakang serangan komunal kelompok Buddha baru-baru ini terhadap Muslim.

Dia juga setuju bahwa umat Islam harus mencari cara untuk berhubungan dengan anggota dari agama lain. Namun, dia khawatir bahwa wanita yang harus berhenti mengenakan kerudung akan merasa kehilangan “kepercayaan diri dan ketenangan.”

Ismail mengatakan bahwa boikot terhadap bisnis Muslim bisa berkurang begitu komunitas Islam mampu selangkah demi selangkah memenangkan kembali kepercayaan orang lain.

Secara tradisional, umat Islam telah diberi kebebasan untuk melakukan praktik keagamaan dan dapat mengadakan festival dan acara budaya lainnya di Sri Lanka.

“Semua orang hidup bersama dengan sangat baik,” kata Ismail.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi