UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tokoh Agama Dukung Usulan Nobel Perdamaian untuk NU-Muhammadiyah

Juni 27, 2019

Tokoh Agama Dukung Usulan Nobel Perdamaian untuk NU-Muhammadiyah

Dalam foto yang diambil pada 5 Juni ini, umat Islam di Bali sedang ikut shalat Idul Fitri. Para pemimpin agama telah mendukung usulan agar dua kelompok Islam terbesar - Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah - dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian. (Foto: Sonny Tumbelaka / AFP)

Komite Hadiah Nobel Perdamaian diminta untuk mempertimbangkan pemberian penghargaan kepada dua kelompok Islam moderat utama di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Usulan tersebut muncul dalam acara budaya baru-baru ini di Oslo, ibukota Norwegia yang diselenggarakan oleh Peace Research Institute Oslo (PRIO) dan kedutaan Indonesia untuk memperkenalkan NU dan Muhammadiyah kepada orang-orang Norwegia.

Kedua organisasi tersebut, yang memiliki jutaan anggota, dianggap berjasa dalam upaya menegakkan toleransi beragama dan memerangi ekstremisme.

Tokoh-tokoh yang mewakili berbagai organisasi keagamaan dalam kegiatan di Oslo menyarankan kepada anggota komite nobel agar mereka memberikan penghargaan kepada NU dan Mugammadiyah atas kontribusi mereka dalam menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama bagi orang-orang dari semua agama.

Seruan itu mendapat dukungan dari para pemimpin agama di Indonesia.

Menurut Pastor Frans Magnis Suseno SJ yang menghadiri acara dialog di Oslo, kedua kelompok telah memainkan peran kunci dalam mencegah gerakan radikal, seperti Wahhabi dan Hizbut Tahrir dari Timur Tengah, dari upayanya menanamkan pengaruh di Indonesia.

“Kehadiran kedua organisasi ini di tengah masyarakat Indonesia memberikan rasa aman dan jaminan bahwa nilai-nilai pluralisme dan toleransi akan tetap terjaga dan tumbuh di Indonesia,” tutur Romo Magnis, seperti dikutip Medcom.id.

Ia menyimpulkan tiga prinsip fundamental dari kiprah NU dan Muhammadiyah untuk perdamaian dan memajukan toleransi, yakni menjunjung tinggi keberagaman, kebebasan beragama, keterbukaan demokrasi dan menolak diskriminasi dan intoleransi.

Pendeta Gomar Gultom, sekertaris umum Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengatakan, kedua organisasi tersebut telah “berhasil menghadirkan wajah Islam yang teduh, akomodatif, toleran dan moderat.”

“Mereka menghadirkan Islam yang sejalan dengan nilai-nilai HAM dan dengan demokrasi,” katanya.

Ia menjelaskan, usaha NU dan Muhammadiyah tidak hanya dalam rangka mmbangun peradaban Indonesia tetapi juga sedang membangun peradaban dunia untuk masa depan.

Menurutnya, peradaban dunia di masa depan akan sangat banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam dan Islam yang dikembangkan oleh Muhammadiyah dan NU sangat postif sumbangannya bagi peradaban dunia.

I Nyoman Udayana Sangging, tokoh agama Hindu menyebut mereka “patut’ diberikan nobel.

Ia mengatakan, komitmen mereka sudah tidak diragukan lagi.

Ia menambahkan, sikap tegas keduanya membuat kaum minoritas tidak gentar, meskipun ada kelompok-kelompok yang menyebar ancaman.

Sementara itu, imam aktivis, Rm Antonius Benny Susetyo mengatakan, dua organisasi itu telah menjadi contoh yang baik tentang cara beragama yang inklusif dan bagaimana menjadikan agama sebagai rahmat bagi semua orang.

“Ini tidak hanya menjadi menjadi contoh yang baik bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia sebagai inspirasi merawat perdamaian,” katanya.

Ia menyatakan, NU dan Muhammadiyah, membumikan nilai nilai agama menjadi universal bagi kesejahteraan umat manusia.

Didirikan pada tahun 1926, NU diklaim sebagai organisasi Islam terbesar di dunia dengan 90 juta anggota, sementara Muhammadiyah, yang didirikan pada tahun 1912 memiliki 50 juta anggota.

Agar organisasi-organisasi ini dipertimbangkan untuk menjadi penerima Nobel Perdamaian, nominasi mereka harus secara resmi diserahkan kepada komite nobel yang akan memutuskan apakah semua kriteria nominasi telah dipenuhi. 

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi