UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Polisi Thailand Tangkap 51 Pencari Suaka Kristen Asal Pakistan

Juli 9, 2019

Polisi Thailand Tangkap 51 Pencari Suaka Kristen Asal Pakistan

Pencari suaka Kristen asal Pakistan dibawa dengan mobil polisi di Bangkok pada 8 Juli.

Pihak berwenang Thailand di Bangkok telah menangkap 51 pencari suaka Kristen dari Pakistan dalam sebuah insiden yang telah menyebabkan ketakutan di antara para pengungsi Kristen di kota itu akan adanya tindakan keras imigrasi terhadap imigran ilegal.

Menurut saksi mata, otoritas imigrasi yang tiba dengan dua mobil polisi berhenti di luar sebuah gedung apartemen sewaan rmurah di Bearing Soi 7 di Bangkok timur di mana beberapa keluarga Kristen Pakistan bersembunyi setelah memperpanjang visa turis mereka ke Thailand.

Tampaknya bertindak atas informasi dari seorang warga setempat yang kecewa, polisi imigrasi mengetuk pintu-pintu yang dipilih sekitar pukul 7 pagi pada tanggal 8 Juli. Ketika penghuni yang ketakutan tidak menjawab, para petugas merusakkan pintu dengan palu.

Mereka kemudian mengumpulkan seluruh keluarga dan membawa mereka ke Pusat Tahanan Imigrasi Bangkok yang terkenal buruk di mana para napi menderita, seringkali tanpa batas waktu, dalam sel-sel yang kotor dan penuh sesak.

“Mereka membawa semua orang – pria, wanita, orang tua, anak-anak,” kata seorang pencari suaka Kristen Pakistan yang mengetahui kejadian tersebut melalui koneksi telepon kepada ucanews.com.

“Mereka bahkan mengambil orang tua yang sakit yang tidak bisa berjalan lagi.”

Ketika beberapa pencari suaka Kristen tampak tidak mau meninggalkan apartemen, petugas imigrasi diduga menganiaya mereka, termasuk para ibu di depan anak-anak mereka yang menangis.

“Para petugas menghajar beberapa orang, bahkan wanita,” kata seorang Kristen Pakistan kepada ucanews.com.

“Mereka mengambil beberapa teman saya. Saya sangat khawatir tentang mereka.”

Sebagai bukti dari insiden itu, orang-orang Kristen Pakistan memperlihatkan foto-foto pintu kayu lapis yang dihancurkan dan banyak pengungsi Pakistan, termasuk seorang wanita tua yang kebingungan, dibawa pergi dengan mobil polisi, yang diambil dengan handphone.

Insiden itu telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan umat Kristen Pakistan di Bangkok bahwa pihak berwenang setempat mungkin akan melakukan tindakan keras lain terhadap orang-orang yang tinggal secara ilegal di negara itu, termasuk para pencari suaka tanpa status pengungsi yang layak.

Ratusan orang Kristen Pakistan yang meninggalkan tanah air mereka karena takut akan nyawa mereka tetap berada dalam situasi sulit di Bangkok. Mereka tiba di negara itu dengan visa turis yang telah lama berakhir.

Pihak berwenang Thailand, yang menolak untuk menerima mereka sebagai pengungsi asli, menganggap mereka sebagai imigran ilegal.Akibatnya, umat Kristen Pakistan, bersama dengan minoritas teraniaya lainnya dari negara lain, secara rutin ditangkap dan ditahan di pusat-pusat penahanan imigrasi yang penuh sesak dalam kondisi seperti penjara.

Untuk menghindari nasib itu, para pencari suaka Kristen Pakistan bersembunyi dari pihak berwenang di apartemen-apartemen kecil yang disewakan. Mereka mengatakan mereka tidak bisa atau tidak akan kembali ke Pakistan karena mereka pasti akan dianiaya, dan mungkin dibunuh, karena agama mereka.

Orang-orang Kristen, yang jumlahnya kurang dari 2 persen dari populasi negara berpenduduk mayoritas Muslim, secara luas dianggap sebagai minoritas yang paling teraniaya di wilayah tersebut.

Orang-orang Kristen di Pakistan, di mana bentuk Islam konservatif mendominasi, menghadapi berbagai bentuk diskriminasi.

Banyak orang Kristen dan minoritas agama lainnya telah dipenjara dan dibunuh atas tuduhan menghujat Islam.

“Kami tidak bisa kembali tetapi kami juga tidak bisa tinggal di sini,” kata seorang pencari suaka Kristen Pakistan. “Thailand juga tidak menginginkan kami.”

Para pencari suaka ini mengatakan satu-satunya harapan mereka terletak pada diterima sebagai pengungsi oleh negara ketiga. Namun, proses melakukannya dapat memakan waktu beberapa tahun.

Pihak berwenang Thailand membawa pencari suaka Kristen asal Pakistan dengan mobil polisi di Bangkok pada 8 Juli.

Sementara itu, mereka melakukan yang terbaik agar tidak terlihat dengan bersembunyi di apartemen kecil. Mereka hanya bisa keluar, secara singkat dan berkala, hanya setelah matahari terbenam untuk berbelanja di toko-toko setempat.

Karena tidak dapat bekerja secara legal, sebagian besar orang Kristen Pakistan memenuhi kebutuhannya dengan pemberian yang diberikan oleh badan amal Kristen.

Ke-51 orang Kristen Pakistan yang ditangkap kemungkinan akan ditahan di lingkungan sederhana yang minim perawatan kesehatan, mungkin selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Karena ponsel mereka telah diambil, mereka tidak dapat dihubungi dari luar.

Nasib mereka telah membuat gelisah para pencari suaka lainnya yang terus bersembunyi di sekitar ibukota Thailand.

“Istri saya sangat khawatir. Dia sangat khawatir, ”kata seorang pemuda Katolik Pakistan dari Lahore yang istrinya mengandung anak kedua.

“Kami sangat ingin keluar dari Thailand, tetapi yang bisa kami lakukan hanyalah menunggu [sampai kami diterima oleh negara ketiga].”

Orang Kristen Pakistan lainnya sekarang harus mencari tempat baru untuk bersembunyi sementara. Merupakan pelanggaran hukum di Thailand untuk menyewakan apartemen kepada imigran gelap dan beberapa pemilik segera menyuruh pencari suaka untuk berkemas saat melihat ada masalah.

“Para pemilik apartemen telah memerintahkan kami untuk meninggalkan gedung sesegera mungkin karena hari-hari berikutnya akan sangat berbahaya bagi kami,” kata seorang pria Kristen Pakistan, merujuk pada keluarganya sendiri dan juga dua keluarga lainnya.

“Kami telah berusaha keras tetapi kami tidak dapat menemukan tempat aman lainnya. Kami sangat tertekan.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi