UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Kristen Tiongkok Dilarang Bicara tentang Penganiayaan oleh Negara

Juli 10, 2019

Umat Kristen Tiongkok Dilarang Bicara tentang Penganiayaan oleh Negara

Seorang umat memakai salib di luar sebuah gereja Katolik di Puyang di provinsi Henan, Cina. Rezim komunis mulai menekan keras umat Katolik di Henan tahun lalu dan penganiayaan telah menyebar ke Hebei. (Foto oleh Greg Baker / AFP)

Ketika pemerintah Cina terus menekan kebebasan beragama, agama Kristen menghadapi pencabutan paksa salib dan pembongkaran gereja di seluruh negara yang sangat luas itu.

Namun, diancam oleh pihak berwenang dan takut akan pembalasan, beberapa anggota Gereja Katolik tidak berani mengungkapkan apa yang terjadi kepada dunia luar, menyebabkan semua berita tentang masalah ini diblokir.

Rezim komunis mulai menekan keras Gereja di provinsi Henan tahun lalu dan sejak itu penganiayaan telah merebak ke wilayah tetangga Hebei.

Sumber-sumber Gereja di Hebei mengatakan mereka telah diancam oleh pihak berwenang dan tidak berani mengungkapkan fakta sebenarnya kepada dunia luar.

Salib beberapa gereja di Keuskupan Handan Hebei secara paksa dihilangkan pada bulan Mei dan sejak itu semua berita tentang pembongkaran gereja telah diblokir oleh pihak berwenang.

Seorang Katolik setempat, yang hanya mengidentifikasi dirinya John, mengatakan kepada ucanews.com bahwa pihak berwenang telah melarang anggota gereja untuk membahas insiden itu, dan jika tidak diindahkan maka akan menghadapi pembalasan.

Dia menjelaskan bahwa pembalasan itu mungkin termasuk penghancuran lebih banyak salib dan gereja, bahkan penahanan para imam. Ancaman pembalasan itu membuat para pastor memilih untuk diam, kata John.

Pastor Francis dari Hebei juga menunjukkan bahwa banyak gereja di provinsi itu menghadapi pembongkaran dan dibangun kembali untuk keperluan lain.

Namun, ia mengakui bahwa umat Katolik dan imam setempat tidak berani merilis berita dan foto karena mereka takut akan pembalasan oleh pihak berwenang.

“Setelah foto yang relevan dirilis, meskipun tidak teridentifikasi lokasi spesifik, Anda tahu bahwa pihak berwenang akan menyelidiki dan mencari tahu sumber berita tersebut. Ini adalah perbuatan yang berbahaya dan licik, ”katanya kepada ucanews.com.

“Semua orang ingin melindungi diri. Mereka [pemerintah] ingin membuat seseorang bertanggung jawab untuk ini. Mereka akan balas dendam.”

Pastor Francis juga mencatat bahwa seorang pemimpin keuskupan diminta untuk menyerahkan paspornya dan dilarang pergi ke luar negeri setelah ia menolak bekerja sama dengan para pejabat.

Selain itu, ia menambahkan, seorang imam di Cina tengah menghadapi pembalasan karena dalam homilinya saat Misa ia menyebut seorang imam di keuskupan tetangga yang telah ditahan oleh pihak berwenang.

“Pastor itu ingin melakukan sesuatu untuk Gereja tetapi tidak sepenuhnya memahami peraturan tentang urusan agama.“

“Setelah dilaporkan [oleh seorang umat], dia diskors oleh pemerintah, tidak boleh memimpin Misa dan harus menulis penjelasan tentang dugaan kesalahannya, dengan mengatakan bahwa dia bermaksud membebaskan imam yang dibawa pergi.”

Imam itu, kata Pastor Francis, adalah ketua sebuah asosiasi patriotik Cina, tetapi setelah merujuk pada keadaan buruk dari imam yang ditahan itu, ia menyebabkan gereja dan kediamannya digeledah oleh pihak berwenang.

Pemblokiran berita tidak hanya dikenakan pada mereka yang tinggal di daratan Cina. Outlet media luar negeri yang menerbitkan berita “ofensif” juga sangat ditekan, sehingga semakin sulit bagi dunia luar untuk mengetahui tentang penganiayaan agama di negara ini.

Majalah online Bitter Winter, yang berbasis di Turin, Italia, telah memberikan perhatian khusus pada masalah agama di Cina dan stafnya juga telah ditangkap dan ditahan oleh pihak berwenang.

John percaya tindakan pembalasan ini dimaksudkan untuk secara ketat mengontrol berita penganiayaan agama agar tidak diungkapkan kepada dunia luar dan untuk menghindari kritikan dari komunitas internasional.

“Perbuatan seperti ini oleh Partai Komunis Cina mengungkapkan bahwa mereka tidak menghormati kebebasan berbicara, kepercayaan dan pers, secara serius melanggar hak asasi manusia dan secara kejam menggunakan kekerasan untuk mempertahankan rezim kediktatorannya,”kata John.

Marco Respinti, direktur Bitter Winter, mengatakan pada 23 Juni bahwa pihak berwenang China telah menangkap 45 jurnalis dan kontributornya pada tahun 2018, 21 dari mereka masih ditahan.

Dia mengatakan bahwa satu artikel mengungkapkan bahwa pemerintah provinsi di Henan, Zhejiang dan provinsi lainnya diam-diam telah memerintahkan tindakan keras serius terhadap media luar negeri tahun ini dan penyelidikan menyeluruh terhadap wartawan, koresponden, dan teman-teman mereka di Cina daratan.

“Beberapa dari mereka dilaporkan ketika mereka meminta materi berita. Mereka harus meninggalkan pekerjaan mereka dan melarikan diri untuk menghindari penangkapan oleh polisi,” kata Respinti.

Dia mengatakan kepada ucanews.com bahwa beberapa jurnalis dituduh berpartisipasi dalam infiltrasi kekuatan asing, melakukan subversi terhadap negara, membocorkan rahasia negara dan kejahatan terkait lainnya.

Namun tidak ada rincian lebih lanjut tentang tuduhan-tuduhan ini, katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi