UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Aktivis Desak Polisi Segera Bebaskan Wanita Sakit Mental

Juli 12, 2019

Aktivis Desak Polisi Segera Bebaskan Wanita Sakit Mental

Bonar Tigor Naipospos, wakil ketua SETARA Institute, mengatakan polisi harus membebaskan SM karena KUHP menyatakan bahwa setiap orang yang menderita sakit mental tidak bisa bertanggungjawab atas perbuatannya. (ucanews.com)

Para aktivis mendesak polisi untuk segera menghentikan penyelidikan dan membebaskan wanita yang mengalami gangguan mental yang ditangkap karena membawa anjing ke dalam sebuah masjid di Sentul, Jawa Barat.

Wanita itu, yang diindentifikasi sebagai SM, ditangkap pada 30 Juni setelah dia masuk ke dalam masjid Al Munawaroh di Sentul City, Jawa Barat, bersama seekor anjing piaraannya dan menggunakan sepatu. 

SETARA Institute telah mengeluarkan pernyataan yang menyerukan polisi untuk menghentikan penyelidikan terhadap wanita itu. Dalam pernyataan mereka mengatakan tindakan polisi keliru dan tidak bisa dibenarkan serta lemah secara hukum. 

“Polisi harus membebaskan dia karena KUHP menyatakan bahwa setiap orang yang menderita sakit mental tidak bisa bertanggungjawab atas perbuatannya,” kata Bonar Tigor Naipospos, wakil ketua SETARA Institute kepada  ucanews.com pada 11 Juli.

Ia mengatakan polisi telah mengakui bahwa dia menderita sakit mental, maka kasusnya harus dihentikan.

“Jika ia ditahan di penjara maka ia akan semakin depresi,” katanya.

Ia mengatakan SETARA Institute telah mendesak polisi untuk tidak menggunakan UU Penodaan Agama karena UU itu tidak adil, khususnya melawan kelompok-kelompok rentan dan minoritas-minoritas agama. 

“Polisi juga tidak boleh tunduk pada tekanan massa,” katanya.

Senada juga diungkapkan oleh Arif Maulana, ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. 

Ia mengatakan kelompoknya juga menuntut polisi untuk menghentikan kasus tersebut, karena berdasarkan pemeriksaan medis SM berada dalam kondisi depresi.

“Penahanannya berpotensi melanggar haknya untuk perlindungan kesehatan,” katanya. 

“SM perlu perawatan khusus, dan tuduhan penodaan agama terhadapnya harus dihentikan karena tidak ada bukti yang cukup kuat,” katanya.

“Oleh karena itu, polisi harus mengeluarkan SP3 terhadap SM,” tambahnya.

Romo Antonius Benny Susetyo, anggota Unit Kerja Presiden untuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), mengatakan polisi harus profesional menangani kasus ini.

“Jika ia terbukti sakit mental, polisi tidak perlu melanjutkan proses hukum terhadap kasusnya,” kata Romo Benny. 

Polres Bogor AM Dicky Pastika Gading mengatakan bahwa SM sedang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di Bogor, tapi kasusnya tetap di bawah penyelidikan polisi.

“Untuk  tersangka SM sendiri, hasil daripada koordinasi dan keterangan dari rumah sakit, dari ahli jiwa, bahwa yang bersangkutan perlu perawatan sehingga yang bersangkutan kita rawat di RS Marzoeki Mahdi. Statusnya tahanan,” kata AKBP Dicky.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi