UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Seorang Ibu Berharap Ada Mukjizat Bagi Anaknya Saat Kanonisasi Biarawati India

Juli 12, 2019

Seorang Ibu Berharap Ada Mukjizat Bagi Anaknya Saat Kanonisasi Biarawati India

Jessy Joppy, yang menjadikan Beato Mariam Thresia sebagai pelindungnya, duduk di luar tempat ziarah biarawati Kerala yang akan dikanonisasi di Vatikan pada 13 Oktober. Joppy berharap melihat putranya berjalan secara ajaib pada hari itu. (Foto oleh Thomas Christopher)

Jessy Joppy berharap mendapat mukjizat, dimana putranya yang berusia 5 tahun bisa berjalan pada 13 Oktober, hari ketika Paus Fransiskus akan mendeklarasikan seorang biarawati India, Beata Mariam Thresia, menjadi orang suci.

Bocah itu, Ebin Joppy, tidak bisa duduk dan berjalan sejak lahir. Perawatan medis gagal memperbaiki kondisinya. Namun, ibunya yakin, berkat perantaraan biarawati itu akan ada mukjizat pada hari kanonisasi.

“Saya mengharapkan mukjizat,” katanya sembari mengangkat putranya ke pangkuannya saat dia duduk di beranda Pusat Peziarah Mariam Thresia di Desa Kuzhikattussery, Distrik Thrissur, negara bagian Kerala.

Jasad dari biarawati itu dimakamkan di tempat itu, yang menarik ratusan orang untuk mendapat berkah dari biarawati, yang tinggal dan bekerja di desa-desa terdekat.

Gelombang peziarah telah meningkat pesat sejak Vatikan mengumumkan pada 1 Juli bahwa kanonisasi akan dilakukan pada bulan Oktober, kata Suster Jisha Joseph dari Kongregasi Keluarga Kudus, yang didirikan biarawati itu pada tahun 1914.

Suster Joseph, yang telah bekerja di daerah misi di India utara, sekarang membantu mengoordinasikan kegiatan pusat peziarah dan beberapa program pembaruan keluarga yang dilakukan oleh para biarawati.

Beata Mariam Thresia mendirikan kongregasi pada usia 37 tahun setelah bekerja beberapa tahun dengan keluarga-keluarga di parokinya di Desa Punthenchira, di mana rumah leluhurnya berada.

“Dia bergabung dengan dua biara tetapi tidak pernah merasa terpanggil untuk keduanya,” kata Suster Giselda, seorang biarawati senior yang tinggal di sebuah biara yang berdekatan dengan rumah keluarga pendiri mereka. “Dia mendapat penglihatan dari Yesus dan Bunda Maria untuk mendirikan Kongregasi dengan nama Keluarga Suci.”

Karunia khususnya adalah mendamaikan anggota keluarga yang hancur dan bekerja untuk menumbuhkan perdamaian dan suasana doa di dalam keluarga mereka, kata suster tua itu.

“Dia berdoa untuk keluarga, terutama untuk pertobatan orang berdosa. Dia berpuasa untuk mereka dan mengunjungi mereka serta mendesak mereka untuk bertobat. Beberapa pertobatan ajaib terjadi,” kata Sister Giselda.

Keluarganya yang sempat kaya menjadi miskin setelah kakeknya menjual properti berharga untuk menggelar pernikahan mahal dari tujuh putrinya. Keluarganya semakin menderita ketika ayah dan saudara-saudaranya menjadi pecandu alkohol.

Ibunya adalah istri kedua ayahnya dan dia memiliki dua saudara laki-laki dan dua saudarai perempuan. Ibunya meninggal pada tahun 1888 ketika usianya hampir 12 tahun, dan pada saat itu ia terpaksa putus sekolah, menurut biografinya, yang telah diterima oleh Vatikan.

Thresia dan tiga temannya mulai menghabiskan sebagian besar waktunya di gereja paroki untuk membersihkan dan mendekorasi gereja, selain berdoa. Dia juga membuat ikrar kesucian pribadi.

Persahabatan keempatnya tumbuh dan menjadi kelompok untuk doa dan kerasulan keluarga. Mereka mengundang kritik karena menantang kebiasaan setempat saat itu, di mana mereka melakukan aktivitas di tempat umum tanpa didampingi oleh anggota keluarga laki-laki.

“Dia biasa berdoa dan mencari pertolongan Keluarga Suci Yesus, Maria dan Yusuf. Dia melihat mereka dalam penglihatan dan menerima bantuan untuk kerasulan, khususnya untuk pertobatan orang berdosa, ” kata Sister Giselda.

Melayang dan sering ekstase

Pada tahun 1913, 10 tahun setelah dia meminta izin untuk memulai kongregasi, Uskup Trichur mengizinkannya membangun rumah doa untuknya dan ketiga rekannya. Pada 14 Mei 1914, secara kanonik, kongregasinya ditetapkan sebagai Kongregasi Keluarga Kudus.

Thresia menjadi atasan pertamanya dan ketiga temannya terdaftar sebagai postulan.

Dia mengatakan telah menerima beberapa karunia, seperti nubuat dan penyembuhan, dan telah memiliki pengalaman terangkat sering ekstasi. Pada hari Jumat orang-orang biasa berkumpul untuk melihat Thresia terangkat tinggi dan menggantung dalam bentuk salib di dinding kamarnya, kata dokumen Vatikan tentang dia.

“Pendidikan anak perempuan adalah teologi pembebasan Mariam Thresia yang beraksi tanpa slogan. Beberapa gadis muda tertarik kepadanya karena kesederhanaan, kerendahan hati, dan kesuciannya yang bersahaja,” kata dokumen itu.

Sekolah anak perempuan pertama di desa dimulai olehnya satu tahun setelah kongregasi dibentuk. “Pendidikan anak perempuan adalah prioritasnya,” kata Suster Giselda.

Kongregasi, dengan lebih dari 1.900 suster yang mendiami 175 rumah, aktif di sebagian besar negara bagian India dan juga di negara-negara termasuk Jerman, Italia, dan Ghana.

Proses kanonisasi dimulai pada tahun 1971 dan pada tahun 1999 langkah pertama selesai ketika dia dipanggil sebagai hamba yang mulia.

Dia dibeatifikasi pada tahun 2000 setelah Vatikan mengakui bahwa berkat perantaraannya pada tahun 1970 telah membantu secara ajaib menyembuhkan Mathew Pellissery yang berusia 14 tahun, yang memiliki kaki cacat bawaan dan tidak dapat berjalan dengan baik. Kedua kaki sembuh dalam setahun.

Pada bulan Februari tahun ini, Vatikan menerima mukjizat lain, membuat namanya lancar untuk kanonisasi. Diakui bahwa berkat perantaraan suster itu secara ajaib menyembuhkan bayi laki-laki yang lahir prematur pada 7 April 2009, setelah dokter menyatakan mereka tidak berdaya untuk menyelamatkan anak itu.

Dia adalah biarawati India keempat dan ketiga dari Kerala yang dikanonisasi. Selain St Teresa dari Kolkata, dua biarawati Kerala – St. Alphonsa dan St. Euphrasia – telah dikanonisasi dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami berterima kasih atas doa dan pekerjaan semua orang yang membantu kami di sini,” kata Sister Punneliparambil Udaya, pemimpin umum kongregasi.

Dia mengatakan sekitar 200 biarawati dan 52 uskup Gereja Siro-Malabar, yang berbasis di Kerala, akan menghadiri upacara kanonisasi di Vatikan.

“Para uskup Siro-Malabar sudah ada di sana untuk kunjungan ad limina mereka. Kami tidak yakin berapa banyak uskup lain akan ada di sana, tetapi pasti akan ada yang lain dari tempat biarawati kami bekerja,” katanya.

Program-program di Vatikan termasuk malam lilin, upacara kanonisasi dan Misa syukur pada 14 Oktober.

Para biarawan akan mengadakan doa khusus pada hari itu dan perayaan nasional direncanakan pada 16 November di dekat pusat peziarah. Pemimpin politik dan dari  agama lain juga diharapkan hadir, kata suster itu.

Perayaan akan jadi makin bermakna bagi Joppy jika mukjizat yang dia harapkan memang terjadi.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi