UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Keadilan Masih Jauh dari Korban Bom Minggu Paskah di Sri Lanka

Juli 15, 2019

Keadilan Masih Jauh dari Korban Bom Minggu Paskah di Sri Lanka

Setelah serangan bom saat Minggu Paskah yang menewaskan 259 orang di Sri Lanka. (Foto ucanews.com)

Kekejaman Minggu Paskah yang menewaskan 259 orang dan mencederai lebih dari 500 lainnya dalam serangkaian pemboman bunuh diri teroris di Sri Lanka kini sudah tiga bulan.

Orang Kristen yang pergi merayakan Paskah di Kochchikade, Katuwapitiya, dan Batticaloa pada 21 April malah terjebak dalam kehancuran dan kesedihan yang tak terbayangkan.

Kelompok radikal setempat yang berafiliasi ISIS membom tiga gereja dan tiga hotel mewah, meluncurkan serangan simultan pada enam sasaran.

Ravindu Nirosh Fernando, yang kehilangan sesama anggota paroki di Katuwapitiya, mengatakan bahwa 11 minggu setelah pembantaian orang-orang yang tidak bersalah dan tidak bersenjata, pemerintah telah gagal memberikan keadilan bagi para korban.

Orang-orang juga hidup dalam ketakutan akan serangan lebih lanjut setelah laporan Intelijen Nasional India baru-baru ini memperingatkan bahwa kedua negara masih terancam.

Fernando, yang menghadiri Misa hari itu tetapi selamat, mengatakan banyak dari mereka yang menderita luka parah tidak hanya menghadapi kehidupan tanpa orang yang mereka cintai, tetapi juga merasa ditinggalkan oleh pihak berwenang.

Selain itu, kata Fernando, kesulitan yang dihadapi orang-orang yang berusaha menyembuhkan para korban dari trauma psikologis dan fisik yang disebabkan oleh serangan yang menghancurkan itu juga tidak bisa dianggap remeh.

Karena itu mereka berterima kasih kepada para biarawati, imam, , petugas Caritas, dan kelompok sukarelawan yang masih mengunjungi rumah mereka untuk menawarkan bantuan dan bimbingan saat mereka berusaha mengatasi tantangan baru hidup mereka.

Ada juga masyarkat umum yang ketakutan, banyak di antaranya yang telah kehilangan mata pencaharian mereka. Fernando punya catatan pribadi, yakni salah satu temannya telah menjadi yatim piatu, karena kedua orangtuanya terbunuh dalam salah satu ledakan bunuh diri.

Dukungan gereja setempat

Uskup Auksilier JD Anthony Jayakody dari Kolombo mengatakan komitmen Gereja untuk membantu mereka yang membutuhkan tidak akan selesai dalam beberapa bulan atau tahun tetapi akan bertahan lebih lama.

“Orang-orang cacat yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan akan dijaga sepanjang hidup mereka dan sampai mereka benar-benar sembuh,” kata Uskup Jayakody.

“Anak-anak yang kehilangan orang tua mereka akan dirawat sampai mereka menyelesaikan pendidikan tinggi dan mendapatkan pekerjaan.”

Sekitar 330 orang yang menderita luka-luka diberikan 16,6 juta rupee (US$ 94.500) untuk keperluan pengobatan dan 354 keluarga, yang terkena dampak spiritual dan sosial, telah menerima manfaat melalui proyek-proyek khusus dengan nilai 17 juta rupee.

“Keluarga yang terkena dampak yang tidak memiliki rumah sendiri akan dipertimbangkan untuk mendapat bantuan untuk membeli rumah, dan 53 juta rupee sudah dialokasikan untuk membeli tanah untuk mereka.

Sejumlah 25 juta rupee juga telah disediakan untuk mereka yang membutuhkan perawatan medis lebih lanjut, sementara siswa yang membutuhkan bantuan keuangan untuk pendidikan sekolah menengah dan universitas dapat diberikan bantuan dengan nilai 84,6 juta rupee.

Uskup mengatakan bahwa untuk lebih membangkitkan semangat para korban, 8 juta rupee telah diperuntukkan untuk tujuan menyediakan psikoterapi dan konseling.

“Kami tidak bermaksud untuk mengungkapkan identitas mereka dan menyoroti mereka sebagai penerima manfaat kami. Sebaliknya kami ingin menjaga kerahasiaan untuk menjaga martabat mereka,” kata uskup.

Para imam Katolik telah mengajukan petisi ke Mahkamah Agung Sri Lanka menuduh pemerintah gagal bertindak atas peringatan intelijen yang bisa mencegah pemboman Minggu Paskah.

Para imam menuduh bahwa 13 pejabat publik, termasuk Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, bersalah karena lalai menjalankan tugas dan melanggar hak asasi warga negara, termasuk hak umat Katolik untuk secara bebas menjalankan agama mereka.

Pemerintah Sri Lanka telah memulai beberapa investigasi terhadap ledakan Minggu Paskah, termasuk satu oleh komite presiden dan lainnya oleh komite terpilih parlemen.

Umat Katolik telah dilarang membawa tas saat ke gereja dan diperingatkan untuk tidak berkumpul dalam kelompok setelah Misa.

Perayaan-perayaan bahkan telah direduksi menjadi urusan sederhana dan novena terbatas, sementara tentara dan polisi berjaga di setiap pintu masuk gereja dan sekolah.

Suster M. Michaelin, sekretaris Komisi Urusan Pria dan Wanita Religius, mengatakan bahwa tujuan utama mereka adalah membentuk kelompok dan mulai mengunjungi semua keluarga.

Anggota telah diberi nasihat tentang cara memberikan konseling trauma.

“Rumah mereka dipenuhi oleh para imam, para suster dan bruder. Satu kelompok dipercayakan untuk menangani tiga keluarga,” kata Suster Michaelin.

Kardinal Malcolm Ranjith mengatakan saat ini masih belum teridentifikasi dengan jelas siapa yang bertanggung jawab atas pembantaian itu.

“Kami tidak tahu kebenaran ledakan bom itu. Siapa yang ingin melakukan ini? Siapa yang mendukung mereka? Siapa yang berusaha menyembunyikan kebenaran? Mengapa mereka ingin melakukan itu?” tanya Kardinal Ranjith ketika berbicara kepada orang-orang Sri Lanka saat Misa khusus di Milan, Italia.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi