UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pusat Rehabilitasi Suster FCJM Bawa Harapan Bagi Penyandang Disabilitas

Juli 19, 2019

Pusat Rehabilitasi Suster FCJM Bawa Harapan Bagi Penyandang Disabilitas

Oeslen Tambunan, pria berusia 45 tahun yang lumpuh setelah kecelakaan kerja pada 1997. Sekarang ia menghabiskan waktu berhari-hari dengan menjahit di Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya (PRHJ) di Pematangsiantar, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. (Ryan Dagur/ucanews.com)

Kehidupan Oeslen Tambunan berubah secara dramatis setelah ia mengalami kecelakaan di tempat kerja pada tahun 1997. Kala itu, saat sedang bekerja sebagai operator mesin pemotong kayu di Riau, tubuhnya tertimpa kayu. Ia pun cedera parah, termasuk syaraf tulang belakangnya rusak, yang  membuatnya lumpuh.

Melewati hari-harinya di tempat tidur untuk proses perawatan, ia sempat merasa putus asa dengan hidupnya. “Saya bertanya kala itu, untuk apa lagi saya hidup,” katanya.

Beruntung banyak hal mulai berubah bagi pria berusia 45 tahun itu ketika lima tahun pasca kejadian tragis itu, ia dirawat di Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya (PRHJ), yang dikelolah para suster Kongregasi Putri Hati Kudus Yesus dan Maria atau FCJM di Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Di sana, ia mendapat perawatan fisioterapi. Para suster juga mengajarinya cara menjahit, yang menurutnya bisa membuat ia perlahan-lahan bangkit.

“Saya kini menikmati pekerjaan ini. Mungkin hanya ini yang bisa saya lakukan selama sisa hidup saya,” kata Tambunan dalam sebuah wawancara dengan ucanews.com di pusat rehabilitasi itu, sambil serius menjahit sebuah baju.

Di ruangan lain, Sahat Maruli Sipayung serius mengoperasikan laptop. Ia bekerja di pusat rehabilitasi itu pasca tahun 2002 menjalani operasi kakinya yang bengkok.

Ia mengatakan merasa minder saat menyadari bahwa dirinya, yang merupakan satu-satunya laki-laki dari lima bersaudara, bertumbuh menjadi cacat.

“Orangtua memberi tahu saya bahwa saya salah suntik ketika kena demam waktu kecil. Dua minggu pasca suntik, kaki saya berubah,” kata pria asal Saribu Dolok ini.

Perjumpaan dengan seorang suster FCJM saat ia menempuh pendidikan SMA pada tahun 2002 kemudian membawa angin segar bagi Sipayung. 

Mengetahui bahwa ia minder karena fisiknya, suster itu membawa ia ke PRHJ. “Ia mengatakan kepada saya bahwa bukan hanya saya yang mengalami seperti ini. Setelah tahu hal itu, saya baru mulai mensyukuri hidup saya karena ternyata ada yang situasinya lebih parah,” katanya.

Ia kini bisa berjalan, meski masih tetap menggunakan satu tongkat.

“Perasaan minder yang dulu ada kini hilang, terutama setelah saya menikah dan sudah punya dua anak yang sehat dan lahir normal,” kata pria 32 tahun ini, yang menikah dengan salah satu karyawati di PRHJ.

Sahat Maruli Sipayung, yang menjalani operasi kaki pada tahun 2002 sekarang menangani kantin di PRHJ.

Membawa Harapan

Berdiri di atas lahan 2,5 hektar, PRHJ menjadi tempat menemukan harapan hidup bagi ribuan kaum disabilitas, mayoritas dari mereka berasal dari wilayah Sumatera.

Tempat ini didirikan oleh suster asal Belanda, Jeanette van Paasen FCJM pada tahun 1981, merespon situasi langkanya tempat rehabilitas bagi penyandang disabilitas di wilayah Sumatera Utara.

Hingga kini, PRHJ telah merawat lebih dari 7 ribu pasien dengan beragam jenis disabilitas, demikian menurut Sr Leoni Manalu FCJM, direktur PRHJ.

Sr Ferdinanda Lumbantoruan FCJM, yang menangani fisioterapi menjelaskan, selain melakukan pelayanan rutin, setiap tahun, pusat rehabilitasi itu melakukan operasi untuk tulang pada Februari dan operasi plastik pada September.

Operasi ini yang berlangsung di Rumah Sakit Harapan, milik Keuskupan Agung Medan tidak jauh dari PRHJ, berlangsung atas kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Rumah Sakit Adam Malik Medan dan para dokter dari Belanda.

Salah satu di antara dokter asal Belanda, Dr JM Vaandrager rutin datang sejak operasi itu pertama kali dilakukan dan sudah menangani lebih dari 1,510 pasien.

Tahun lalu, 68 pasien menjalani operasi tulang dan 125 orang untuk operasi plastik. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk dari Timor Leste.

Suster Lumbantoruan mengatakan sebagian besar pasien kembali ke keluarga mereka setelah dirawat. 

“Namun, sebagian lagi menghabiskan waktu bertahun-tahun di pusat rehabilitasi ini,” katanya.

Sabdi Sitangang, yang sudah 15 tahun bekerja di unit fisioterapi mengatakan ada pasien yang butuh bertahun-tahun untuk bisa mengalami perubahan.

Sertauli Simamora, yang pada usia 4 menderita luka bakar di wajah setelah tersiram dengan minyak goreng kini bekerja di bagian administrasi.

“Butuh ketekunan dan kesabaran,” kata pria 45 tahun ini, sambil berusaha melatih Naisia -gadis 15 tahun yang terkena cerebral palsy, kelainan yang memengaruhi pergerakan dan koordinasi otot- untuk menggerakkan tangan.

“Meski demikian, ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ketika melihat mereka bisa berkembang,” lanjut Sitanggang yang setiap hari melayani 6-8 pasien.

Diberdayakan

PRHJ juga menyediakan pendidikan, terutama taman kanak-kanak dan sekolah dasar dan membiayai mereka yang lanjut ke sekolah menengah.

Di sini, pasien juga dilatih untuk mandiri dengan mengajarkan keterampilan seperti membuat lilin dan kaki palsu, pertukangan dan menjahit, di mana hasil usaha mereka kemudian dijual.

“Ini merupakan upaya memberi mereka bekal untuk bisa mandiri dan berkarya,” kata Suster Lumbantoruan.

Salah satu karyawan, Stefanus Due mengatakan mereka menghasilkan sekitar 25 lilin per hari untuk melayani kebutuhan gereja-gereja di Sumatera.

Namun, hasil usaha demikian tidak cukup untuk membiayai biaya operasional PRHJ.

“Yang paling penting adalah mereka dapat memberdayakan diri mereka sendiri dan merasa berguna,” kata Suster Lumbantoruan.

Dia mengatakan ada banyak mantan pasien yang sekarang memiliki bisnis mereka sendiri dan PRHJ memberikan sebagian dari mereka modal awal untuk memulai usaha setelah mereka meninggalkan tempat itu.

Atas kontribusinya kepada para penyandang disabilitas, PRHJ menerima penghargaan dari Menteri Sosial RI pada tahun 2016.

PRHJ juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah terkait izin operasional, meski menurut Sr Leoni, dukungan materiil rutin tidak ada.

Bupati Simalungun, J.R. Saragih, yang beberapa kali mengunjungi tempat itu, mengatakan pengabdian para suster sangat membantu pemerintah mengingat saat ini layanan pemerintah masih terbatas untuk para penyandang disabilitas.

Sr Leoni mengatakan, mereka juga merasakan dukungan dari Gereja, terutama “moral spiritual,” sementara materiil umumnya dari Kongregasi dan banyak pihak, termasuk yang non-Katolik.

Terletak di lahan 2,5 hektar, PRHJ menjadi tempat menemukan harapan hidup bagi ribuan penyandang disabilitas.

Sertauli Simamora, seorang pegawai berusia 27 tahun, mengatakan dia menderita luka bakar di wajah pada usia 4 tahun setelah tersiram dengan minyak goreng.

Setelah menjalani operasi plastik, ia kuliah D3 dan kemudian kembali ke PRHJ setelah lulus. 

“Di sini saya mendapat dukungan,” katanya.

Setiap hari, pasien baru terus datang ke tempat ini. Salah satunya adalah Julianti Ivon Moruk, 19, yang terlahir dengan satu kaki.

“Saya ingin belajar menjahit di sini,” katanya kepada ucanews.com saat ditemui sambil berlatih menggunakan mesin jahit.

Ia mengatakan, hingga beberapa minggu sebelum ke PRHJ, ia hanya tinggal di rumah orangtuanya di Atambua, Nusa Tenggara Timur. 

“Semoga di sini, saya bisa memiliki masa depan yang lebih baik,” kata Ivon, yang datang ke PRHJ atas bantuan seorang suster FCJM.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi