UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Karina KAS Bantu Air Bersih di Gunung Kidul

Juli 22, 2019

Karina KAS Bantu Air Bersih di Gunung Kidul

Dalam foto ini, lahan pertanian di Propinsi NTT mengering akibat kekeringan yang melanda wilayah itu pada Agustus 2015. Tahun ini, kekeringan mengakibatkan gagal panen di sedikitnya tujuh propinsi. (Foto: Ryan Dagur/ucanews.com)

Karina Keuskupan Agung Semarang (KAS) telah mengirim puluhan mobil tangki masing-masing berkapasitas 5.000 liter air bersih ke sejumlah desa di Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi DIY, salah satu wilayah yang mengalami kekeringan akibat fenomena El Nino.

“Pada Minggu, 19 Mei 2019, bertempat di aula Paroki St. Petrus Kanisius di Wonosari dan dihadiri 47 relawan, terbentuklah jaringan relawan Rayon Gunung Kidul. … Yang sudah dilakukan adalah dropping air bersih sebanyak 49 tangki. Pada saatdropping air Karina KAS dan relawan Rayon Gunung Kidul juga melakukan koordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk mempermudah proses dropping air,” kata Suster Huberta FSGM, manajer program Disaster Risk Reduction Karina KAS, kepada ucanews.com

Ia mengatakan Kabupaten Gunung Kidul menjadi prioritas karena belum terjangkau bantuan air bersih.

“Untuk dropping air tahap kedua yang rencana akan dilakukan pada minggu ketiga dan keempat bulan ini, dropping air bersih sebanyak 62 tangki akan difokuskan pada Desa Girikerto dan Desa Girisuko di Kecamatan Panggang,” lanjutnya.

Selain melakukan dropping air bersih sebagai bantuan jangka pendek, katanya, Karina KAS juga melakukan asesmen potensi sumber air di wilayah tersebut untuk melihat kemungkinan pembuatan sumur bor. 

Eko Budianto, kepala Dusun Bendo Gede di Desa Sumber Giri, mengatakan kepada ucanews.com bahwa warga desa harus menempuh perjalanan sejauh sekitar lima kilometer dengan mengendarai sepeda motor untuk mendapatkan air bersih.

“Mayoritas warga desa adalah petani jagung dan singkong serta peternak,” katanya, seraya menambahkan bahwa sebagian besar dari 5.000 warga Desa Sumber Giri mengalami kesulitan mencari pakan untuk ternak mereka.

“Lahan pertanian sangat kering. Tahun ini hasil panen tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya karena curah hujan sangat kurang. Kami sangat mendukung sekali upaya pemerintah untuk melakukan hujan buatan,” lanjutnya.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sekitar 1.969 desa di 79 kabupaten di tujuh propinsi – Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali – mengalami kekeringan. Di beberapa wilayah, kekeringan terjadi sejak Mei lalu.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa 102.746 hektar sawah terdampak oleh kekeringan. Sekitar 9.358 hektar di antaranya mengalami gagal panen.

Di Propinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, misalnya, 38.948 hektar sawah terdampak oleh kekeringan.

Pada 22 Juli, Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Propinsi Jawa Tengah, Gito Walngadi mengatakan kepada media bahwa sumber air di lima kecamatan – Kranggan, Tembarak, Jetis, Dampit dan Kalimanggis – mengalami kekeringan.

“Sebelumnya kami menerima surat permohonan bantuan air bersih dari lima kecamatan tersebut dan setelah kami lakukan pengecekan memang wilayah tersebut memerlukan droppingair bersih,” katanya, seperti dikutip antaranews.com

Sementara itu, Kepala Bagian Humas BNPB Rita Rosita Simatupang mengatakan bahwa BNPB bekerjasama dengan BPBD dalam melakukan dropping air bersih “sesuai dengan permintaan dari daerah.”

Bantuan jangka pendek lainnya, katanya, mencakup penambahan mobil tangki air bersih dan hidran umum, pembuatan sumur bor dan pengadaan hujan buatan.

“Untuk jangka panjang, salah satunya adalah melakukan revitalisasi dan reforestasi DAS,” katanya kepada ucanews.com.

END

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi