UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tudingan Penghasutan Terhadap Uskup Filipina ‘Tidak Masuk Akal’

Juli 22, 2019

Tudingan Penghasutan Terhadap Uskup Filipina ‘Tidak Masuk Akal’

Para anggota klerus mengikuti aksi unjuk rasa di Manila pada 22 Juli, beberapa hari setelah pihak berwenang mengajukan tuduhan penghasutan terhadap beberapa pemimpin gereja. (Foto: Vincent Go)

Pengajuan tuduhan penghasutan terhadap empat uskup, tiga imam, dan beberapa pengkritik pemerintah “tidak masuk akal,” demikian menurut para pemimpin gereja Filipina.

Tim Investigasi dan Deteksi Kriminal Kepolisian Filipina mengajukan tuduhan pekan lalu terkait penghasutan, pencemaran lewat dunia maya dan pencemaran nama baik terhadap lebih dari 40 orang, termasuk wakil presiden negara itu dan 35 anggota oposisi.

Keempat uskup adalah Uskup Honesto Ongtioco dari Cubao, Uskup Pablo Virgilio David dari Kalookan, pensiunan uskup Teodoro Bacani Jr., dan Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan.

Sementara para imam adalah, Pastor Flaviano Villanueva SVD, Pastor  Albert Alejo SJ dan Pastor Robert Reyes.

Tuduhan menyebutkan bahwa mereka bersekongkol untuk menyebarkan “informasi palsu” terhadap keluarga Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dan pejabat pemerintah.

Tuduhan itu juga menyebutkan mereka ingin “menggerakan masyarakat umum untuk mengadakan protes massal dengan kemungkinan menjatuhkan presiden.”

“Saya sangat sedih dengan berita ini dan sangat terganggu dengan perkembangan ini,” kata Uskup Agung Davao, ketua konferensi uskup Katolik, Uskup Agung Romulo Valles.

“Bahwa mereka dituduh melakukan penghasutan dan pengaduan pidana lainnya bagi saya di luar dugaan,” katanya.

Ia mengatakan bahwa dia mengenal para pemimpin gereja dan “mereka adalah uskup yang ketulusan, kesopanan, hormat, dan cintanya kepada negara kita dan rakyat kita tidak diragukan.”

“Beberapa dari kita mungkin merasa tidak nyaman dengan cara mereka mengemukakan pendapat mereka. Tetapi sekali lagi, saya mengatakan ini: Saya tidak dapat meyakinkan diri saya bahwa para uskup ini terlibat dalam kegiatan-kegiatan hasutan,” katanya.

Uskup itu mengatakan dia berdoa agar mereka yang terlibat dalam kasus ini dibimbing oleh “keadilan dan kebenaran.”

Pastor Robert Reyes, salah seorang tertuduh, mengatakan tuduhan itu adalah “langkah putus asa untuk menekan perbedaan pendapat.”

“Ini adalah upaya menyedihkan untuk mengalihkan perhatian orang dari masalah serius ke totaliterisme,” katanya, seraya menambahkan bahwa itu bisa menjadi “ajakan untuk membangunkan mereka yang ragu-ragu dan acuh tak acuh.”

Yang lain mengatakan tuduhan itu dirancang untuk membungkam kritik terhadap Duterte.

“Langkah itu jelas dimaksudkan untuk menakut-nakuti para pemimpin gereja dan akhirnya membungkam mereka,” kata Pastor Jerome Secillano, ketua kantor urusan publik konferensi para uskup.

Dia mengatakan apa yang dilakukan para uskup dan imam adalah meminta pemerintah untuk lebih berhati-hati dan bijaksana dalam tindakan mereka.

“Mereka tidak melawan pemerintah atau Duterte. Apa yang mereka lawan adalah kebijakan represif yang membuat begitu banyak beban bagi orang miskin dan kelompok yang menentang mereka,” kata Pastor Secillano.

“Saya yakinkan Anda, mereka melakukan hal-hal itu bukan untuk keuntungan pribadi atau kepentingan diri sendiri, tetapi demi mereka yang tidak bisa memperjuangkan hak-hak mereka,” tambahnya.

Yayasan Couple for Christ, sebuah organisasi awam yang berpengaruh, meyakinkan para pemimpin gereja tentang dukungan mereka. “Anda tidak bekerja sendirian dalam hal ini, para uskup yang terkasih,” kata kelompok itu.

“Kami mendorong mereka untuk melanjutkan kampanye berani mereka dalam upaya bersama dengan semua orang Filipina untuk kebenaran dan keadilan,” demikian pernyataan kelompok ini yang dirilis pada 20 Juli.

“Berbicara kebenaran dan memperjuangkan hak asasi manusia warga Filipina, bukanlah hasutan,” kata kelompok itu. “Itu setia pada ajaran Kristus dan Gereja,” tambah mereka.

Tuduhan bermula dari video yang beredar di beberapa platform media sosial awal tahun ini yang menghubungkan Duterte dan keluarganya dengan perdagangan narkoba ilegal.

Seseorang yang bernama Peter Joemel Advincula mengklaim di video dan di sebuah media briefing bahwa putra Duterte, Paolo Duterte, dan pembantu presiden Bong Go terlibat dalam sindikat narkoba.

Namun, berminggu-minggu kemudian, ia dihadirkan pada konferensi pers oleh Kepolisian Nasional Filipina di mana ia mengklaim Wakil Presiden Leni Robredo, anggota oposisi dan beberapa orang gereja berada di belakang upaya melawan presiden.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi