UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Bo: Para Pemimpin Agama Berperan Penting Promosikan Perdamaian

Juli 23, 2019

Kardinal Bo: Para Pemimpin Agama Berperan Penting Promosikan Perdamaian

Foto Kardinal Charles Maung Bo, uskup agung Yangon, yang diambil tahun 2015 di Vatikan. (Foto: Andreas Solaro/AFP)

Kardinal Charles Maung Bo, uskup agung Yangon, Myanmar, mengatakan dalam sebuah forum PBB di  New York, AS, bahwa para pemimpin agama memiliki peranan besar dalam menegakan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia.

Kardinal Bo, pidato utama dalam forum itu, pada 16 Juli, menegaskan bahwa di tengah keputusasaan banyak orang saat ini “kita sebagai pemimpin agama menjadi lilin harapan dengan sebuah mantra tunggal: ‘Peace is possible, Peace is the only way.’

“Pengakuan bahwa para pemimpin agama berpengaruh dalam menciptakan perdamaian adalah sebuah  realita para pemimpin dunia dan tindakan masyarakat sipil perlu diperhitungkan,” katanya.

Kardinal itu menyampaikan pidato dalam forum PBB yang diadakan dengan tema: “Together in our goals: religious actors’ role in sustaining peace.”

Kardinal Bo mencatat: “Sering ada tendensi berimplikasi pada agama-agama dan para pemimpin mereka  karena langsung ataupun tidak langsung menimbulkan konflik. Ini memilukan karena di banyak belahan dunia ini, khususnyadi Asia dan Afrika, para pemimpin agama berperan besar sebagai pembuat opini dan para tokoh masyarakat yang berpengaruh  iman bagi perdamaian, bukan konflik.”

Ia mencontohkan negaranya sendiri, Myanmar, yang menghadapi konflik puluhan tahun akibat perang saudara  dan di mana pergolakan masih terjadi di daerah-daerah etnis.

“Bangsa itu telah terluka oleh perang yang berkecamuk,” kata Kardinal Bo. “Selama hampir enam dekade keberadaannya, negara itu berada dalam perang, saudara melawan saudara. Banyak darah dan air mata telah tertumpah.”

Kardinal, 71, menambahkan bahwa  warisan kebencian manusia Myanmar masih mendendam: hampir 1 juta orang kehilangan tempat tinggal  di perbatasan negaranya, lebih dari 1 juta telah tinggal di pengungsian dan 4 juta lainnya terpaksa migrasi, sementara sekitar  22 konflik internal masih membara.

“Pertama kali negara terkaya di Asia Tenggara itu, kini adalah salah satu negara termikin di dunia,” kata Kardinal Bo, seraya menambahkan: “Perang telah memutilasi pembangunan berkelanjutan.”

Kardinal itu menekankan bahwa peran proaktif para pemimpin agama di negaranya yang mayoritas Budda yang memiliki 500.000 biksu, 70.000 biarawati Buddha, 800 imam Katolik dan  2.200 biarawati Katolik.

“Peran mereka dalam menjaga perdamaian melalui nilai-nilai seperti kasih sayang adalah kontribusi luar biasa bagi perdamaian Myanmar,” katanya. “Orang-orang beragama memberikan nilai-nilai yang luar biasa dalam masyarakat.”

Kardinal Bo menambahkan bahwa kontribusi besar umat beragama dapat diartikulasikan dalam kalimat sederhana: “Kasih sayang adalah agama kemanusiaan yang universal”

Ia berbagi tentang peran positif yang dilakukan oleh kelompok Religions for Peace (RfP) Myanmar, yang berinteraksi dengan semua pemangku kepentingan dan mengadakan sebuah forum damai untuk bekerja bagi perdamaian dan rekonsiliasi.

Ia juga mencontohkan sebuah kunjungan yang diadakan oleh sebuah tim dari para pemimpin Buddha, Kristen, Muslim dan Hindu dari seluruh dunia ke Rakhine, daerah konflik di Myanmar pada  Mei 2018, untuk “membantu dalam mendinginkan dan membangun kepercayaan di antara para pemangku kepentingan.”

“Sikap belarasa dari tim itu adalah kesaksian yang luar biasa di sebuah negara itu dimana serangan antaragama sedang meningkat,” kata Kardinal Bo. “Tim tersebut juga menantang pidato kebencian dan ekstremisme dari sejumlah pemimpin agama.”

Dia juga mengangkat masalah kemiskinan, yang tetap menjadi salah satu penyebab utama konflik di seluruh dunia, dan menyerukan kepada para pemerintah, sektor bisnis dan masyarakat sipil untuk bertindak atas nama orang miskin untuk meningkatkan standar hidup semua orang.

“Kemakmuran masa depan dan perdamaian dan pemenuhan tujuan pembangunan berkelanjutan sebagian besar tergantung pada persatuan para pemimpin agama, yang terus memiliki pengaruh besar dalam kehidupan rakyat kita,” tambah Kardinal Bo.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi