UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Lagi, Kardinal Ranjith Kecam Otoritas Sri Lanka Terkait Serangan Bom

Juli 23, 2019

Lagi, Kardinal Ranjith Kecam Otoritas Sri Lanka Terkait Serangan Bom

Kardinal Malcolm Ranjith, dua uskup auksilier dari Keuskupan Agung Kolombo, personel militer, pejabat pemerintah dan para imam meletakkan batu pertama untuk skema perumahan bagi para korban bom hari Minggu Paskah. (Foto: S. Ganasiri)

Kardinal Malcolm Ranjith dari Sri Lanka telah mengkritik pemerintah negara itu atas dugaan kesalahan terkait pemboman hari Minggu Paskah yang menurutnya bisa dicegah.

Serangan serentak pada tiga gereja Katolik dan beberapa hotel telah menewaskan lebih dari 260 orang dan melukai ratusan lainnya.

“Mereka telah diberitahu tentang serangan itu lebih dari tiga kali oleh Komisi Tinggi India,” kata Kardinal Ranjith ketika membawakan  homili pada 21 Juli di Gereja St Sebastian di Katuwapitiya yang merupakan salah satu lokasi yang dibom teroris.

Namun, dia menambahkan “tidak ada yang memperhatikan dengan serius” peringatan yang diberikan.”

Beberapa dari Anda terluka dan sakit hati karena kurangnya peduli dari pihak pemerintah,” kata Kardinal Ranjith.

“Para pemimpin politik kita tidak memiliki kebijakan yang tepat.”

Dia mengatakan bahwa saatnya telah tiba bagi anggota parlemen untuk mundur jika mereka tidak dapat memerintah negara.

Umat Katolik merayakan Paskah di gereja Katuwapitiya, gereja Kochchikade dan gereja Batticaloa pada 21 April terperangkap dalam gelombang pemboman yang dilakukan oleh gerilyawan Islam lokal yang berafiliasi dengan ISIS.

Kelompok Muslim pada umumnya tidak bertanggung jawab atas serangan itu, hanya mempersalahkan  pemuda radikal, tambah kardinal.

Kardinal Ranjith mengatakan pemerintah sebelumnya telah melemahkan unit intelijennya untuk memenuhi tuntutan dari berbagai organisasi lokal dan internasional.

Para imam  Katolik, Asosiasi Pengacara Sri Lanka dan sepuluh kelompok lainnya telah mengajukan kasus itu ke Mahkamah Agung Sri Lanka yang menuduh pemerintah gagal bertindak atas peringatan sebelumnya.

Kelompok-kelompok itu menuduh pejabat publik, termasuk Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, bersalah atas kelalaian tugas dan melanggar hak asasi manusia warga negara, termasuk hak umat Katolik untuk secara bebas mempraktikkan agama mereka.

Kardinal Ranjith telah mendukung langkah hukum tersebut.

Pemerintah Sri Lanka telah memulai beberapa investigasi terhadap ledakan Minggu Paskah, termasuk satu oleh komite presiden dan lainnya oleh komite terpilih parlemen.

Namun, Kardinal Ranjith mengatakan bahwa orang tidak yakin dengan komite yang ditunjuk pemerintah tersebut karena mereka memiliki agenda politik.

Aktivis HAM  Sirilal Fernando mengatakan kebenaran belum dipastikan sehubungan dengan mengidentifikasi semua orang yang terlibat dalam pemboman.

Dia mengatakan beberapa tokoh politik dan agama sedang “bermain politik” dengan tragedi dalam upaya untuk memenangkan suara pada pemilihan yang dijadwalkan akhir tahun ini.

“Ini adalah situasi yang sangat menyedihkan di negara yang menghadapi perang tiga dekade,” kata Fernando ketika merujuk pada perang saudara yang telah berlangsung lama di Sri Lanka di mana sejumlah  pemimpin agama memperburuk kekerasan.

Sementara itu, Caritas mengumumkan bahwa mereka telah menyalurkan dana US $ 403.000 kepada 352 keluarga yang terkena dampak sejak serangan itu.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi