UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gubernur NTT Bersikeras Akan Relokasi Warga di Pulau Komodo

Juli 24, 2019

Gubernur NTT Bersikeras Akan Relokasi Warga di Pulau Komodo

Warga yang mendiami Pulau Komodo menggelar aksi unjuk rasa di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat pada 19 Juli, menolak rencana penutupan pulau itu dan relokasi mereka. (Foto: Ario Jempau)

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat menyatakan akan merealisasikan rencananya menutup Pulau Komodo selama satu tahun dan merelokasi warga di habitat binatang langka Komodo itu, meski hal itu mendapat penolakan dari warga.

Dalam sejumlah pernyataannya, Viktor mengklaim hal itu bertujuan melestarikan komodo, sekaligus membenahi pulau tersebut.

Media lokal voxntt.com melaporkan, Laiskodat menegaskan kembali rencananya saat ditemui di Labuan Bajo, Senin, 22 Juli.

Sementara itu, hingga kini, protes masih terus menguat dari masyarakat.

Pada 22 Juli, puluhan warga mendatangi kantor DPRD Kabupaten Manggarai Barat, menyuarakan aspirasi mereka dalam pertemuan dengan perwakilan pemerintah dan pengelola Taman Nasional Komodo. 

Beberapa hari sebelumnya, sekitar 400 warga menggelar aksi unjuk rasa di kota Labuan Bajo.

“Kami menginginkan pembangunan pariwisata dan konservasi yang memperhitungkan keberadaan kami sebagai penduduk di pulau itu,” kata Ihsan Abul Amir, juru bicara masyarakat setempat kepada ucanews.com.

Ia menjelaskan, warga di Pulau Komodo sudah lama terlibat dalam pariwisata  berbasis konservasi dan penutupan sewenang-wenang serta relokasi menghancurkan masa depan 2000 warga yang mendiami pulau tersebut.

Ia menambahkan, mereka telah melewati sebuah proses yang sangat panjang sebelum bergabtung pada sektor pariwisata.

“Kami telah merelakan tanah kami untuk dijadikan sebagai bagian dari Taman Nasional Komodo,” katanya.

Ia mempertanyakan langkah sepihak pemerintah di saat mereka telah bergantung pada sektor pariwisata.

Habsi, tokoh adat Kampung Komodo mengatakan, mereka telah hidup harmonis berdampingan dengan hewan purba itu, sebuah relasi yang didasari oleh mitos bahwa binatang purba itu adalah saudara kembar mereka.

Ia mengatakan, mereka meyakini bahwa mereka tidak bisa dipisahkan dari komodo.

“Seandainya kami pindah ke tempat lain, maka binatang itu juga akan ikut serta (bersama) kami,” katanya.

Agustinus Rinus, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Mabar mengatakan, pemerintah pusat telah membentuk tim yang mengkaji rencana itu pada Mei lalu dan mereka akan melaporkan hasil kajiannya pada bulan depan.

Gregorius Afioma, direktur Sunspirit for Justice and Peace, lembaga yang melakukan riset di wilayah Taman Nasional Komodo mengatakan, pemerintah harus memperhitungkan berbagai aspek dalam membuat kebijakan, termasuk eksistensi warga, yang menurut sejumlah kajian historis telah hidup ribuan tahun berdampingan dengan komodo.

Menurut penelitian antropologi, termasuk dari Pastor Verheijen SVD pada 1982, warga asli yang disebut Ata Mododiperkirakan sudah mendiami Pulau Komodo sejak 2000 tahun lalu.

Ia mengatakan, rencana relokasi ini adalah bentuk kelanjutan dari praktek ketidakadilan terhadap masyarakat setempat, setelah dalam beberapa dekade terakhir mereka mengalami pembatasan dalam banyak hal agar tidak mengganggu habitat komodo.

Namun, kata dia, ini ironis karena pada saat bersamaan pemerintah memberi karpet merah pada investor.

Labuan Bajo, yang terletak di ujung barat pulau besar Flores, sedang diprioritaskan oleh pemerintah untuk pengembangan infrastruktur pariwisata sebagai pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo di dekatnya.

Jumlah pengunjung, sebagian besar orang Barat, terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2017, wisatawan mencapai 111.000, naik menjadi 163.000 pada 2018.

Daya tarik wisata utama adalah 4.600-an komodo, yang lebih dari setengahnya hidup di Pulau Komodo, sedangkan sisanya di pulau-pulau kecil lainnya, seperti Rinca, Padar, Gili Motang dan Nusa Kode.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi