UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Cosmas Batubara Dikenang atas Jasanya Bagi Gereja dan Bangsa Indonesia

Agustus 9, 2019

Cosmas Batubara Dikenang atas Jasanya Bagi Gereja dan Bangsa Indonesia

Jenazah Cosmas Batubara disemayamkan di rumahnya di Cikin, Jakarta Pusat, pada 8 Agustus. Beliau meninggal pada hari yang sama akibat kanker getah bening. (Foto: Konradus Epa/ucanews.com)

Mantan Menteri di era Suharto atau Orde Baru yang memberikan inspirasi dan kontribusi bagi Gereja dan bangsa meninggal akibat menderita kanker getah bening pada 8 Agustus di RSCM Kencana Jakarta.

Cosmas Batubara, 80, lahir pada 19 September  1938  di Simalungun,  Sumatra Utara, sempat dirawat beberapa kali di sejumlah rumah sakit. 

“Bapak menderita kanker getah bening dalam dua tahun terakhir dan dirawat beberapa kali di rumah sakit dan sempat dikemo,” kata Artur Batubara, putra sulung beliau kepada ucanews.com.

Artur mengatakan meskipun dalam kondisi sakit ia masih aktif dengan melakukan berbagai kegiatan.

Ia mengatakan jenazah bapaknya akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada  10 Agustus.  Sebelumnya, pada hari yang sama, jenazah bapaknya akan dibawa ke Gereja St. Theresia, dan disemayamkan di sana setelahnya dibawa ke kantor Kementerian Tenaga Kerja untuk disemayamkan disana guna memberkan penghormatan terakhir kepada beliau.

Beliau pernah menjabat ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI),  ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa  (KAMI), dan aktivis Perintis Gerakan Mahasiswa Angkatan 66.

Beliau pernah menjabat Menteri Negara Perumahan Rakyat, dan Menteri Tenaga Kerja di era Suharto. Ia juga menjadi anggota DPR RI (1967-1978), dan ketua International Labour Organization (ILO) tahun 1991. 

Saat meninggal ia masih menjabat sebagai rektor Podomoro University di Jakarta dari tahun 2014, dosen di Universitas Indonesia dan Univesitas Katolik St. Thomas di Medan, serta memimpin sejumlah perusahaan.

“Beliau adalah tokoh besar yang memberikan semangat dan inspirasi bagi kami dan mendorong organisasi-organisasi Katolik untuk survive meskipun menghadapi kesulitan,” kata Yohanes Handoyo Budisedjati, direktus Vox Point Indonesia kepada ucanews.com.

Ia mengatakan beliau sangat berjasa bukan hanya untuk Gereja tapi juga untuk bangsa. 

“Kita kehilangan beliau karena telah meninggalkan semangat yang tidak pernah padam dan selalu memberikan nasehat untuk mengelola organisasi. Kita diajak untuk jangan takut dan harus maju terus,” katanya. 

“Beliau menyarankan bahwa kita perlu membangun organisasi Katolik sebagai sebuah terminal, kita boleh pergi kemanapun tapi kita harus kembali ke terminal. Artinya, kita boleh bekerja dimanapun kita harus kembali bersatu dalam iman Katolik,” katanya, mengutip pesan Cosmas Batubara.

Juventus Prima Yoris Kago, ketua PMKRI, mengatakan orang muda Katolik merasa kehilangan seorang tokoh yang berjasa bagi bangsa. 

“Beliau adalah seorang yang militan, dedikasi tinggi, dan kuat. Ia telah berkontribusi bagi bangsa. Dan, kami berharap para tokoh Katolik lain untuk memiliki sikap dedikasi yang tinggi seperti beliau,” katanya kepada ucanews.com.

Ia mengatakan beliau juga berkontribusi bagi PMKRI dengan memperhatikan, membina, mengawal dan memberikan dukungan moral dan materil kepada PMKRI. 

“Saya berharap para anggota PMKRI harus mengikuti teladan beliau sehingga ada Batubara-Batubara baru ke depan.”

Romo Fransiscus Xaverius  Mudji Sutrisno SJ, dosen STF Jakarta,mengatakan Gereja telah kehilangan seorang tokoh Katolik yang mengabdi untuk kesejahteraan umum dengan pendekatan yang lembut dan berkeadaban. 

“Beliau adalah salah satu pendiri Partai Golkar dan berjuang untuk Indonesia yang bermartabat dengan politik keadaban dan ekonomi moralitas sehingga ia dipilih menjadi menteri,” katanya.

Ketika beliau menjadi menteri, kata imam itu, ia sangat memperhatikan rakyat kelas menengah ke bawah  tanpa melihat latar belakang mereka, melakukan pengkaderan bagi orang awam Katolik, membantu finansial dan pemikiran bagi organisasi-organisasi Katolik.

Meskipun beliau sudah tua, kata Romo Mudji,  ia masih belajar dan bekerja. Ia menghormati pluralitas dan kemanusiaan. 

“Oleh karena itu,  mereka juga harus mengikuti teladan beliau dengan mewujudkan politik keadaban di tengah politik yang memainkan kekuasaan,” tambahnya. 

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi