UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Timor-Leste Jadi Tuan Rumah Pertemuan Orang Muda Claretian Asia

Agustus 9, 2019

Timor-Leste Jadi Tuan Rumah Pertemuan Orang Muda Claretian Asia

Peserta bernyanyi dan menari saat pertemuan Kaum Muda Claretian Asia yang diselenggarakan oleh para Misionaris Claretian dari 5-11 Agustus 2019 di Dili. (Thomas Ora/ucanews.com)

Lebih dari seratus tiga puluh orang muda dari beberapa negara Asia di mana para misionaris Claretian bekerja telah berkumpul di Timor-Leste untuk pertemuan selama seminggu untuk memperbarui komitmen mereka sebagai saksi Kristus.

Pertemuan Kaum Muda Claretian Asia Timur diselenggarakan oleh para Misionaris Claretian dari 5 hingga 11 Agustus 2019 di Dili.

Ini adalah konferensi ketiga setelah yang pertama diselenggarakan di Filipina pada 2015 dan yang kedua pada 2017 di Yogyakarta, Indonesia.

Pastor Emanuel Lelo Talok, koordinator acara itu, mengatakan lebih dari 130 orang muda dari Cina, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Filipina, Australia, Indonesia, dan Timor-Leste berpartisipasi dalam acara tersebut.

“Kami di sini dipersatukan sebagai orang Asia yang memiliki kelompok etnis, agama, dan ras yang berbeda dengan tujuan untuk membangun karakter sejati anak muda Katolik, sebagai pembawa pesan Kristen dan menjadi saksi sukacita Injil,” kata Pastor Talok kepada ucanews. com.

Dia mengatakan tema ‘Solidaritas Kristus Mendorong Kita: Pergi, Jual, Berbagi, dan Ikuti’ menyoroti kenyataan yang dihadapi kaum muda di Asia, seperti masalah kemiskinan, pengangguran, migrasi, perdagangan manusia, kecanduan narkoba, intoleransi, terorisme , polusi, dan perubahan iklim telah mengkhawatirkan kaum muda.

Ini juga merupakan tindak lanjut dari pesan Paus Fransiskus selama Hari Pemuda Sedunia 2019 di Panama, yang mengundang kaum muda untuk solidaritas dengan kenyataan saat ini dan untuk menjadi ikon harapan hari ini, katanya.

“Saya berharap acara ini akan menginspirasi orang-orang muda Timor-Leste untuk tumbuh dalam kekudusan dan bergerak maju,” katanya.

Dia mengatakan selama konferensi selama seminggu ini, orang-orang muda dari berbagai negara itu didorong tidak hanya untuk menjadi pewarta di Internet, tetapi untuk membawa Kristus ke dunia nyata.

“Mereka akan dibimbing melalui kegiatan yang melibatkan doa, pembinaan, permainan untuk kaum muda, animasi, dan pertunjukan budaya,” katanya.

Uskup Dili Mgr Virgílio do Carmo da Silva mengatakan dalam upacara pembukaan pada 6 Agustus bahwa kaum muda harus mampu mengatasi tantangan globalisasi di mana generasi milenium dicap “tidak memiliki empati dan egois.”

“Solidaritas dengan Kristus berarti bahwa orang Kristen harus berbagi dan memberikan hidup mereka untuk orang lain yang membutuhkan,” kata prelatus itu.

Dia juga berharap pemuda Timor-Leste belajar dari pertemuan seminggu ini sehingga mereka dapat menjadi agen perubahan di komunitas tempat mereka tinggal.

Dia mengatakan orang-orang muda harus mampu melawan narkoba dan aborsi, yang saat ini sedang mengejar orang-orang muda di negara itu.

Gregorius Falo, 25, salah satu peserta asal Timor Tengah Selatan, Atambua, mengatakan bahwa ia telah terlibat di Organisasi Pemuda Claretian sejak sekolah dasar.

“Ini adalah pertama kalinya saya menghadiri konferensi semacam itu dan itu memperkuat saya untuk terus membawa pesan harapan kepada orang lain,” katanya.

Pertemuan dengan para pemuda Timor-Leste, khususnya, seperti pulang ke rumah baginya, karena neneknya lahir di Distrik Oecusse dan pindah ke Indonesia.

Agostinho do Rego, 23, dari distrik Covalima, selatan Dili, mengatakan dia bergabung dengan kelompok pemuda Claretian setelah dia terpesona oleh para misionaris di Gereja Hati Maria Tak Bernoda di Fuiloro.

Para misionaris Claretian, meskipun menghadapi berbagai tantangan, tetap setia dalam misi mereka untuk melayani rakyat mereka.

“Meskipun banjir selama musim hujan, mereka masih akan pergi mengunjungi umat beriman,” katanya.

“Mereka terus membuat saya takjub,” kata Do Rego, yang ayahnya adalah seorang katekis dan bekerja dekat dengan para misionaris Claretian.

Pertemuannya dengan pemuda-pemuda lain dari negara-negara Asia membentuk pandangannya akan dunia dan memotivasi dia “untuk menjadi cahaya bagi orang lain” di parokinya.

“Segera setelah kami kembali ke paroki, saya dan teman-teman saya akan berkolaborasi dengan pastor paroki untuk mengumpulkan kaum muda dan mengatur kegiatan mingguan,” katanya.

Claretian adalah komunitas para pastor dan bruder Katolik. Didirikan pada tahun 1849 oleh Anthony Mary Claret, sekarang tarekat itu berada di lebih dari 65 negara.

Kongregasi Claretian memasuki Timor-Leste pada bulan Mei 1990, dan bekerja di bidang pendidikan, karya sosial dan pastoral diosis Dili dan Maliana.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi