UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Komunikator Katolik Se-Asia Berjanji Bangun Komunitas yang Lebih Sehat

Agustus 12, 2019

Komunikator Katolik Se-Asia Berjanji  Bangun Komunitas yang Lebih Sehat

Sebuah sesi peremuan SIGNIS Asia dari 4-8 Agustus yang diadakan di New Delhi, India.

Para komunikator Katolik di Asia mendapat tantangan untuk membantu mengungkap agenda tersembunyi dari media arus utama dan membangun komunitas yang lebih sehat dan jauh dari pengaruh “pesan-pesan beracun”.

Pesan-pesan beracun tersebut baik di media massa maupun media sosial perlu diganti dengan “konten positif dan futuristik” untuk membangun komunitas yang sehat, kata pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan para komunikator Katolik di New Delhi.

Sekitar 120 peserta dari 19 negara menghadiri pertemuan SIGNIS Asia dari 4-8 Agustus -sayap regional SIGNIS Internasional- dengan tema  “Peran media dalam membangun komunitas”.

Media memiliki kekuatan “memberi informasi, memberdayakan dan membangun komunitas” tetapi juga dapat “memecah belah komunitas melalui pesan-pesan beracun oleh kepentingan pribadi dan pemilik media yang berpusat pada bisnis,” kata pernyataan itu.

Pertemuan itu memutuskan “untuk memulai serangkaian refleksi” di antara para anggotanya dan umat Katolik secara umum melalui program-program  pelatihan, produksi video dan radio, publikasi, diskusi film dan media digital.

Kegiatan ini bertujuan “mengidentifikasi pesan-pesan negatif yang memecah belah orang dan menggantikannya dengan pesan-pesan positif dan futuristik dengan fokus membangun komunitas,” kata pernyataan itu.

Para anggota juga harus “bergerak melampaui paradigma toleransi konvensional dan mulai merayakan keberagaman” dan menjadi “bijak dan berani melawan rasa takut dengan fakta dan kebenaran.

“Pernyataan itu muncul dengan latar belakang suasana intoleransi di India terhadap agama dan etnis minoritas ketika kelompok-kelompok Hindu mendesak untuk menjadikan India sebagai negara Hindu.

Partai Bharatiya Janata (BJP) yang pro-Hindu, yang memimpin  koalisi federal, juga dituduh mempengaruhi media untuk menyebarkan pesan-pesan yang bertujuan mempercepat idenya tentang satu agama dan budaya untuk India.

Pertemuan itu mendesak para anggota bekerja untuk “jurnalisme yang berorientasi solusi dan memungkinkan orang keluar dari ruang gema di mana mereka terus mendengarkan hanya suara mereka dan bukan dari orang lain.”

Mereka juga ingin membantu generasi muda memahami penggunaan media sosial secara positif dalam membangun komunitas.

Jurnalis senior Seema Mustafa, yang menyampaikan pidato utama, mengatakan para editor media masa kini di India “hampir tidak memiliki suara” karena organisasi berita dikendalikan oleh para industrialis dan korporasi.

K.G. Suresh, mantan direktur Institut Komunikasi Massa India, mengatakan bagian editorial berita telah diambil alih oleh departemen pemasaran dan komersial.

“Kami telah merasakan laporan berita karena prasangka bawaan,” katanya saat berunding tentang bagaimana platform media telah digunakan dengan sengaja untuk menciptakan permusuhan di kalangan masyarakat. Namun, sisi baiknya adalah media sosial telah mendemokrasikan berita, katanya.

Ketua SIGNIS Internasional Helen Osman, yang melakukan lokakarya tentang manajemen komunikasi krisis, mengatakan kepada ucanews.com bahwa “sangat menarik melihat orang-orang yang memiliki harapan besar dalam keadaan yang paling menantang terus bekerja dengan penuh semangat untuk Injil.”

Selain para pemimpin SIGNIS dari setiap negara, hadir juga ketua SIGNIS Asia Pastor Joseph Anucha, sekretaris Bernadetta Widiandajani dan anggota dewan Magimai Pragasam.

SIGNIS India menjadi tuan rumah pertemuan itu yang diketuai oleh Pastor Stanley Kozhichira, wakil ketua Pastor Norbert Herman, dan sekretaris Pastor Vijay Victor Lobo.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi