UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik Desak Agar Krisis Hong Kong Diselesaikan Secara Damai

Agustus 12, 2019

Umat Katolik Desak Agar Krisis Hong Kong Diselesaikan Secara Damai

Lebih dari 1200 umat Katolik berkumpul di depan Katedral Maria Dikandung Tanpa Noda pada 8 Agustus untuk mendoakan agar krisis politik di Hong Kong segera berakhir(ucanews.com)

Lebih dari seribu umat Katolik mengadakan aksi damai untuk mendokan agar krisis politik di Hong Kong segera berakhir.

Mereka meminta penarikan penuh atas amandemen undang-undang ekstradisi yang kontroversial, pembentukan komite investigasi independen atas konflik antara pengunjuk rasa dan polisi, dan pertanggungjawaban dari Dewan Legislatif Hong Kong dan kepala eksekutif.

Mereka berkumpul pada 8 Agustus di depan Katedral Maria Dikandung Tanpa Noda dan bererjalan melalui kawasan pusat bisnis ke Pengadilan Banding Akhir Hong Kong, sambil menyanyikan lagu-lagu pujian dan memegang lilin elektronik.

Aksi itu diprakarsai oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Hong Kong (HKJP), Federasi Siswa Katolik Hong Kong, Komisi Pemuda Keuskupan dan kelompok kepedulian sosial paroki St. Benediktus.

Uskup Auksilier Joseph Ha Chi-shing memberikan renungan kepada umat beriman, dengan mengatakan situasi saat ini menuntut agar Gereja berbicara dengan damai dan masuk akal.

“Dalam dua bulan terakhir, kita telah benar-benar mengalami batas kemanusiaan dan kita harus berdoa,” katanya kepada mereka.

“Kekerasan hanya akan menciptakan kekerasan-kekerasan baru. Kebencian hanya akan menghasilkan lebih banyak lagi kebencian. Ketidakadilan tidak akan pernah mencapai keadilan. Sejarah akan membuktikan bahwa hanya cara-cara dama dan akal sehat yang bisa menciptakan kedamaian jangka panjang,” kata uskup Ha

Uskup Fransiskan itu menunjukkan bahwa akar permasalahan terletak pada pemerintah Hong Kong, yang tidak mau tahu dengan tindakannya.

Sementara itu, menjaga perdamaian adalah seperti “misi yang mustahil” bagi polisi, karena masalah saat ini berakar pada politik, bukan keamanan, katanya.

Uskup Ha juga mengakui bahwa kota itu penuh dengan emosi dan tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan.

“Tapi setidaknya kita bisa berhenti sebentar dan saling memberi waktu untuk mendinginkan suasana untuk memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya,” usulnya.

Sekitar 1200 umat Katolik mengambil bagian dalam aksi doa bersama di Hong Kong pada 8 Agustus. (Foto ucanews.com)

Resolusi harus tanpa kekerasan

Lina Chan, sekretaris eksekutif HKJP, mencatat bahwa tingkat kekerasan oleh polisi dan perlawanan oleh para pengunjuk rasa meningkat, sehingga pada saat yang genting ini Gereja harus menekankan prinsip-prinsip non-kekerasan.

“Ketika kita menegaskan kembali pentingnya perdamaian, kita harus mendasarkannya pada keadilan,” kata Chan kepada ucanews.com.

“Kita perlu membawa kebenaran ke dalam terang, karena inilah yang dapat membawa kita ke rekonsiliasi sejati.”

Chan juga percaya pembentukan komite investigasi independen dapat membantu meringankan situasi saat ini.

“Hal ini bukan hanya permintaan dari kaum prosefional dan serikat pekerja, tetapi juga dari publik,” tambahnya. “Memiliki komite seperti itu dapat membantu menghindari hal serupa terjadi lagi.”

Francis Yu, seorang Katolik dari paroki St. Yohanes Pembaptis, setuju dengan gagasan untuk membentuk komite semacam itu, dan menambahkan hail itu bisa meredam emosi.

“Kekerasan saat ini bukan yang ingin kita lihat. Itu sebabnya saya berdoa dan berharap masalah ini dapat segera diselesaikan, “katanya kepada ucanews.com.

Meskipun RUU amandemen telah ditangguhkan, Yu ingin pemerintah untuk secara resmi mencabutnya. Dia juga menyerukan penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan kekuasaan oleh polisi.

Pastor Luke Park dari Korea Selatan, yang juga ikut dalam pawai itu, mencatat bahwa beberapa orang, baik dalam posisi otoritas maupun orang pada umumnya, mengharapkan resolusi cepat terhadap krisis ini.

“Tapi ada godaan untuk menggunakan kekerasan,” kata Pastor Park kepada ucanews.com.

“Menggunakan kekerasan bisa dilakukan dengan cepat, tetapi menemukan cara damai membutuhkan waktu. Itu sebabnya, sebagai orang Kristen, kita harus berpegang teguh pada posisi kita.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi