UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Filipina Kecam Sikap Diam Gereja Terhadap Berbagai Serangan

Agustus 14, 2019

Uskup Filipina Kecam Sikap Diam Gereja Terhadap Berbagai Serangan

Para biarawati menyalakan lilin di Manila pada 6 Agustus untuk menunjukkan solidaritas dengan para uskup dan imam Katolik yang dituduh melakukan penghasutan karena diduga ikut dalam komplotan untuk menggulingkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: Jire Carreon)

Seorang uskup di ibukota Filipina mengecam sikap diam umat Katolik, terutama para imam dan uskup terkait dengan meningkatnya jumlah target pembunuhan dalam beberapa pekan terakhir.

Uskup Auksilier Manila, Broderick Pabillo mengatakan para pemimpin gereja “kecuali beberapa uskup dan religius yang kawanannya terkena dampak langsung” telah diam.

Prelatus itu mengingatkan bahwa dengan berdiam diri “kita berpihak pada para penyerang [dan] kita memberi mereka kebebasan untuk melanjutkan serangan dan kebohongan mereka.”

“[Karena] kita membolehkan mereka bebas untuk melakukan kesalahan sekali, mereka tidak akan ragu untuk melakukannya lagi kepada orang lain, dan kemudian ke orang lain lagi,” katanya.

Uskup Pabillo membuat komentar demikian pada 12 Agustus dalam sebuah pernyataan yang menyerukan penyelidikan independen terhadap gelombang kekerasan di Pulau Negros di Filipina tengah.

Dia mengatakan penyelidikan tidak bisa begitu saja diserahkan kepada pihak berwenang, terutama tentara dan polisi yang terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Setidaknya 15 orang tewas oleh orang-orang bersenjata di Provinsi Oriental Negros bulan lalu, menyusul kematian empat polisi dalam sebuah penyergapan.

Pada 30 Maret, setidaknya 14 orang lainnya tewas dalam apa yang oleh pihak berwenang disebut sebagai pertempuran senjata dengan pasukan keamanan.

“Pertumpahan darah sekarang terjadi di Negros. Ini tidak bisa berlanjut. Pembunuhan harus dihentikan, “kata Uskup Pabillo.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah melaporkan setidaknya 87 pembunuhan warga sipil tak bersenjata di Provinsi Negros sejak pemerintah mengintensifkan kampanye anti-pemberontakan pada 2017.

Uskup Pabillo mengatakan bahwa bahkan dalam perang pemerintah melawan narkotika, orang-orang yang dibunuh bisa saja diselamatkan jika saja orang tidak diam.

“Jika sejak awal pengaduan itu datang dari semua penjuru karena ketidakadilan di beberapa daerah adalah ketidakadilan bagi semua, banyak nyawa bisa selamat,” kata uskup itu.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengklaim lebih dari 20.000 orang yang diduga pengguna narkoba dan pengedar telah terbunuh dalam “perang melawan narkoba” Presiden Rodrigo Duterte.

Mengenai Negros, Uskup Pabillo mencatat bahwa ada “teriakan dari empat uskup Katolik dan uskup lain dari denominasi Kristen lain di Negros untuk menghentikan penumpahan darah yang tak berkesudahan ini.”

“Tetapi mengapa para uskup dari keuskupan lain diam?” tanya prelatus itu. “Apakah kita harus menunggu pembunuhan menyebar ke keuskupan lain?”

Dia juga menyesalkan sikap diam publik atas serangan terhadap kritik yang dirasakan pemerintah, termasuk beberapa uskup dan imam Katolik, yang dituduh melakukan penghasutan.

“Kita semua tahu bahwa tuduhan itu tidak berdasar. Kita semua tahu bahwa itu adalah pelecehan hukum. Kita semua tahu bahwa itu adalah taktik untuk menakuti para pengkritik pemerintah,” kata Uskup Pabillo.

“Mengapa diam para pemimpin gereja lain, akademisi, dan umat awam pada umumnya. Apakah kita harus menunggu sampai pelanggaran yang sama terjadi kepada kita?”

“Diam bukan pilihan. Kita harus bicara – dan sekarang! Belalah yang tidak bersalah. Kecam agresi. Sebut tuduhan-tudingan itu apa adanya – sebagai dusta!” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi