UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Uskup Keluarkan Peringatan Tepat Waktu Terkait Serangan Sri Lanka

Agustus 15, 2019

Para Uskup Keluarkan Peringatan Tepat Waktu Terkait Serangan Sri Lanka

Para kerabrabat memberikan penghormatan di pemakaman korban ledakan bom Minggu Paskah di Gereja St. Sebastianus, Negombo, pada 28 April, sepekan setelah serangkaian serangan bom mematikan. (Foto: S. Kodikara/AFP)

Umat Katolik di Sri Lanka menggunakan kunjungan Pejabat Tinggi PBB untuk menyampaikan seruan mereka kepada pemerintah untuk mengungkapkan orang-orang yang bertanggung jawab atas serangan teroris pada Minggu Paskah.

Para uskup negara itu secara publik mengingatkan kembali serangan bom bunuh diri pada 21 April yang menewaskan  258 orang  di tiga gereja dan tiga hotel mewah.

Presiden Maithripala Sirisena membentuk komisi presiden untuk menyelidiki serangan itu tapi komisi itu belum mempublikasikan temuannya.

Tidak ada perkembangan berarti dalam empat bulan sejak ledakan itu dan pengunduran diri Sekretaris Pertahanan Hemasiri Fernando dan  pemecatan kepala kepolisian  Pujitha Jayasundara.

Berbagai kritikan terhadap pemerintah dan pembentukan keamanannya tidak hanya lemahnya dalam mengidentifikasi orang yang bertanggung jawab tapi tidak melakukan lebih banyak pencegahan bom dahulu — para pemimpin negara itu tahun tentang kemungkinan serangan beberapa minggu sebelumnya.

Para uskup mengatakan mereka masih tidak melihat tanda-tanda positip kemajuan  oleh para investigator dan belum melihat bukti kuat dari penyelidikan itu dilakukan.

“Rakyat menunggu dan melihat hasil penyelidikan ini karena diserahkan kepada mereka. Pemerintah belum memberikan asuransi kepada warga, sebagian warga masih dalam ketakutan dan ada ketidakpastian dalam pikiran masyarakat,” kata para uskup Sri Lanka dalam pernyataan mereka.

“Kami mengamati bahwa sejumlah komite telah dibentuk dan fokus utama mereka  adalah untuk menemukan orang yang bertanggung jawab.

“Meskipun upaya ini bermanfaat, kami menegaskan, sebagai masalah keadilan, tujuan akhir dari penyelidikan harus memastikan siapa pelakunya dan siapa yang membantu dan bersekongkol dengan cara apa pun dalam tindakan pengecut ini.”

Pelapor khusus PBB tentang kebebasan beragama, Ahmed Shaheed, melakukan kunjungan resmi 12 hari ke Sri Lanka mulai 15-26 Agustus.

“Saya akan melihat bagaimana  Sri Lanka meningkatkan dan melindungi hak kebebasan beragama,” katanya.

Shaheed akan mengidentifikasi setiap hambatan yang ada atau muncul agar semua orang menikmati kebebasan beragama dan akan menyajikan rekomendasi yang bertujuan mengatasi hambatan tersebut.

Bukan hanya para uskup yang kurang percaya pada komisioner yang ditunjuk pemerintah tersebut. Hiranya Kumuduni, seorang guru sekolah Minggu di kota Negombo barat, tempat 93 orang terbunuh oleh ledakan bom di Gereja St. Sebastian, mempertanyakan komitmen pemerintah untuk menemukan para pelakunya.

Dia mengatakan bahwa sejumlah pemimpin agama, termasuk biksu Buddha ekstremis dan politisi, mengeksploitasi tragedi itu untuk keuntungan pribadi mereka.

Kumuduni menghargai seruan para uskup untuk transparansi dan kemajuan, dengan menuduh pemerintah dan politisi oposisi tanpa malu-malu mencoba untuk mendapatkan keuntungan politik dari tragedi itu.

“Mereka memainkan permainan yang salah, mencoba mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya salah,” katanya.

Pemerintah telah melakukan puluhan penangkapan dan mengklaim semua pelaku adalah warga negara Sri Lanka yang terkait dengan Jama’at Thowheeth Nasional (NTJ), sebuah kelompok militan yang diduga memiliki hubungan dengan ISIS.

Namun, pengadilan telah membebaskan atau memberikan syarat jaminan kepada banyak dari mereka yang ditahan, dengan alasan kasus-kasus polisi terhadap mereka menjadi lemah.

Kumuduni juga melihat tidak ada bukti ISIS terlibat secara langsung. “ISIS memiliki reputasi untuk mengklaim tanggung jawab jika serangan itu sesuai dengan agenda mereka,” katanya. 

“Beberapa pemimpin agama dan politisi mempromosikan sentimen anti-Muslim untuk mendapatkan suara mayoritas umat Buddha Sinhala.”

Kardinal Malcolm Ranjith baru-baru ini menolak untuk bertemu dengan kandidat presiden sampai laporan investigasi tentang serangan Minggu Paskah itu dituntaskan.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi