UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelompok Cipayung Ingin Masuk Kampus yang Mahasiswanya Terpapar Radikalisme

Agustus 16, 2019

Kelompok Cipayung Ingin Masuk Kampus yang Mahasiswanya Terpapar Radikalisme

Sebuah poster dipajang di Bundaran HI, Jakarta, pada Hari Toleransi Internasional, yang diperingati pada setiap 16 November.

Kelompok mahasiswa antaragama dan nasionalis  menyerukan pemerintah untuk mengeluarkan peraturan agar mereka bisa masuk ke kampus-kampus di tanah air yang mahasiswanya terpapar radikalisme.

Kelompok mahasiswa atau yang dikenal sebagai kelompok  Cipayung itu – PMKRI, HMI, PMII, GMKI, IMM, Hikmahbudhi,dan KMHADI, yang didirikan 22 Januari  1972, di Cipayung, Bogor, Jawa Barat, bertujuan untuk mempertahankan UUD 45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. 

Maka, dalam menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-74, mereka ingin menyerukan kepada  pemerintah untuk mengizinkan mereka memasuki kampus-kampus terutama universitas negeri yang mahasiswanya rawan terpapar radikalisme.  

“Pertumbuhan radikalisme, intoleransi dan politik identitas berkembang di kalangan intelektual muda di kampus,” kata Robaytullah Kusuma Jaya, ketua GMNI.

Menurut Robaytullah, kehadiran Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) menghilangkan diskusi-diskusi politik kebangsaan.

Ia mengatakan kelompok radikal  menggunakan lembaga-lembaga di kampus untuk menyebarkan paham radikal.

“Sejak tahun  2000-an, sel-sel bertumbuh dengan rapi dan terstruktur, selain indoktrinasi, mereka juga menguasai fasilitas akademi, mendapat beasiswa di dalam atau luar negeri, dan diberikan akses sebagai pengajar yang menjadi faktor utama kelompok ini menguasai kampus,” katanya.

Menurut survei Setara Institute dari  Februari hingga April 2019,  ada 10 PTN yang mahasiswanya  terpapar radikalisme, termasuk sejumlah universitas ternama seperti UI, UGM, ITB dan IPB.

“Ini harus segera diatasi dan jalan tengahnya kelompok  Cipayung harus diberikan ruang untuk masuk ke kampus-kampus khususnya PTN,” kata Juventus Prima Yoris Kago, ketua PMKRI.

Menurutnya, ada Peraturan Menristekdikti Nomor 55 Tahun  2018 tentang Pembinaan Ideologi Bangsa dalam Kegiatan Kemahasiswaan di lingkungan kampus yang disusun bersama kelompok Cipayung. Namun, mereka tetap mengalami kesulitan maka perlu ada peraturan operasional  yang lebih tegas.

“Dalam kondisi seperti ini pemerintah harus membuat kebijakan yang tegas,” katanya. 

Ia mengatakan proses perekrutan dan pengkaderan untuk kepemimpinan  mahasiswa selama ini dikuasai kelompok tertentu. 

Serupa juga diungkapkan oleh Alan Christian Singkali, sekjen GMKI. Organisasinya  sulit masuk ke kampus-kampus negeri untuk merekrut kadernya. 

“Hingga sekarang banyak kampus melalui kebijakan rektor melarang kegiatan organisasi mahasiswa external termasuk menghambat kelompok  Cipayung di kampus mereka dan tidak mampu membendung kelompok radikal intoleransi yang menyusupi organ-organ  internal,” katanya.

Stanislaus Riyanta, analis inteligen dari UI, mengakui bahwa universitas negeri lebih masif karena ada ruang karena jumlah mahasiswa terlalu banyak  ketimbang universitas swasta.

“Kampus-kampus negeri harus mengajak organisasi mahasiswa moderat untuk masuk ke kampus mereka guna mempromosikan konsep kebangsaan dan wawasan kehangsaan,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi