UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup di India Kecewa Pelaku Main Hakim Sendiri Dibebaskan Pengadilan

Agustus 16, 2019

Uskup di India Kecewa Pelaku Main Hakim Sendiri Dibebaskan Pengadilan

Seorang warga negara India memberi makan seekor sapi saat perayaan Ram Navami di Kuil Shri Ram Hunuman Vatika di New Delhi pada April 2017. Sapi dianggap sebagai hewan suci menurut agama Hindu. (Foto: Dominique Faget/AFP)

Seorang uskup di India bagian barat merasa kecewa dengan keputusan pengadilan untuk membebaskan enam orang yang dituduh memukul seorang Muslim hingga tewas dua tahun lalu dalam kasus perlindungan sapi.

Pada 14 Agustus, Pengadilan Distrik Alwar di Negara Bagian Rajasthan menyatakan “tidak ada bukti yang cukup” dalam kasus tersebut sehingga membebaskan keenam orang yang dituduh menjadi bagian dari sekelompok massa yang main hakim sendiri. 

Sekelompok massa memukul Pehlu Khan, 55, di sebuah jalan umum pada 1 April 2017. Khan meninggal di sebuah rumah sakit.

“Keputusan pengadilan mengejutkan dan sangat mengecewakan,” kata Uskup Ajmer Mgr Pius Thomas D’Souza. 

“Sangat menyedihkan bahwa ada keputusan pengadilan seperti itu meskipun ada rekaman video tentang aksi sekelompok massa yang main hakim sendiri itu,” lanjutnya.

Kepala Negara Bagian Rajasthan Ashok Gehlot mengatakan kepada media bahwa pemerintah akan mengajukan banding ke pengadilan tinggi.

Keputusan pengadilan tersebut disampaikan di hadapan keenam tersangka yang dibebaskan dengan jaminan dalam persidangan yang berbeda. Tiga tersangka lainnya yang masih remaja tengah menjalani persidangan di Dewan Keadilan Remaja di Distrik Alwar.

Khan dan dua anak laki-lakinya diserang sebuah kelompok saat mereka tengah mengangkut beberapa sapi ke rumah mereka dari Negara Bagian Haryana. Khan dituduh menyelundupkan sapi-sapi itu untuk disembelih yang – menurut sejumlah laporan – karena ia tidak bisa menunjukkan surat ijin pengangkutan.

Namun prelatus itu berharap keadilan akan muncul di pengadilan tinggi.

Penyembelihan seekor sapi, hewan yang dianggap suci menurut agama Hindu, dilarang oleh undang-undang di Negara Bagian Rajasthan dan beberapa negara bagian lain di India.

Sejumlah undang-undang yang melarang penyembelihan sapi, penjualan atau penyaluran sapi serta kepemilikan dan penjualan sapi berlaku di 20 dari 29 negara bagian di India.

Beberapa kelompok yang main hakim sendiri untuk melindungi sapi telah aktif di beberapa negara bagian khususnya sejak Bharatiya Janata Party (BJP) yang pro-Hindu mulai berkuasa pada 2014.

Pemerintah terus menghadapi tuduhan bahwa mereka mendukung kelompok-kelompok Hindu yang main hakim sendiri dengan impunitas karena mereka tengah mempercepat aksi untuk menjadikan India sebagai negara Hindu.

Akhtar Hussain, pengacara keluarga Khan, merasa khawatir bahwa pembebasan para pelaku akan meningkatkan jumlah kasus main hakim sendiri. 

Sementara itu, pengacara para tersangka, Hukum Chand Sharma, mengatakan keputusan pengadilan tersebut historis. 

Ia mengatakan kepada media bahwa kesaksian yang disampaikan saat sidang tuntutan tidak bisa mengidentifikasi para tersangka. 

Khan, lanjutnya, memiliki penyakit jantung dan ada opini berbeda tentang penyebab kematiannya – serangan jantung atau patah tulang rusuk.

Ia membantah jika saksi yang merekam insiden pemukulan itu tidak dihadirkan dalam persidangan dan jika video itu tidak melewati uji forensik untuk membuktikan keasliannya.

Keputusan pengadilan tersebut “menyimbolkan nilai terendah dalam sebuah sistem yang mengijinkan massa untuk membunuh dengan alasan untuk melindungi sapi dan kemudian dibebaskan baik karena politik maupun penyelidikan yang kurang maksimal,” kata aktivis hak asasi manusia (HAM) Anant Bhantnagar dari Perhimpunan Kebebasan Masyarakat Sipil.

Bhantnagar mengatakan polisi sengaja melemahkan kasus itu agar para tersangka dibebaskan.

Suster Carol Geeta dari Kongregasi Puteri-Puteri Misi di Distrik Ajmer, seorang aktivis HAM yang berkarya di Negara Bagian Rajasthan, menyampaikan sentimen serupa.

“Pembebasan itu disebabkan oleh penyelidikan yang tidak maksimal,” katanya, seraya mengimbau agar kasus kriminal didaftarkan ke pejabat yang terlibat dalam penyelidikan.

“Pembebasan semacam itu memberi impunitas kepada orang-orang yang membunuh atas nama sapi, hal yang mengancam nilai-nilai demokrasi bangsa kita yang besar ini,” katanya.

Sejumlah laporan menunjukkan bahwa sekitar 44 orang tewas dalam serangan main hakim sendiri sejak 2015 dalam lebih dari 80 kasus yang juga mencederai 140 orang lainnya.

Sekitar 36 dari jumlah korban tewas beragama Islam. Selain itu, korban adalah warga Suku Dalit beragama Hindu dan warga suku beragama Kristen.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi