UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pengungsi Rohingya Pesimistis Terhadap Rencana Repatriasi

Agustus 20, 2019

Pengungsi Rohingya Pesimistis Terhadap Rencana Repatriasi

Nampak dalam foto ini para pengungsi etnis Rohingya di kamp pengungsi di Cox’s Bazar pada 27 September 2017. Banglades dan Myanmar telah sepakat untuk memulai kembali proses repatriasi terhadap 3.540 pengungsi mulai 22 Agustus. (Foto: Stephan Uttom/ucanews.com)

Pemerintah Banglades dan pemerintah Myanmar telah memulai langkah baru untuk memulangkan ribuan umat Islam etnis Rohingya yang mengungsi akibat operasi militer pada 2017. Namun langkah ini memunculkan pesimistis dan kekhawatiran di kalangan para pengungsi.

Menurut Reuters, otoritas kedua negara tersebut bekerja sama dengan UNHCR dalam merencakan repatriasi 3.540 pengungsi etnis Rohingya dari Distrik Cox’s Bazar di Banglades bagian tenggara ke Negara Bagian Rakhine di Myanmar mulai 22 Agustus.

Daftar pengungsi yang akan dipulangkan dihapus oleh Myanmar setelah Banglades menyerahkan sebuah daftar berisi 22.000 pengungsi saat delegasi Myanmar melakukan kunjungan ke Bangladesh bulan lalu.

Rencana ini merupakan upaya repatriasi kedua setelah upaya yang sama pada 15 November tahun lalu gagal karena penolakan dari para pengungsi.

Lebih dari satu juta umat Islam etnis Rohingya dari Negara Bagian Rakhine ditampung di lebih dari 24 kamp di Distrik Cox’s Bazar. Sebagian besar melarikan diri dari operasi militer yang mulai dilakukan pada 24 Agustus 2017.

Banglades berkomitmen melakukan pemulangan para pengungsi secara aman dan sukarela ke kampung halaman mereka, kata Ketua Komisi Repatriasi dan Bantuan Pengungsi Muhammad Abul Kalam.

“Persiapan repatriasi tengah dilakukan. Kami bekerja sama dengan UNHCR untuk mendorong warga yang terdaftar agar menyiapkan diri untuk pulang, tetapi tidak satu pun akan dipaksa dan kepulangan mereka bersifat sukarela,” katanya kepada ucanews.com.

Namun ia menolak berkomentar ketika ditanya apakah mereka akan memaksa jika warga etnis Rohingya menolak untuk dipulangkan ke Negara Bagian Rakhine.

Pengungsi etnis Rohingya merasa pesimistis terhadap langkah repatriasi tersebut.

“Sebagian besar warga etnis Rohingya tidak tahu rencana itu dan, sejauh yang saya tahu, mereka yang ada dalam daftar belum diberitahu atau bersedia pulang ke Myanmar saat ini,” Muhib Ullah, seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) etnis Rohingya yang tinggal di kamp Kutupalong di Distrik Cox’s Bazar mengatakan kepada ucanews.com.

“Kami juga belum tahu tentang alasan mengapa pemerintah Banglades dan pemerintah Myanmar sepakat memulai proses repatriasi saat ini,” lanjutnya.

Tuntutan Utama

Menurut Ullah, warga etnis Rohingya telah menjelaskan dalam berbagai kesempatan bahwa mereka hanya akan pulang jika tiga tuntutan utama mereka – kewarganegaraan, keamanan tingkat internasional dan pemulangan ke kampung halaman, bukan kamp – dipenuhi.

Warga etnis Rohingya juga merasa khawatir tentang situasi saat ini di Negara Bagian Rakhine.

“Warga etnis Rohingya merasa ragu bahwa momentum repatriasi kurang pas karena pemberontak Tentara Arakan tengah berperang melawan militer,” katanya.

“Jika pemerintah Myanmar bisa menjamin perdamaian di Negara Bagian Rakhine dan memenuhi tuntutan kami, warga etnis Rohingya siap pulang kapan saja,” lanjutnya.

Muhammad Rezwan, 22, tiba di kamp pengungsi di Kutupalong pada awal September 2017 bersama tujuh anggota keluarganya. Ia menyampaikan kegelisahan yang sama.

“Saya heran bagaimana mungkin repatriasi warga etnis Rohingya dimulai saat ini mengingat perang antara para pemberontak Tentara Arakan dan militer Myanmar tengah berlangsung. Bahkan jika nama keluarga saya ada dalam daftar yang baru, saya tidak akan pulang karena ini berbahaya sebab situasi tidak mendukung,” lanjutnya.

Ia mengatakan suara warga etnis Rohingya tidak didengar ketika Banglades, Myanmar dan UNHCR menandatangani kesepakatan repatriasi tahun lalu.

“Tidak diragukan lagi setiap warga etnis Rohingya akan pulang secara sukarela jika mereka dijanjikan bahwa kepulangan mereka akan berlangsung secara aman dan hidup mereka akan lebih baik di Myanmar,” katanya.

Direktur Regional Caritas Chittagong James Gomes mengatakan rencana repatriasi baru itu merupakan “langkah simbolis” menjelang peringatan kedua eksodus warga etnis Rohingya.

“Saya kira baik Banglades maupun Myanmar berusaha melakukan sesuatu menjelang 25 Agustus, hari ketika dua tahun lalu warga etnis Rohingya mulai mengungsi ke Banglades dari Negara bagian Rakhine untuk menghindari kekejaman militer,” katanya kepada ucanews.com.

“Solusi damai terhadap krisis yang dihadapi warga etnis Rohingya tergantung pada pemulangan mereka ke kampung halaman secara bermartabat. Kami ingin melihat repatriasi dimulai, tetapi pemulangan warga etnis Rohingya hendaknya benar-benar dilakukan secara sukarela,” lanjutnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi