UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tokoh Agama di Filipina Adopsi Dokumen Abu Dhabi

Agustus 20, 2019

Tokoh Agama di Filipina Adopsi Dokumen Abu Dhabi

Para pemimpin agama di Mindanao mengadakan konferensi tentang 'Berjalan dan Bekerja Bersama untuk Rekonsiliasi dan Persatuan' di Universitas Ateneo de Davao pada 14 Agustus. (Foto: Kantor Penasihat Presiden untuk Proses Perdamaian)

Para pemimpin agama di wilayah Mindanao, Filipina selatan, mengadopsi dokumen Abu Dhabi, yang ditandatangi Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, untuk menumbuhkan saling pengertian di antara berbagai agama.

Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles, Ketua Konferensi Waligereja Filipina mengatakan ia akan merekomendasikan para uskup untuk mengadopsi dokumen itu sebagai “kode etik.”

Paus Fransiskus dan Ahmad Al-Tayyeb mengeluarkan “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama” dalam kunjungan Paus ke Abu Dhabi pada Februari lalu.

Pertemuan para pemimpin Kristen dan Muslim diadakan di Kota Davao pekan lalu setelah serangan bom baru-baru ini di Provinsi Sulu dan Zamboanga.

Pastor Joel Tabora SJ, presiden Universitas Ateneo de Davao, menggambarkan dokumen itu sebagai hal yang “luar biasa” karena merupakan sebuah hasil dialog.

Imam itu mencatat “sejarah konflik, kekerasan, dan perang” yang sudah berlangsung lama antara Muslim dan Kristen meskipun ada fakta bahwa “keduanya percaya pada satu Tuhan yang Berbela Rasa.”

“Dialog mempromosikan budaya toleransi dan mengurangi masalah ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan,” kata Pastor Tabora.

Carlito Galvez Jr., penasihat perdamaian pemerintah, mengatakan dokumen itu “akan membantu mencegah terulangnya konflik bersenjata dan penyebaran ekstremisme kekerasan” di wilayah tersebut.

“Kami akan menggunakan dokumen ini sebagai dasar untuk keterlibatan lembaga kami,” kata mantan jenderal militer itu.

Pertemuan di Mindanao, yang mengusung tema “Bekerja dan Berjalan Bersama untuk Penyembuhan dan Rekonsiliasi,” bertujuan untuk mengumpulkan saran tentang cara menangani masalah perdamaian dan keamanan.

Profesor Moner Bajunaid, sekretaris jenderal Konferensi Ulama Nasional Filipina, mengatakan keragaman agama di Filipina harus menjadi dasar untuk dialog.

“Upaya mencapai perdamaian melalui dialog ini harus menjadi upaya yang berkelanjutan,” katanya, sambil menambahkan bahwa, “ada kebutuhan untuk membuat ini lebih dinamis.”

“Kita harus ingat bahwa kita tidak hanya memiliki dua agama. Kita harus berhati-hati untuk tidak menyentuh hal-hal sensitif satu sama lain,” katanya.

Sementara itu, Pastor Tabora mencatat ketepatan waktu peluncuran dokumen tersebut dengan ratifikasi perjanjian damai antara pemerintah Filipina dan pemberontak Moro di Mindanao.

“Ratifikasi [perjanjian damai] adalah bersejarah untuk perdamaian di Mindanao dan di Filipina antara Muslim dan Kristen yang telah saling bermusuhan selama berabad-abad,” kata imam itu.

Setelah empat dekade perang, pemerintah dan pemberontak Front Pembebasan Islam Moro akhirnya membuat perjanjian damai yang komprehensif pada tahun 2014.

Warga daerah yang mayoritas Muslim di Mindanao meratifikasi kesepakatan dengan disahkannya Undang-Undang Organik Bangsamoro pada bulan Januari yang membuka jalan bagi terciptanya daerah otonom Muslim yang baru.

Wilayah Muslim baru diharapkan memiliki otonomi yang lebih luas, lebih banyak kekuatan dan sumber daya, dan wilayah yang lebih besar dari sebelumnya.

“Suatu proses perdamaian yang sulit menentukan bahwa ketidakadilan historis yang dilakukan terhadap Bangsamoro dapat diluruskan,” kata Pastor Tabora.

Imam itu menyoroti deklarasi yang dibuat oleh Paus Fransiskus dan Al-Tayyeb yang memuat “adopsi budaya dialog adalah jalan, saling  bekerja sama adalah kode etik, dan saling memahami adalah adalah prasyarat.”

Dokumen itu juga menyerukan perlindungan tempat-tempat ibadah – sinagog, gereja dan masjid – selama masa konflik.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi