UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Vietnam Mengenang Korban Diskriminasi

Agustus 21, 2019

Gereja Vietnam Mengenang Korban Diskriminasi

Para pejabat agama dari kelompok-kelompok yang tidak diakui pemerintah menyampaikan laporan pelanggaran mereka kepada para diplomat Amerika Serikat di Kota Ho Chi Minh, pada Mei. (Foto: ucanews.com)

Gereja Katolik di Vietnam telah mengadakan serangkaian kegiatan pastoral untuk korban kekerasan berdasarkan iman mereka.

Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Vietnam mendesak semua keuskupan dan kongregasi seluluh negara itu merayakan Misa dan Adorasi khusus pada 22 Agustus untuk menandai Hari Internasional Mengenang Korban Tindak Kekerasan Berbasis Agama atau Kepercayaan.

Umat Katolik hendaknya “berdoa bagi kebebasan beragama yang menjadi ujian di negara kita (agar) para korban kekerasan dan penganiayaan agama berada dalam kedamaian,” kata pernyataan komisi itu.

Mereka juga meminta untuk berkunjung dan memberikan dukungan spiritual bagi para keluarga korban  dalam komunitas-komunitas mereka.

Pernyataan, yang ditandatangani oleh Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan Perdamaian Pastor Joseph Mary Le Quoc Thang, menyatakan bahwa meskipun tidak ada tindakan represif brutal dalam skala besar di negara komunis itu, “kebebasan berkeyakinan dan agama tidak benar-benar dianggap sebagai hak asasi manusia tetapi hanya bantuan yang perlu dimintakan (oleh penganut) dan diberikan (oleh otoritas). ”

Agama sebagai hak asasi manusia 

Pastor Thang mengatakan acara itu bertujuan untuk menunjukkan solidaritas dengan Majelis Umum PBB, yang memutuskan untuk menandatangani pada 22 Agustus karena hari khusus itu untuk para korban kekerasan akibat iman mereka.

Majelis Umum PBB mengingatkan kembali bahwa negara-negara memiliki tanggungjawab untuk memperomosikan dan melindungi HAM, termasuk hak kaum minoritas agama termasuk hak mereka untuk mempraktekkan agama dan kepercayaan mereka.

Pastor Anthony Nguyen Van Dinh, ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan  Vinh di bagian utara-tengah Vietnam, mengatakan kekerasan agama meningkat di banyak daerah di negara itu.

“Banyak individu, keluarga dan organisasi didiskriminasikan karena menentang ketidakadilan, diteror dan dipenjarakan akibat mempraktekkan iman mereka atau mengungkapkan keyakinan mereka,” katanya.

Pastor Dinh juga menyerukan semua paroki berkumpul di gereja-gereja untuk berdoa bagi kebebasan beragama di seluruh negara mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak umat Katolik di keuskupanan itu telah dipenjarakan dan dilecehkan karena menentang penganiayaan agama, polusi lingkungan, ketidakadilan sosial dan kekerasan.

Asosiasi Perlindungan Kebebasan Beragama yang berbasis di Vietnam mencatat 20 kasus pelanggaran agama di seluruh negara itu selama enam bulan pertama tahun 2019.

Para aktivis mengatakan kelompok-kelompok agama yang melawan kontrol pemerintah perjalanan mereka dibatasi, dilarang untuk mengadakan kegiatan keagamaan, diserang secara brutal oleh polisi. Kelompok-kelompok yang diakui pemerintah beroperasi karya mereka menurut keinginan pemerintah.

Vietnam telah mengakui dan mendaftarkan 43 organisasi keagamaan dari 16 agama yang memiliki sekitar 26 juta penganut, termasuk hampir 56.000 pemuka agama dan lebih dari 29.300 tempat ibadah, demikian Komite Urusan Agama Pemerintah.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi