UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pernyataan UAS Munculkan Reaksi Beragam di Kalangan Umat Kristen

Agustus 21, 2019

Pernyataan UAS Munculkan  Reaksi Beragam di Kalangan Umat Kristen

Puluhan anggota PMKRI Cabang Maumere menggelar aksi protes di depan Kantor Polres Sikka pada Senin (19/8) untuk menuntut penangkapan Ustad Abdul Somad. (Foto: PMKRI Cabang Maumere)

Pernyataan yang disampaikan Ustad Abdul Somad (UAS) dalam sebuah tausiyah terkait pandangan Islam tentang Salib memunculkan bermacam reaksi di kalangan umat Kristen.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial akhir pekan lalu, UAS mengatakan “di salib itu ada jin kafir” dan “di dalam patung itu ada jin kafir.”

UAS menyampaikan pernyataannya ketika menjawab sebuah pertanyaan dari seorang wanita – yang mengatakan bahwa hatinya menggigil ketika melihat Salib – pada sesi tanya-jawab seusai kajian Subuh di Masjid Annur di Pekanbaru, Propinsi Riau.

Jawaban UAS terhadap pertanyaan wanita itu memunculkan bermacam reaksi di kalangan umat Kristen di Indonesia.

Di Maumere, Propinsi Nusa Tenggara Timur, puluhan anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Maumere menggelar aksi protes di depan Kantor Kepolisian Resor (Polres) Sikka pada Senin (19/8) untuk menuntut penangkapan terhadap UAS.

Dua hari sebelumnya, PMKRI Cabang Maumere dan Forum Komunikasi Alumni PMKRI Cabang Maumere melaporkan UAS ke Polres SIkka atas tuduhan penistaan agama.

“Kami merasa bahwa kami sangat terhina dan terpukul sekali karena simbol keagamaan kami, Salib, yang disampaikan dalam tausiyah Ustad Abdul Somad itu terkesan sangat menghina dan menyatakan bahwa simbol kami itu berisi jin kafir. Kami sangat tersinggung,” kata Ketua Presidium PMKRI Cabang Maumere Marianus Fernandez kepada ucanews.com.

“Menurut kami, sebagai masyarakat Katolik dan organisasi yang bernafaskan nilai-nilai ke-Katolik-an, simbol Salib adalah Juru Selamat kami. Dan itu tidak bisa dihina oleh siapa pun. Ketika itu disampaikan dalam tausiyah, terlepas tausiyah itu privat atau tidak, ketika dia muncul di ruang publik, kami merasa bahwa ini seperti proses penghujatan terhadap iman dan agama kami,” lanjutnya.

Sentimen senada disampaikan oleh Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA).

“ISKA menyayangkan beredarnya konten tersebut, terlebih disampaikan oleh seorang tokoh agama yang justru sebenarnya diharapkan memberikan kesejukan dan mampu mengayomi agama dan kepercayaan lainnya,” kata Ketua Presidium Pusat ISKA Vincentius Hargo Mandirahadjo.

“Beredarnya konten tersebut ke publik mencederai semangat dan usaha menjaga toleransi antar pemeluk agama. Toleransi merupakan modal dasar keberlangsungan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk.  Komitmen merawat kebangsaan Indonesia merupakan tanggung jawab moral kita bersama tanpa harus mempertimbangkan kuantitas,” lanjutnya.

Ia juga mengingatkan para tokoh agama agar tidak mencampuri urusan agama orang lain.

“Keyakinan dan teologi bisa berbeda, tetapi mari kita hormati keberagaman kita ini. Jangan masuk wilayah agama yang bukandomain-nya. Bagaimana kita juga diajarkan untuk menghormati keyakinan dan agama orang lain. Itu yang harus kita pegang pertama,” katanya.

Sementara itu, Sahat Martin Philip Sinurat, sekjen Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), mengatakan GAMKI telah mengeluarkan pernyataan yang meminta UAS untuk menyampaikan klarifikasi atas pernyataannya.

“Kami sudah mengeluarkan pernyataan terkait permintaan klarifikasi dan menghubungi teman-teman yang masih berkomunikasi dengan beliau. Kami berharap dalam beberapa hari ke depan, klarifikasi sudah disampaikan oleh beliau,” katanya.

“Kami sudah dapat kabar bahwa sudah ada klarifikasi, tapi klarifikasi yang disampaikan masih kurang menyejukkan umat kami yang sudah resah dengan statement beliau,” lanjutnya.’’

UAS kemudian menyampaikan klarifikasi melalui sebuah video yang diunggah ke YouTube. Dalam klarifikasinya, ia mengatakan bahwa ia menjawab pertanyaan dan tidak berusaha merusak hubungan karena pernyataannya disampaikan di sebuah masjid.

“Pengajian itu lebih tiga tahun yang lalu. Sudah lama … Kenapa diviralkan sekarang? Kenapa dituntut sekarang?” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi