UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Misionaris Vietnam, Figur Ayah Bagi Anak Terlantar di Kamboja

Agustus 26, 2019

Misionaris Vietnam, Figur Ayah Bagi Anak Terlantar di Kamboja

Bruder Joseph Nguyen Thanh Tung bersama beberapa anak di bawah asuhannya di Panti Asuhan Anak Yatim Mekong yang berbasis di Provinsi Kandal, Kamboja. (Foto: ucanews.com)

Beberapa anak dengan riang mengerumuni dan menyapa Bruder Joseph Nguyen Thanh Tung ketika dia tiba di panti asuhan yang didirikannya di Kamboja bagian tenggara pada tahun 2013.

Mereka menawarinya kursi untuk duduk, sementara dia menawari anak-anak itu buah-buahan dan permen.

“Dia adalah ayah kami. Kami mencintainya karena dia membesarkan kami dengan baik,” kata Joseph Say Ha, 10, anak yang pertama dirawat oleh bruder asal Vietnam dari Kongregasi Misionaris Bunda Penebus itu.

Sepuluh tahun yang lalu, Joseph diserahkan oleh neneknya kepada Bruder Tung ketika bocah itu baru berusia 25 hari. Ibu Joseph sebelumnya menelantarkannya, sementara ayahnya meninggal karena HIV/AIDS.

Bruder Tung bertanggung jawab atas bayi tersebut yang kala itu menderita penyakit kulit  dan membutuhkan perawatan selama dua minggu di rumah sakit. Itu terjadi tidak lama setelah Bruder Tung tiba di negeri itu sebagai misionaris.

Joseph sekarang duduk di kelas dua dan dia berbicara bahasa Kamboja dan Vietnam. 

Dia adalah salah satu dari 24 anak yatim – dari bayi hingga pemuda – yang saat ini dirawat Bruder Tung di Panti Asuhan Anak Yatim Mekong di Distrik Leuk Dek, Provinsi Kandal. Anak-anak yatim berasal dari keluarga etnis Kamboja dan Vietnam.

Bruder Tung mengatakan bahwa beberapa dari mereka menderita cacat fisik.

Setiap anak di panti itu dibaptis dan diberi akta kelahiran yang memungkinkan mereka untuk bisa masuk sekolah umum.

“Saya mencintai mereka seperti anak-anak saya dan memperlakukan mereka secara manusiawi, sementara mereka memanggil saya Ba [ayah],” kata Bruder Tung.

“Kami hidup bersama dalam harmoni yang sempurna di sini dan memperlakukan satu sama lain seperti anggota keluarga,” katanya, sambil menambahkan bahwa tidak ada diskriminasi atas dasar ras di panti tersebut.

Dia mengatakan panti itu bertujuan mengembangkan model hidup bersama yang damai antara etnis Kamboja dan Vietnam di negara itu, di mana selama ini relasi antarkeduanya berada dalam ketegangan.

Bruder Tung mengatakan bahwa panti itu berpusat di wilayah mayoritas Kamboja dan didukung oleh orang-orang setempat yang memiliki hubungan baik dengannya.

Komunitas etnis Vietnam tidak memiliki kewarganegaraan Kamboja. Mereka dianggap sebagai migran ilegal dan tidak diberikan surat-surat identitas pribadi meskipun mereka telah tinggal di negara ini selama beberapa generasi. Mereka menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan, perawatan kesehatan, pekerjaan formal dan memiliki properti.

Mereka harus menyewa tanah dari orang Kamboja untuk membangun rumah mereka, dan anak-anak mereka tidak diterima di sekolah umum karena mereka tidak diberikan akta kelahiran.

Etnis Vietnam adalah kelompok minoritas terbesar di Kamboja, terhitung sekitar 180.000 orang, demikian menurut data pemerintah.

Seorang biarawati Dominikan menawarkan manisasn kepada anak-anak di panti. (Foto: ucanews.com)

Menyelamatkan anak-anak tunawisma

Anak terakhir yang dibawa ke panti Bruder Tung adalah seorang bocah lelaki berusia 2 bulan yang dibawa ke sana oleh seorang pejabat pemerintah awal tahun ini. 

Ibu dari anak itu, seorang gadis Kamboja berusia 18 tahun ditinggalkan oleh pacarnya dan dia tidak bisa merawat anaknya.

Kasus lain adalah Vincent Nguyen Van Nho yang bersama adik perempuan dan kakaknya dibawa ke Bruder Tung pada tahun 2009. Ayah anak-anak itu tenggelam di sebuah danau dan ibu mereka meninggal karena TBC.

Nho, sekarang 21 tahun, meninggalkan panti itu pada tahun 2014 tetapi kembali lagi bulan lalu setelah ia mengalami pengalaman yang mengerikan sebagai nelayan di Danau Tonle Sap, di mana ia ditangkap bersama beberapa orang lain saat sedang memancing di daerah terlarang. Beberapa rekan kerjanya ditembak mati oleh polisi dan dia ditahan, dipukuli dan kemudian dimintai tebusan.

“Saya sekarang merasa beruntung masih hidup. Tuhan menyelamatkan saya,” katanya.

“Sekarang saya mencoba memulai kehidupan baru di sini karena saya tidak punya tempat tinggal dan tidak ada yang memperlakukan saya secara baik seperti orang-orang di sini,” kata Nho.

“Saya akan mengasah keterampilan khusus menjalani kehidupan yang baik. Saya berterima kasih kepada Ba [Bruder Tung], “katanya.

Brother Tung, yang juga memberikan pelayanan pastoral di sebuah paroki, dengan 300 etnis Vietnam Katolik, mengatakan bahwa ia berusaha merawat anak-anak sampai mereka dewasa, memastikan bahwa mereka memiliki pekerjaan dan menikah.

“Saya berharap anak-anak yang berada dalam pengasuhan saya akan bisa menyatu ke dalam masyarakat dan hidup dalam harmoni dengan yang lain,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi