UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

BKSY Memartabatkan Orang Tidak Mampu

Agustus 27, 2019

BKSY Memartabatkan Orang Tidak Mampu

Veronica Dasiyem memperlihatkan kopian kartu anggota program BKSY. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Ingatan Veronica Dasiyem, 56, masih segar ketika suaminya meninggal dunia lebih dari empat tahun lalu, terutama ketika ia saat itu merasakan manfaat dari program Berbelarasa Dalam Kematian dan Kesehatan yang lebih dikenal sebagai BerKhat Santo Yusup (BKSY).

Suaminya yang berusia 79 tahun, Antonius Tommy Ingleton, meninggal dunia pada Mei 2015 akibat penyakit radang paru-paru setelah menjalani rawat inap selama sekitar 14 hari di sebuah rumah sakit yang terletak tidak jauh dari kediamannya di Pisangan Baru, Jakarta Timur.

Tiga bulan sebelum kematian suaminya, Dasiyem dan suaminya mendaftarkan diri menjadi anggota program BKSY dengan membayar iuran tahunan masing-masing sebesar Rp 80.000.

“Iurannya tidak berat menurut saya. (Ibaratnya saya mengumpulkan) sehari hanya sekitar Rp 200,” katanya kepada ucanews.com.

Ibu tiga anak yang berasal dari Paroki St. Yoseph di Matraman, Jakarta Timur, itu pernah berjualan makanan di dekat kediamannya setiap hari dan berjualan telur asin di depan gereja paroki setiap akhir pekan untuk menambah penghasilan keluarga.

Namun sebagai anggota program BKSY, Dasiyem merasa terbantu ketika suaminya meninggal dunia.

“Saya dapat bantuan (dana kematian) sebesar 10 juta rupiah dari program BKSY. Bagi orang yang mampu, duit sebesar itu tidak ada apa-apanya. Tapi bagi saya, duit sebesar itu besar sekali. Sangat membantu,” lanjutnya.

Anggota program BKSY lainnya, Margaretha Timu, 34, menerima bantuan dana kematian dengan jumlah yang sama ketika anak keduanya yang berumur dua tahun meninggal dunia akibat penyakit cerebral palsy beberapa bulan lalu.

“Saya ikut program BKSY karena program ini cukup membantu saya,” kata umat Paroki St. Matius Penginjil di Bintaro, Tangerang Selatan, itu.

Meskipun penghasilan suaminya sebagai seorang sopir di sebuah biro perjalanan tidak terlalu besar, ia berusaha sebaik mungkin untuk secara rutin membayar iuran tahunan program BKSY untuk dirinya beserta suami dan anak pertamanya.

Bagi Bernardus Samosir, 61, program BKSY memberinya kelegaan. 

Umat Paroki St. Yohanes Penginjil di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu bergabung dengan program BKSY pada 2016. Setahun kemudian, ia menjalani operasi prostat. Namun kondisi kesehatannya menurun sejak saat itu. Bahkan ia harus membawa selang kateter setiap saat.

“Saya hanya ingin sehat. Kalau saya dipanggil Tuhan, saya sudah siap secara lahir dan batin. Saya lahir sehat, jadi meninggal pun juga sehat,” katanya.

Selain Dasiyem, Timu dan Samosir, program BKSY diikuti oleh sekitar 25.000 umat Katolik yang berumur tidak kurang dari 15 hari dan tidak lebih dari 80 tahun. Mereka berasal dari 32 paroki di Keuskupan Agung Jakarta. 

Theodorus Wiryawan (Foto: Sekretariat BKSY)

Belarasa

Diprakarsai oleh Paguyuban Lingkaran Sahabat (Palingsah) Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo Pr, program BKSY diluncurkan secara resmi pada 30 November 2013 oleh Mgr Suharyo, uskup untuk Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Palingsah membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mempersiapkan program tersebut.

“Sebetulnya pada waktu Mgr Suharyo ditunjuk sebagai uskup koajutor untuk KAJ, kami – teman angkatan, bekas murid – ingin mendampingi, mengisi kira-kira hal strategis apa yang butuh perhatian dari beliau,” kata Theodorus Wiryawan, penggerak program BKSY.

“Kami ngobrol segala macam. Salah satunya di Jakarta perlu ditanamkan gerakan Gereja yang bukan hanya berfokus pada gerakan sekitar altar, tetapi bagaimana gerakan bisa membangun kepedulian,” lanjut umat Paroki Kristus Raja di Pejompongan, Jakarta Pusat, itu.

Akhirnya, belarasa menjadi penekanan.

“Terutama kita memang memberikan bantuan kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Itu yang ditekankan. Kita melihat apa kebutuhan mereka, salah satunya adalah bagaimana harkat manusia mereka tetap terpenuhi ketika mereka meninggal dunia,” kata Wiryawan.

Ketika Mgr Suharyo mulai melayani KAJ pada 28 Juni 2010, ia menekankan nilai-nilai “semakin beriman, semakin bersaudara dan semakin berbelarasa.”

“Kalau orang mengaku beriman, tetapi tidak hidup dan mengusahakan berkembangnya persaudaraan, imannya dapat diberi tanda tanya besar. Demikian juga persaudaraan yang sejati ada indikator-indikatornya. Salah satu indikator yang amat penting adalah belarasa,” katanya.

Menurut prelatus itu, jika seseorang mengaku bersaudara atau merindukan persaudaraan tetapi ia tidak bertumbuh dalam belarasa, persaudaraannya dipertanyakan. 

“Ketika seseorang bertumbuh dalam iman, semakin bersaudara dan semakin berbelarasa, dalam dirinya masing-masing dan bersama-sama akan muncul pertanyaan: ‘Apa yang harus kita lakukan supaya lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi?’ Pertanyaan inilah yang oleh teman-teman pemrakarsa dan para rasul BKSY secara konkret ditunjukkan dalam Gerakan BerKhat Santo Yusup,” katanya.

Selain itu, program BKSY tidak terlepas dari sosok St. Andreas Rasul yang pestanya diperingati pada tanggal peluncuran program tersebut. 

“Dipilihnya tanggal 30 November bukannya tanpa sebab. Kita tahu bahwa Andreas adalah salah satu murid Yesus yang membawa lima roti dan dua ikan dari anak kecil yang hadir dalam pengajaran Yesus,” kata Romo Joseph Kristanto Pr, moderator program BKSY, seperti dikutip dalam Buku Saku BKSY.

“Anak kecil dalam Injil Yohanes (6:8) tadi mengajarkan kepada kita sikap berbagi, belarasa, belas kasih dan gotong royong. Kita semua dipanggil untuk menjadi Andreas-Andreas jaman now yang mampu menjadi rasul-rasul BKSY di tempatnya masing-masing,” lanjutnya.  

“Pending coffee”

Namun jumlah anggota program BKSY masih cukup rendah. Keberlangsungan program ini sempat menjadi isu meskipun program ini bekerjasama dengan sebuah perusahaan asuransi ternama.

Menurut pengurus Sekretariat BKSY, Franciscus Caratiolo Purwanto, sedikitnya 20 anggota program BKSY meninggal setiap bulan dan kebanyakan dari mereka menerima bantuan dana kematian.

Untuk mengatasi isu tersebut, program BKSY menerima bantuan dari umat Katolik yang mampu secara finansial melalui kegiatan pending coffee. 

“Semangat kami adalah Lukas 6:36: ‘Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.’ Kemurahan hati ini diwujudkan dalam kepedulian terhadap orang lain,” kata umat dari Paroki St. Barnabas di Pamulang, Tangerang Selatan, itu.

Wiryawan menambahkan bahwa melalui kegiatan pending coffee, kepedulian dibangun lewat kegiatan sehari-hari. Misalnya, ketika seorang imam merayakan ulang tahun imamat, ucapan selamat dari umat Katolik berupa sumbangan dana.

“Waktu itu terkumpul sekitar 90 juta rupiah dalam waktu dua minggu,” katanya.

Ke depan, program BKSY akan merangkul semakin banyak umat Katolik di KAJ dan keuskupan-keuskupan lain di Indonesia.

Saat ini, sekitar 3.000 umat Katolik dari tiga paroki di Keuskupan Agung Semarang (KAS) telah menjadi anggota program BKSY.

“Bapak Uskup nelihat BerKhat Santo Yusup ini lebih daripada karitatif karena sebetulnya melalui BKSY kami mau mengajak umat untuk menjadi umat yang peduli kepada sesama,” kata Heribertus Kasyanto, salah satu inisiator program BKSY. 

“Yang diharapkan, kita sebagai umat Katolik meniru apa yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus. Contohnya, Yesus kalau melihat orang susah, Ia tidak hanya memperhatikan tapi juga berbuat sesuatu,” tegas umat Paroki St. Anna di Duren Sawit, Jakarta Timur, itu.

Oleh: Katharina R. Lestari

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi