UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kondisi Kesehatan Sejumlah Tapol di Vietnam Memburuk

Agustus 30, 2019

Kondisi Kesehatan Sejumlah Tapol di Vietnam Memburuk

Pada 19 Januari 2017, Nguyen Van Tuc membawa poster untuk mengenang tentara Vietnam yang dibunuh oleh tentara Cina di Kepulauan Paracel pada 1974. Isterinya mengatakan Tuc sakit parah dan merasa akan meninggal ketika ia mengunjungi Tuc kembali nanti. (Foto: Thuy An Nguyen)

Kondisi kesehatan sejumlah tahanan politik (tapol) di Vietnam menurun drastis akibat perlakukan buruk dalam tahanan pasca-aksi mogok makan.

Bui Thi Re mengatakan kondisi kesehatan suaminya, Nguyen Van Tuc, “sangat buruk” dan “tidak sadar selama beberapa jam, hampir meninggal.”

Re dan dua saudara kandungnya mengunjungi Tuc di Lapas No. 6 yang terletak di Thanh Chuong, Propinsi Nghe An, pada Rabu (28/8).

Ia mengatakan suaminya yang berumur 59 tahun menderita penyakit kardivaskular, ambeien and gangguan penglihatan. Suaminya mungkin tidak bisa bertahan hidup ketika ia dan dua saudara kandungnya mengunjunginya kembali nanti.

Menurut Tuc, ia dihukum penjara 13 tahun dan menjalani hukuman percobaan lima tahun setelah melakukan berbagai kegiatan untuk menggulingkan pemerintahan komunis pada 2018. Penderitaannya semakin memburuk setelah teman satu selnya memperlakukannya seperti seorang musuh.

Teman satu selnya tengah menjalani masa hukuman terkait narkoba. Tetapi ketika Tuc – yang adalah seorang aktivis pro-demokrasi – meminta otoritas penjara untuk memindahkannya ke sel lain, permintaannya ditolak.

Hak diabaikan

Re mengatakan petugas keamanan mengelilinginya dan dua saudara kandungnya saat mereka mengunjungi suaminya. Petugas keamanan meminta mereka untuk tidak membicarakan isu sosial dan politik.

Ia juga mengatakan petugas keamanan membatasi kunjungan mereka hanya 45 menit, sementara undang-undang mengatur kunjungan selama 60 menit. Alasan petugas keamanan adalah suaminya tengah dihukum karena tidak memperlihatkan kemajuan dalam “pendidikan ulang” dan tidak mau mengakui bahwa ia bersalah.

Petugas keamanan, lanjutnya, kemudian mengancam jika suaminya tidak mau berubah, suaminya akan dilarang bertemu dengan anggota keluarganya lagi. 

Anggota keluarga memiliki hak untuk mengunjungi narapidana sekali dalam sebulan.

Re mengatakan petugas keamanan mengijinkan suaminya menerima hanya lima kilogram makanan dan bahan pokok lainnya dari anggota keluarganya.

Sebelum kunjungan berakhir, lanjutnya, suaminya bersikeras bahwa ia menjalin hubungan baik dengan karyawan dan tidak akan mengecewakan mereka sebelum meninggal.

Sebelumnya, Tuc dan beberapa tapol lainnya melakukan aksi mogok makan untuk memprotes otoritas penjara yang memindahkan kipas angin dari sel mereka meskipun suhu mencapai 42 derajat Celcius. Tuc dan beberapa tapol lainnya bertahan sampai kipas angin dipasang kembali beberapa minggu kemudian.

“Bebaskan mereka sekarang”

Kisah serupa diceritakan oleh Nguyen Kim Thanh. Ia mengatakan suaminya, Truong Minh Duc, juga seorang tapol yang tengah ditahan di penjara yang sama dan kesehatannya memburuk bahkan menderita serangan jantung.

Ia mengatakan suaminya – yang adalah seorang awam Katolik berusia 59 tahun – “dihukum” karena memprotes otoritas penjara ketika mereka mempercepat waktu kunjungannya awal Agustus lalu.

Ia juga menuduh otoritas penjara menunda pengiriman makanan dan surat darinya supaya suaminya semakin tertekan.

Pada 27 Agustus, Human Rights Watch (HRW) mengatakan sekitar 131 aktivis masih ditahan di negara itu hanya karena mereka menggunakan hak mereka. HRW meminta pemerintah untuk “segera membebaskan semua tapol dan narapidana.”

Menurut HRW, ada beberapa kasus mendesak seperti narapidana yang membutuhkan bantuan kesehatan segera karena kondisi kesehatan mereka termasuk Tuc dan tiga tapol lainnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi