UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Dibunuh 63 Tahun Lalu, Pastor Beeker Selalu Dikenang Umat Lembata

September 3, 2019

Dibunuh 63 Tahun Lalu, Pastor Beeker Selalu Dikenang Umat Lembata

Setiap hari banyak umat Katolik mengunjungi taman doa Pastor Beeker di Lembata, Nusa Tenggara Timur, untuk berdoa. (Foto: Handrianus Atagoran/ucanews.com)

Setiap Selasa pagi, Maria Gelu Ladjar, 87, mengunjungi taman doa misionaris asal Belanda, Pastor Hendricus Coenradus Beeker SVD yang dibunuh 63 tahun lalu.

Taman doa ini yang terletak di samping kapel Stasi Watuwawer dikelola oleh Paroki Hati Yesus Amat Kudus Lerek di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Baginya, imam itu adalah orang suci yang memainkan peran besar dalam hidupnya, juga masyarakat setempat.

Salah satu hal yang selalu diingat Maria adalah bagaimana imam meramalkan apa yang akan terjadi pada keluarganya.

“Dia pernah mengatakan kepada saya, ‘Maria, salah satu anakmu suatu hari akan menjadi seorang imam,’” katanya kepada ucanews.com.

Pastor Beeker kembali mengatakan hal yang sama lewat mimpi usai imam itu meninggal.

Dan, faktanya, hal itu memang menjadi nyata. Salah satu putra Maria, Hengki Tobotani, ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1986 dan sekarang bekerja di Kalimantan.

“Itu mendorong saya untuk terus berdoa memohon bimbingannya,” katanya.

Lusia Selaka Lebao, 69, Ketua Kelompok Doa St Ana, yang memiliki jadwal rutin berdoa di taman itu mengaku merasakan hal mistis saat mengunjungi taman doa itu.

“Pada saat kami berdoa, kami mencium bau parfum yang harum,” ungkap Lusia.

Hal itu, kata dia, mereka yakini sebagai tanda kehadiran Pastor Beeker.

Selain itu, pada sore hari, katanya, beberapa kali ada umat yang melihat Pater Beeker berjalan di sekitar gereja dan taman doa sambil memegang brevir, buku doa harian untuk kaum religius.

Karena hal itu, jelasnya, para orangtua di Watuwawer melarang anak-anak mereka bermain di sekitar taman doa pada sore hari.

“Kami yakin, saat itulah waktunya pater untuk berdoa,” kisah Lusia. 

Maria Gelu Ladjar, 87, salah seorang umat, mengatakan Pastor Beeker memiliki pengaruh besar dalam hidupnya. (Foto: Handrianus Atagoran/ucanews.com)

Meninggal Mengenaskan

Pastor Beeker meninggal secara mengenaskan pada 19 April 1956 saat ia berusia 44 tahun.

Ia dibunuh oleh Bernadus Baha Luga, seorang pemuda yang sebelumnya ia bantu untuk mengikuti kursus keterampilan.

Piter Ata Tukan, salah satu tokoh masyarakat di Stasi Watuwawer yang masih kecil saat peristiwa itu terjadi mengisahkan kepad ucanews.com apa yang terjadi.

“Saat itu Pater Beeker sedang berdoa di kamarnya. Bernadus kemudian mengetok pintu dan saat pintu dibuka, ia menjabat tangan pastor itu lalu membacoknya dengan parang.”

“Pater Beeker langsung terkapar. Darahpun mengalir.”

Pembunuhan itu terjadi persis sehari sebelum perayaan Sakramen Komuni Pertama bagi anak-anak Stasi Watuwawer.

Pemicunya, kata Tukan, diduga karena beberapa saat sebelumnya, Pater Beeker bersama seorang asistennya memarahi Bernardus yang mencuri sejumlah barang milik seorang bruder misionaris di Lewoleba.

Kematian Pastor Beeker meninggalkan duka mendalam bagi umat.

“Bahkan stigma sebagai pembunuh melekat erat pada diri umat Stasi Watuwawer karena aksi keji Bernadus,” kata Tukan.

Janazahnya yang diantar ke Larantuka dengan perahu tradisional, diiringi tangis pilu ribuan umat. Ia dimakamkan oleh Mgr Gabriel Manek SVD, orang Indonesia kedua yang menjadi uskup, yang juga pendiri Tarekat Puteri Reinha Rosari (PRR).

Berbardus kemudian diasingkan ke Nusakambangan dan baru kembali ke kampung halamannya pada tahun 1999, di mana dia harus menjalani upacara adat glete kera, simbol pembersihannya dari dosa berat.

Karena kecintaan umat pada Pastor Beeker, pada tahun 1996, bertepatan dengan peringatan 40 tahun kematiannya, umat Paroki Lerek membangun taman doa.

Pada usia kematian Pater Beeker yang ke-50, kuburnya dipindahkan ke taman doa.

Tukan mengatakan, “dengan adanya taman ziarah ini menungkinkan generasi yang akan datang turut merasakan hadirnya Pater Beeker di Paroki Lerek ini.”

Berkontribusi Bagi Gereja Awal

Sejak hadir di Lembata tahun 1940, lima tahun sebelum Indonesia merdeka, Pastor Beeker berupaya memberi prioritas pada pengembangan keterampilan dan pendididikan.

Ia mengirim sejumlah kaum muda ke Larantuka untuk belajar pertukangan di bengkel milik Gereja.

Selain itu, ia mendirikan sekolah dasar di Watuwawer pada tahun 1948, dan di Atawolo pada tahun 1954, yang hingga kini masih bertahan.

Untuk menangani sekolah-sekolah itu, ia mengirim sebagian pemuda untuk belajar pendidikan guru sekolah dasar, yang kemudian menjadi tenaga terdepan dalam menjalankan tugas di bidang pendidikan dan menyebarkan ajaran Katolik pada masyarakat setempat kala itu yang masih percaya pada tahayul.

Piter mengatakan, “umat di sini pada masa itu merasakan kehadiran Pater Beeker sebagai kehadiran Allah sendiri.” 

“Ia berbicara sangat fasih dalam bahasa kami,” katanya.

Piter menjelaskan, yang juga dikenang adalah, bagaimana ia menyebarkan ajaran Katolik kepada 

Di taman doa saat ini, saban hari, orang silih berganti berdoa.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur pun telah memasukkannya ke dalam daftar tujuan wisata religi.

Pastor Paroki Lerek, Romo Pius Laba Buri, Pr yang sudah 10 tahun bertugas di tempat itu mengatakan, cerita tentang Pater Beeker terus hidup dalam diri umat setempat dan dikisahkan turun-termurun.

Hal ini, kata dia, juga terbukti dengan banyaknya umat yang berdoa di makamnya.

Karena perannya dalam meletakkan dasar Kekatolikan di paroki itu, sebelum pergi patroli ke setiap stasi, ia selalu selalu berbicara dengan beliau.

“Saya katakan, Pater sudah memulainya, maka biarkan kami melanjutkan karya pelayanan yang telah pater rintis,” ungkapnya.

Peringatan kematian Pater Beeker pada 19 April, kata dia, juga dirayakan secara khusus di paroki.

Martin Breok Lamak, 35, salah seorang umat Paroki Lerek mengatakan, meskipun tidak menyaksikan langsung Pater Beeker, namun kisah yang diwariskan terus-menerus, membuat ia merasa dekat dengan misionaris itu.

“Saya semakin yakin bahwa tempat doa ini menjadi sakral karena Pater Beeker telah mengubah banyak hal di sini,” kata Martin yang rutin mengunjungi taman doa itu.

Handrianus Atagoran, Lembata

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi