UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Ratusan Biarawati di India Protes Liputan Media yang Diskreditkan Kaum Religius

September 9, 2019

Ratusan Biarawati di India Protes Liputan Media yang Diskreditkan Kaum Religius

Sekitar 500 religius Katolik melakukan protes di depan kantor surat kabar Mathrubhumi di Kerala pada 4 September.

Ratusan umat Katolik -sebagian besar anggota tarekat religius- berdemonstrasi di jalan umum di negara bagian Kerala, India untuk memprotes apa yang mereka sebut kampanye disinformasi media yang disengaja untuk menghina dan mendiskreditkan kehidupan kaum religius Katolik.

Dengan lilin yang menyala, doa, orasi, dan nyanyian pujian, sekitar 500 religius, kebanyakan biarawati dari lebih dari 50 kongregasi, berkumpul di depan kantor Mathrubhumi (tanah air), sebuah surat kabar harian terkemuka, di kota Kannur pekan lalu.

“Kami sangat menentang cara surat kabar itu menyampaikan informasi tentang kehidupan religius Katolik,” kata Pastor Varghese Vallikkatt, juru bicara Dewan Uskup Katolik Kerala.

Dia mengatakan alasan mendasar dari aksi protes itu adalah pemberitaan edisi 1 September surat kabar itu tentang kehidupan para pastor dan suster yang telah mengambil kaul kemurnian, kemiskinan dan ketaatan.

Media itu menerbitkan sebuah wawancara dengan biarawati Katolik Suster Lucy Kalapura, yang diberhentikan dari Kongregasi Fransiskan Klaris (FCC) karena melanggar kaul ketaatan dan kemiskinannya.

Dalam wawancara tersebut biarawati itu menyerukan revisi atas kaul religius untuk mencerminkan kehidupan modern. Dia masih tinggal di biaranya di Kerala sambil menunggu keputusan bandingnya di Vatikan.

Pastor Vallikkatt mengatakan, artikel itu membenarkan langkah-langkah pemberontakan dan pembangkangan terhadap peraturan, sementara ada ribuan orang-orang religius yang mengikuti kaul mereka.

“Liputan harian tersebut dalam dua tahun terakhir telah ditujukan untuk memfitnah dan mendiskreditkan kehidupan religius Katolik,” kata imam itu.

“Kami memahami hal itu sebagai kampanye menentang kehidupan religius Katolik.”

Suster Emestina, superior jenderal Dina Sevana Sabha (Hamba Orang Hina Dina), mengatakan kepada ucanews.com bahwa surat kabar dan outlet media lainnya “menggunakan insiden yang terisolasi sebagai alasan untuk membenci kehidupan religius Katolik.”

Sebagian besar liputan media, katanya, menghadirkan kaum religius Katolik sebagai sekelompok orang yang kecewa yang menderita di dalam biara yang dikendalikan oleh atasan yang mengikuti sistem dan aturan yang ketinggalan zaman.

“Itu sangat tidak benar. Kami memilih jalan kehidupan ini atas kehendak bebas kami sendiri dan kami menjalani kehidupan yang penuh kepuasan dalam melayani orang lain, ”Sister Emestina mengatakan.

Provinsial FCC, Suster Noble Mary mengatakan kepada ucanews.com bahwa dalam wawancaranya Suster Kalapura telah mencoba memproyeksikan seluruh kehidupan religius sebagai perselisihan dan perbudakan.

Dia mengatakan FCC sendiri memiliki 7.300 biarawati yang menikrarkan kaul.

“Sangat menyakitkan ketika media hanya melihat pandangan seorang pemberontak untuk menodai citra beberapa ribu orang yang menjalani kehidupan religius dengan bahagia.”

Media di negara bagian selatan menyoroti kasus Suster Kalapura setelah dia menghubungkan pemecatannya dengan protes publik terhadap Uskup Franco Mulakkal dari Jalandhar, yang dituduh memperkosa seorang biarawati di sebuah tarekat diosesan – Misionaris Yesus – yang berada di bawah asuhannya.

Suster Kalapura bersikukuh bahwa FCC memulai tindakan terhadapnya setelah dia mendukung protes secara publik dari lima suster Misionaris Yesus psfs September lalu yang menuntut penangkapan uskup.

Prelatus itu akhirnya ditangkap dan didakwa tetapi bebas dengan jaminan dan tengah menghadapi proses pengadilan.

Di media arus utama dan media sosial, para biarawati digambarkan sebagai korban yang terperangkap dalam biara di bawah sistem patriarki kuno, yang sering dieksploitasi oleh para imam dan uskup.

“Kami kesal dan sangat kecewa dengan laporan bias yang mengirim pesan negatif tentang kehidupan religius Katolik kepada orang-orang yang sama sekali tidak tahu tentang agama Katolik dan kehidupan asketis,” kata Pastor Joseph D’Cruz, seorang imam di Keuskupan Kannur.

Pastor D’Cruz, yang berada di antara 20 pastor yang mendukung para suster pada protes 4 September itu, mengatakan kepada ucanews.com bahwa mereka telah mengumpulkan tanda tangan para pengunjuk rasa untuk dikirim ke manajemen Mathrubhumi.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi